Kurir JNE dibegal di Bandung, namun mendapat motor baru sebagai apresiasi. JNE menekankan keselamatan kurir dan berkoordinasi dengan polisi untuk penyelesaian kasus. [338] url asal
Bisnis.com, BANDUNG - Manajemen JNE menyatakan keprihatinan mendalam sekaligus mengecam keras aksi pembegalan yang menimpa salah satu kurirnya, Hasan Alnazhari, saat tengah menjalankan tugas pengantaran di kawasan Astana Anyar, Kota Bandung, pada Minggu (3/5/2026) lalu.
Sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan dukungan moral, perusahaan memberikan satu unit sepeda motor baru kepada Hasan.
Penyerahan bantuan tersebut dilakukan secara simbolis oleh Presiden Direktur JNE M. Feriadi Soeprapto, didampingi Direktur JNE Edi Santoso, Human Capital Development Division Head JNE Fikri Al Haq Fachryana, Human Capital Operation Division Head Agustinus Ayung Prasetio, serta Kepala Cabang JNE Bandung Iyus Rustandi di Kantor Pusat JNE, Jakarta Barat.
Presiden Direktur JNE M. Feriadi Soeprapto menjelaskan langkah cepat ini diambil sebagai wujud tanggung jawab perusahaan yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keselamatan kerja. Selain pemberian unit kendaraan, JNE juga memberikan pendampingan intensif dan dukungan psikologis bagi korban yang mengalami trauma akibat insiden kriminal tersebut.
Ia menegaskan keselamatan garda terdepan logistik merupakan prioritas utama perusahaan. Ia berharap bantuan ini dapat meringankan beban korban dan memulihkan semangat dalam bekerja.
“JNE mengecam keras segala bentuk tindak kriminal, khususnya yang membahayakan keselamatan karyawan/ti kami yang sedang menjalankan tugas. Keselamatan kurir adalah prioritas utama perusahaan,” tegas Feriadi.
Feriadi menambahkan pihaknya akan terus memantau perkembangan kasus ini hingga tuntas.
“Kami memastikan korban mendapatkan pendampingan yang dibutuhkan, baik secara fisik maupun psikologis, harapannya dengan pemberian unit motor ini dapat membantu meringankan beban karyawan kami. JNE juga akan terus berkoordinasi dengan pihak berwenang agar kasus ini dapat segera dituntaskan,” tuturnya.
Peristiwa ini menurut dia menjadi refleksi penting bagi seluruh pemangku kepentingan mengenai urgensi menjaga keamanan bagi para pekerja lapangan.
JNE turut menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pihak kepolisian, khususnya Polsek Astana Anyar Bandung, yang telah bergerak maksimal dalam memproses hukum kasus pembegalan ini.
Melalui semangat Connecting Happiness, pihaknya memastikan untuk terus menghadirkan layanan logistik prima sembari memastikan perlindungan maksimal bagi seluruh karyawan di seluruh pelosok Indonesia.
Pihak manajemen berharap kerja sama dengan masyarakat dan aparat penegak hukum dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman bagi para pejuang logistik di masa mendatang.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memberikan perhatian dan pendampingan menyeluruh bagi para korban dan warga sekolah SMAN 72 Jakarta pasca-insiden ledakan yang terjadi beberapa waktu lalu. Berbagai langkah cepat telah dilakukan untuk memastikan proses pemulihan fisik dan psikologis berjalan optimal.
Hingga saat ini, tercatat 30 korban masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, yakni 14 orang di Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih, 15 orang di RS Yarsi, dan 1 orang di RS Pertamina Jaya. Pemprov DKI Jakarta memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis terbaik serta pemantauan kondisi secara berkelanjutan.
Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta, Iin Mutmainnah menyampaikan, pihaknya akan memberikan dukungan psikologis selama masa pemulihan, termasuk saat pembelajaran jarak jauh (PJJ) berlangsung. Ia menambahkan, Mobil SAPA (Sahabat Perempuan dan Anak) juga telah dihadirkan di lingkungan sekolah untuk memberikan dukungan psikis kepada siswa, guru, serta keluarga terdampak, termasuk kepada warga sekitar yang memerlukan konseling secara gratis.
"Kami akan menyiapkan dukungan psikolog untuk mendampingi anak-anak selama PJJ dan proses pemulihan di sekolah," ujarnya di Jakarta, Minggu (09/11/2025).
Dia menambahkan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta telah menyiapkan jadwal pendampingan klinis serta menurunkan tenaga medis bagi korban yang masih memerlukan perawatan lanjutan. Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga berkoordinasi dengan Mabes Polri dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) untuk memastikan ketersediaan tenaga psikolog guna mendampingi proses pemulihan para korban secara menyeluruh.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana, menyampaikan hingga hari ini, lokasi SMAN 72 masih dalam proses pengamanan dan sterilisasi oleh pihak kepolisian. Melihat kondisi tersebut, Nahdiana menegaskan kegiatan belajar mengajar akan dilaksanakan secara daring (online) mulai Senin, 10 November 2025, hingga kondisi sekolah telah dinyatakan dapat digunakan kembali.
"Pembelajaran akan difokuskan pada proses pemulihan dan persiapan mental siswa sebelum kembali ke sekolah. Pembelajaran di kelas nantinya akan diisi oleh wali kelas dan psikolog dengan pembelajaran yang dikemas dengan memberikan ruang interaksi lebih dekat, seperti olahraga dan seni, agar anak-anak dapat pulih dan kembali merasa aman," ucap Nahdiana.
Dirinya melanjutkan, sebelum kegiatan belajar dimulai, pihak sekolah juga akan mengundang orang tua siswa untuk memberikan pemahaman mengenai langkah-langkah pemulihan yang dilakukan bersama pihak sekolah, psikolog, serta unsur wilayah setempat.
"Saat ini, para petugas dari Dinas Kesehatan dan Dinas PPAPP telah berjaga di lokasi untuk memastikan pendampingan berjalan baik," tukasnya.
Dalam memastikan pendampingan berjalan lancar, Pemprov DKI Jakarta berkomitmen untuk terus mendampingi seluruh korban, guru, dan siswa SMAN 72 Jakarta agar dapat pulih sepenuhnya, baik secara fisik maupun psikologis, serta kembali menjalani kegiatan belajar dengan aman dan nyaman.
Jakarta, CNBC Indonesia - Bunuh diri kini menjadi penyebab kematian tertinggi di antara warga Korea Selatan berusia 40-an. Tekanan finansial yang meningkat serta ekspektasi sosial dan budaya disebut menjadi faktor utama di balik tren mengkhawatirkan ini.
Mengutip Korea JoongAng Daily, data terbaru menunjukkan, sepanjang tahun lalu terdapat 2.817 kasus bunuh diri di kelompok usia tersebut, setara dengan sekitar 36,2 kasus per 100.000 orang. Angka ini mencakup 26% dari total kematian di kalangan usia 40-an, menempatkannya di posisi pertama penyebab kematian. Kanker berada di posisi kedua dengan 24,5%, disusul penyakit hati dengan 8,7%.
Para ahli menyebut usia 40-an menjadi fase yang paling berat karena banyak warga berada di posisi "terjepit" yakni menanggung beban sebagai pencari nafkah utama, harus mendukung orang tua yang sudah tidak bekerja, sekaligus membiayai anak-anak yang masih sekolah. Situasi ini diperparah oleh penurunan pendapatan dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi.
"Orang-orang berusia 40-an mengalami krisis keuangan Asia tahun 1997 dan penurunan lapangan kerja berikutnya, serta fluktuasi pasar properti - yang semuanya secara struktural merampas kesempatan mereka untuk mengumpulkan kekayaan dan memperoleh penghasilan yang stabil," kata Jung Sun-jae, seorang ahli epidemiologi dan profesor di Universitas Yonsei, dikutip dari Korea JoongAng Daily, Sabtu (1/11/2025).
Sementara Park Jong-ik, mantan kepala badan pencegahan bunuh diri di bawah Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan sekaligus profesor psikiatri di Rumah Sakit Universitas Nasional Kangwon, mengatakan pasien berusia 40-an cenderung lebih sering mengungkapkan "distres terkait faktor ekonomi" dibandingkan kelompok usia lainnya.
"Mereka yang berusia 40-an merasa tidak aman dengan pekerjaan mereka karena mereka melihat pensiun paksa yang dialami mereka yang berusia 50-an," kata Park.
"Dalam situasi ini, Korea memiliki jumlah wiraswasta yang relatif besar di usia 40-an dan 50-an."
Meskipun tekanan ekonomi berdampak pada kedua jenis kelamin, tekanan tersebut dapat sangat merugikan bagi pria, yang masih sering diharapkan memikul sebagian besar tanggung jawab keuangan keluarga.
Rata-rata pendapatan bulanan kepala rumah tangga wiraswasta usia 40-an pada kuartal ketiga tahun lalu hanya 1,07 juta won atau sekitar US$745, turun 13,1% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini menjadi yang paling tajam sejak data mulai dicatat pada 2006. Selain itu, survei platform kerja menunjukkan 89,3% responden berusia 40-an merasa tidak aman dengan kondisi pekerjaan mereka.
Dari sisi budaya, generasi ini tumbuh dengan keyakinan bahwa kerja keras akan membawa hasil. Namun realitas ekonomi yang stagnan membuat banyak dari mereka merasa terjebak dan kehilangan harapan. Tekanan semakin berat bagi pria usia 40-an, yang secara tradisional dipandang sebagai pencari nafkah utama keluarga. Angka bunuh diri pada pria di kelompok usia ini mencapai 51,1 per 100.000 orang, jauh di atas perempuan yang berada di level 20,9 per 100.000.
Para ahli menilai, upaya penanggulangan harus melampaui pendekatan psikologis semata. Diperlukan kebijakan yang menyentuh akar struktural, seperti dukungan ekonomi, bantuan pekerjaan, serta layanan kesehatan mental yang lebih mudah diakses, termasuk di luar jam kerja. Perubahan norma sosial juga dinilai penting, khususnya dalam menghapus stigma terhadap laki-laki yang mencari bantuan psikologis.
Meski bunuh diri menduduki posisi teratas sebagai penyebab kematian di usia 40-an, tren ini tidak semata karena lonjakan besar kasus, melainkan karena menurunnya angka kematian akibat penyakit lain. Namun demikian, efektivitas program pencegahan yang ada dinilai masih terbatas karena lebih banyak fokus pada penanganan setelah kejadian terjadi.
Secara keseluruhan, tingkat bunuh diri di Korea Selatan pada 2024 tercatat 29,1 per 100.000 penduduk - tertinggi dalam 13 tahun terakhir dan hampir tiga kali lipat dari rata-rata negara OECD yang berada di level 10,7 per 100.000. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan bunuh diri bukan hanya isu kesehatan mental, tetapi juga mencerminkan tekanan ekonomi dan ketimpangan sosial yang terus meningkat.
Perlu diketahui, data WHO menunjukkan Korea Selatan merupakan negara tingkat bunuh diri tertinggi secara keseluruhan pada 2021, dan tertinggi di antara negara Asia.
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56