Sepanjang 2025, sejumlah emiten seperti RAJA, WIFI hingga WSKT melakukan divestasi untuk optimalisasi portofolio dan restrukturisasi bisnis. [1,633] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah perusahaan tercatat di lantai bursa melakukan aksi divestasi atau pelepasan kepemilikan saham anak usaha. Sepanjang 2025 ini, emiten yang melakukan aksi korporasi ini antara lain ada PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) hingga PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT).
Melansir data dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), divestasi anak usaha tersebut dilakukan dengan tujuan beragam, mulai dari optimalisasi portofolio usaha, untuk membawa anak usaha melantai di bursa, hingga langkah restrukturisasi.
Januari-Maret 2025: Divestasi Bertahap RAJA
Mengawali 2025, pada 8 Januari ada PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) yang resmi melepas 13% kepemilikan sahamnya pada PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) untuk dilepas ke publik. Saat IPO, RATU menawarkan sebanyak-banyaknya 543,01 juta saham (20%) kepada publik, terdiri dari 352,95 (13%) juta saham milik RAJA dan 190,05 juta saham (7%) merupakan saham baru.
Berikutnya, pada 5 Maret 2025 RAJA kembali melepas kepemilikan saham sebesar 4,66% dalam RATU atau sebanyak 126,52 juta saham. Usai transaksi divestasi ini, kepemilikan saham RAJA menjadi 75,34%. Kemudian, pada 17 Maret 2025 RAJA kembali melakukan divestasi atas 5,34% kepemilikan saham di RATU. Kali ini, kepemilikan RAJA terdilusi menjadi 70% namun tetap berstatus sebagai pemegang saham utama.
Corporate Secretary Rukun Raharja, Yuni Pattinasarani mengatakan divestasi tersebut sejalan dengan rencana perseroan yang melepas secara bertahap 10% saham kepemilikan RATU usai anak usahanya tersebut tercatat di lantai bursa.
"Pelepasan saham RATU menjadi salah satu strategi perseroan untuk mendukung pertumbuhan anak perusahaannya itu lewat sinergi bisnis dan kolaborasi strategis. Selain itu, perseroan tetap berkomitmen untuk menjaga operasional dan keuangan RATU dengan terus memberikan arahan strategis yang selaras dengan visi jangka panjang perusahaan, dan memastikan RATU terus berkembang dalam ekosistem industri energi yang semakin kompetitif," ujar Yuni beberapa waktu lalu.
Mei-Juli 2025: SOHO & BBKP Lepas Anak Usaha
Pada 22 Mei 2025, emiten kesehatan PT Soho Global Health Tbk. (SOHO) menjual seluruh saham kepemilikannya di anak usaha PT Soho Industri Pharmasi (PT SIP) pada PT AstraZeneca Indonesia dengan nilai US$1,84 juta, atau setara Rp30,86 miliar (kurs Rp16.772,30 per dolar AS).
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Soho Global Health Yuliana mengungkapkan transaksi divestasi saham itu tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional, posisi hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha SOHO maupun PT SIP.
“Hasil transaksi ini akan dicatat sebagai pendapatan non- operasional perseroan.” ujarnya.
Kemudian, pada 1 Juli 2025 emiten bank PT Bank KB Bukopin Tbk. (BBKP) menandatangani perjanjian jual beli saham dengan perusahaan keuangan asal Korea Selatan, JB Woori Capital untuk melepas 85% kepemilikan saham BBKP dalam anak usahanya, PT KB Bukopin Finance.
Manajemen menjabarkan, divestasi tersebut merupakan langkah strategis yang ditempuh SOHO dalam rangka memperkuat struktur permodalan, serta sebagai bagian dari upaya optimalisasi portofolio entitas anak usaha agar sejalan dengan fokus pengembangan bisnis utama perseroan.
September 2025: WIFI Lepas 3 Anak Usaha, WSKT Restrukturisasi
Pada 24 September 2025 PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) mengumumkan divestasi atas tiga anak usaha. Pertama, anak usaha perseroan PT Integrasi Media Terkini (PT ITM). Melalui perjanjian jual beli saham 19 September 2025 dan 24 September 2025, WIFI mengalihkan sahamnya kepada PT Investasi Gemilang Maju (IMG) dengan nilai Rp599 juta. Tidak ada hubungan afiliasi antara WIFI dengan IGM selaku pembeli.
Kedua, anak usaha WIFI, PT Kreasi Digital (KKD) juga melakukan divestasi anak usahanya PT Inti Kopi Indonesia (IKI). KKD mengalihkan sahamnya kepada PT Investasi Gemilang Maju (IGM) dengan nilai transaksi Rp594 juta.
Ketiga, WIFI juga melakukan divestasi saham pada anak usaha, PT Aspek Media Indonesia (AMI). Berdasarkan perjanjian jual beli saham yang dibuat pada tanggal 19 September
2025 dan 24 September 2025, perseroan mengalihkan seluruh sahamnya kepada PT Investasi Gemilang Maju (IGM) senilai Rp599 juta.
Sementara itu, pada 26 September 2025, PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) mengumumkan bahwa anak usahanya, PT Waskita Karya Infrastruktur (PT WKI) mengalihkan kepemilikannya atas 111.824 saham atau 94,7% saham PT Waskita Sangir Energi (PT WSE) kepada PT Shalawat Power (PT SP) dengan nilai Rp179,99 miliar.
WSKT merupakan induk PT WKI dengan kepemilikan 99,99%. Sementara PT SP merupakan perusahaan dengan kepemilikan saham sebesar 6.264 saham atau 5,30% pada PT WSE.
"Dengan dilakukan divestasi tersebut diharapkan akan memberikan dampak yang lebih baik bagi kondisi keuangan WKI. Elaborasi divestasi saham yang dilakukan WKI dilakukan dalam rangka restrukturisasi perusahaan secara menyeluruh demi menjaga keberlanjutan kegiatan operasional Grup Waskita," tulis manajemen.
Semarak Divestasi Akhir Tahun HDIT sampai EXCL
Memasuki kuartal IV 2025 jumlah perusahaan terbuka yang mengumumkan divestasi semakin banyak. Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, setidaknya ada lima emiten, mulai dari HDIT sampai EXCL.
Pada 21 November 2025, ada PT Hensel Davest Indonesia Tbk. (HDIT) yang mengumumkan telah melakukan transaksi pelepasan seluruh kepemilikan saham perseroan pada entitas anak, yaitu PT Doeku Peduli Indonesia (DPI) dengan nilai transaksi sebesar Rp18,50 miliar. Dengan terlaksananya transaksi tersebut, Perseroan tidak lagi memiliki hak kepemilikan maupun pengendalian terhadap PT Doeku Peduli Indonesia.
Manajemen menjelaskan, transaksi ini dilakukan sebagai bagian dari penataan portofolio usaha dan strategi HDIT dalam meningkatkan fokus pada lini bisnis inti serta optimalisasi struktur usaha perseroan. Transaksi divestasi ini juga tidak menimbulkan dampak negatif yang signifikan terhadap kegiatan operasional, kondisi hukum, maupun kelangsungan usaha perseroan.
"Dari sisi keuangan, transaksi ini memberikan tambahan likuiditas serta fleksibilitas bagi perseroan dalam mendukung kegiatan usaha ke depan. Perseroan memastikan bahwa transaksi ini tidak mengganggu kemampuan perseroan dalam memenuhi kewajiban finansial maupun operasional," tulis manajemen.
Kedua, ada PT M Cash Integrasi Tbk. (MCAS) yang pada 25 November 2025 melepas kepemilikan sahamnya dalam PT Satu Buat Negeri (SBN) kepada PT Digital Mediatama Maxima Tbk. (DMMX) dan PT Digital Consumer Engagement (DCE).
Perinciannya, perseroan menjual kepemilikan sahamnya pada PT SBN sebanyak 32.330 saham atau setara 32,33% kepemilikannya dengan nilai Rp6,78 miliar kepada DMMX. Selain itu, perseroan juga menjual kepemilikan sahamnya dalam PT SBN sebanyak 1.000 saham atau setara 1% kepemilikannya dengan nilai Rp210 juta kepada PT DCE.
Ketiga, ada PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL). Perseroan pada 4 Desember 2025 melaporkan telah menjual seluruh kepemilikan sahamnya di PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) dengan melepas sebanyak 4,33 miliar lembar saham.
Sekretaris Perusahaan EXCL Ranty Astari Rachman menyebut, perseroan telah menjual seluruh sahamnya di MORA dengan harga transaksi sebesar Rp432 per saham. Dengan demikian, EXCL meraup dana segar senilai Rp1,87 triliun.
Adapun, jumlah saham MORA yang dikempit EXCL sebelum transaksi adalah sebanyak 4,33 miliar lembar atau sebesar 18,32% dari jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh MORA. Dengan demikian, setelah transaksi tersebut terjadi, EXCL tidak lagi memiliki porsi saham langsung di MORA.
"Tujuan dari penjualan seluruh saham MORA tersebut adalah divestasi dengan status kepemilikan langsung," ujar Ranty.
Keempat, ada PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) yang pada 11 Desember 2025 menandatangani dokumen perjanjian jual beli atas 100% kepemilikan sahamnya di dalam PT Karya Pratama Propertindo kepada PT Puri Dibya Property dan PT Hartons Property Development.
Manajemen mengatakan transaksi tersebut memiliki dampak positif terhadap kegiatan operasional dan kondisi finansial perseroan di mana secara keuangan akan menambah posisi kas perseroan untuk mendukung operasional dan pengembangan usaha perseroan serta akan mengurangi beban utang perseroan.
Kelima, ada WSKT yang melanjutkan langkah restrukturisasinya. Pada 28 November 2025, WSKT melalui anak usahanya, PT Waskita Toll Road telah melepas saham PT Cimanggis Cibitung Tollways kepada PT Bakrie Toll Indonesia senilai Rp3,28 triliun.
Aksi korporasi ini meliputi penerimaan pengembalian shareholder loan dari PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) senilai Rp1,92 triliun, pengalihan saham CCT kepada PT Bakrie Toll Indonesia (BTI) Rp388,89 miliar, dan pengalihan piutang senilai Rp970,75 miliar.
Manajemen Waskita menyatakan bahwa aksi korporasi ini menjadi bagian penting dari strategi restrukturisasi dan transformasi bisnis. Selain itu, langkah tersebut juga memperkuat strategi perseroan untuk kembali ke bisnis inti.
“Dana hasil divestasi akan menambah likuiditas, sekaligus arus kas bagi operasional perseroan,” tulis manajemen.
Pada 19 Desember 2025, anak usaha WSKT, PT Waskita Karya Realty (PT WKR) juga menjual 82.674 saham atau setara 20% dari seluruh kepemilikannya di PT Waskita Modern Realty (PT WMR) kepada PT Asthana Griya Permasindo (PT AGP) dengan nilai Rp90,12 miliar.
WKR adalah anak usaha yang dimiliki WSKT dengan kepemilikan saham 99,99%. Divestasi Saham di WMR dilakukan dengan tujuan untuk melakukan optimalisasi portofolio investasi WSKT dan memperkuat posisi likuiditas WKR, guna mendukung pengembangan proyek-proyek strategis serta memberikan nilai tambah bagi WKR, WSKT dan para pemangku kepentingan terkait.
"Aksi korporasi ini menjadi bagian penting dari strategi restrukturisasi dan transformasi bisnis perseroan dan semakin memperkuat strategi perseroan untuk melakukan streamlining kepada entitas anak usaha demi menciptakan kegiatan operasional yang sustainable," ujar manajemen.
Waskita Karya (WSKT)
PTPP Umumkan Rencana Divestasi
Tidak hanya divestasi yang selesai, pada Desember 2025 juga terdapat emiten yang mengumumkan rencana aksi korporasi mereka. Emiten konstruksi pelat merah, PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) mengumumkan rencana pelepasan dua anak usaha.
Pertama, PTPP akan melepas 47,81% kepemilikan sahamnya di PT Celebes Railway Indonesia kepada PT Solra Energi Terbarukan (PT SET) dengan nilai transaksi mencapai Rp282,1 miliar. Kedua, rencana untuk divestasi 81% saham di PT PP Infrastruktur (PPIN) kepada PT Varsha Zamindo Laksana senilai Rp1,41 triliun. Langkah divestasi dengan total nilai transaksi Rp1,69 triliun ini merupakan bagian dari Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2025–2029.
Direktur Strategi Korporasi dan HCM PTPP, I Gede Upeksa Negara, menjelaskan bahwa saat ini rencana divestasi PT Celebes Railway Indonesia masih dalam tahap pemenuhan persyaratan pendahuluan (condition precedent/CP) yang tertuang dalam perjanjian jual beli saham bersyarat atau conditional share purchase agreement (CSPA). Sedangkan untuk divestasi PPIN, prosesnya juga dalam tahap pemenuhan CP serta uji tuntas lanjutan.
“Prosesnya masih cukup banyak yang harus diselesaikan untuk bisa masuk ke penandatangan SPA [share purchase agreement]. Kami perkirakan di triwulan pertama tahun depan,” ujarnya dalam konferensi pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Kamis (18/12/2025).
________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
PTPP divestasi aset non-inti Rp1,69 triliun untuk perkuat kas dan kurangi utang, sinyal positif bagi investor. Bagaimana prospek saham PTPP ke depan? [492] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Langkah strategis PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. (PTPP) yang melepas sejumlah aset non-inti dinilai tepat di tengah tekanan keuangan yang dialami emiten konstruksi pelat merah dalam beberapa tahun terakhir. Kebijakan divestasi tersebut juga dipandang mampu memperkuat arus kas dan memperbaiki struktur permodalan emiten BUMN karya ini.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menilai langkah divestasi PTPP cukup strategis karena beban keuangan BUMN Karya naik signifikan akibat proyek jangka panjang dan kebutuhan modal kerja yang besar.
Menurutnya, dengan melepas aset yang bukan bagian dari inti bisnis, PTPP dapat menurunkan leverage sekaligus memperkuat posisi kas perusahaan.
“Divestasi ini memberikan suntikan likuiditas langsung sekaligus mengurangi kebutuhan pendanaan tambahan di aset-aset yang kontribusinya tidak terlalu besar. Oleh karena itu, langkah tersebut cukup strategis untuk memperbaiki fundamental perusahaan ke depan,” ucapnya saat dihubungi Bisnis.
Kebijakan divestasi juga menjadi sinyal positif bagi investor bahwa manajemen PTPP mulai lebih disiplin dalam mengelola portofolio. Selama ini, kekhawatiran terhadap BUMN Karya banyak berkaitan dengan tingginya utang, tekanan modal kerja, dan kemampuan menghasilkan arus kas operasional yang stabil.
“Dengan strategi back to core, investor melihat adanya upaya konkret memperbaiki kesehatan keuangan dan memastikan perusahaan fokus pada proyek dengan cash conversion cycle yang lebih cepat. Ini tentu dapat meningkatkan kepercayaan terhadap prospek jangka panjang PTPP,” tuturnya.
Kendati demikian, Ekky menilai pasar masih cenderung wait and see terhadap kinerja BUMN karya, termasuk PTPP. Dia memandang, prospek industri konstruksi memang memiliki peluang dari penurunan suku bunga dan kelanjutan proyek infrastruktur, tetapi pemulihan akan berjalan bertahap.
“Investor ingin melihat realisasi dampak divestasi terhadap arus kas dan beban keuangan sebelum bersikap lebih agresif. Jadi momentum pemulihan PTPP ada, tetapi masih perlu dikonfirmasi lewat kinerja kuartalan berikutnya,” tutur Ekky.
Dihubungi terpisah, Senior Analyst Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menambahkan penjualan dua aset non-core PTPP menjadi sinyal serius bahwa emiten pelat merah tersebut mulai berbenah dan berfokus pada efisiensi bisnis.
Namun, manfaat dari aksi korporasi ini baru akan terlihat jika dana hasil divestasi digunakan untuk memperkuat modal kerja dan mengurangi utang.
Dia juga menyebut bahwa kebijakan back to core yang tengah dijalankan PTPP menjadi langkah positif yang diperlihatkan kepada investor karena menunjukkan arah bisnis yang lebih efisien dan berkelanjutan.
“Bagi investor, strategi tersebut menjadi langkah positif karena menunjukkan arah bisnis yang lebih efisien dan berkelanjutan. Hal ini bisa meningkatkan kepercayaan terhadap prospek jangka panjang PTPP,” ujar Sukarno.
Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PTPP bertengger di level Rp380 per saham hingga akhir perdagangan Kamis (13/11). Banderol ini mencerminkan kenaikan 13,10% sejak awal tahun dan menguat 1,06% selama sebulan terakhir.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
PTPP menjual 47,81% saham di PT Celebes Railway Indonesia ke PT Solra Energi Terbarukan seharga Rp282,1 miliar untuk fokus pada bisnis inti dan meningkatkan likuiditas. [538] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — BUMN Karya PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) berencana melepas 47,81% kepemilikan sahamnya di PT Celebes Railway Indonesia kepada PT Solra Energi Terbarukan dengan nilai transaksi mencapai Rp282,1 miliar.
Berdasarkan keterbukaan informasi, aksi korporasi tersebut dilakukan melalui perjanjian jual beli saham bersyarat antara kedua pihak sebagai bagian dari langkah penataan portofolio dan penguatan fokus bisnis inti perseroan.
Manajemen PTPP menuturkan bahwa divestasi meliputi 142.180 saham atau setara 47,81% dari modal ditempatkan dan disetor di PT Celebes Railway Indonesia (CRI). Adapun, PT Solra Energi Terbarukan (SET), merupakan perusahaan di Jakarta yang tidak memiliki hubungan afiliasi dengan PTPP.
“Nilai rencana transaksi berdasarkan perjanjian jual beli saham bersyarat adalah Rp282.103.175.000 [Rp282,1 miliar],” ungkap manajemen PTPP dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Rabu (12/11/2025).
PT Celebes Railway Indonesia atau yang dikenal sebagai PT CRI adalah Badan Usaha yang beroperasi di bidang transportasi perkeretaapian di Indonesia sebagai Operator Prasarana Kereta Api, khususnya di Sulawesi Selatan. Perusahaan bertanggung jawab atas perawatan dan pengoperasian rel kereta api di wilayah Sulawesi Selatan.
PT PP menyebut transaksi ini sejalan dengan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2025–2029 bertema back to core, yang menekankan efisiensi operasional serta mendorong pertumbuhan berkelanjutan dan menyelaraskan portofolio investasi.
Penataan portofolio melalui divestasi juga diharapkan meningkatkan arus kas operasional sekaligus mendukung pengembangan usaha pada lini bisnis inti.
“Dana hasil divestasi juga akan menambah likuiditas perseroan karena berkurangnya utang dan terdapat peningkatan dari sisi profitabilitas karena berkurangnya beban keuangan,” tutur manajemen PTTP.
Saat ini, struktur kepemilikan saham CRI terdiri atas PTPP sebesar 47,81%, PT Bumi Karsa menggenggam 25,31%, PT China Communication Construction Engineering Indonesia 22,50%, dan PT Iroda Mitra 4,37%.
Dengan strategi tersebut, PTPP akan kembali fokus pada kegiatan usaha inti yaitu konstruksi, gedung, infrastruktur, dan engineering, procurement & construction (EPC) yang menjadi penyumbang lebih dari 80% pendapatan.
Sementara itu, hingga kuartal III/2025, perusahaan konstruksi pelat merah ini membukukan laba bersih Rp5,55 miliar atau anjlok 97,92% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp267,28 miliar.
Pada saat bersamaan, pendapatan PTPP turun 23,33% year on year (YoY) menjadi Rp10,73 triliun dari sebelumnnya Rp14 triliun pada kuartal III/2024.
Raihan itu antara lain berasal dari segmen konstruksi senilai Rp8,99 triliun, EPC Rp781,80 miliar, properti dan realti Rp544,46 miliar, pendapatan keuangan atas konstruksi aset Rp247,32 miliar, serta pertambangan Rp190,21 miliar.
Penurunan pendapatan kemudian diikuti efisiensi beban pokok yang juga menyusut 26,14% YoY menjadi Rp9,12 triliun. Alhasil, laba kotor PTPP mencapai Rp1,61 triliun atau turun 2,36% dari Rp1,65 triliun pada tahun lalu.
PTPP juga membukukan sejumlah beban, di antaranya beban usaha sebesar Rp595,31 miliar, beban keuangan Rp1,5 triliun, serta beban lainnya Rp590,24 miliar. Hal ini membuat laba tahun berjalan PTPP tersisa Rp15,24 miliar.
--
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
PTPP menjual 47,81% saham di PT Celebes Railway Indonesia ke PT Solra Energi Terbarukan seharga Rp282,1 miliar untuk fokus pada bisnis inti dan meningkatkan likuiditas. [538] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — BUMN Karya PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) berencana melepas 47,81% kepemilikan sahamnya di PT Celebes Railway Indonesia kepada PT Solra Energi Terbarukan dengan nilai transaksi mencapai Rp282,1 miliar.
Berdasarkan keterbukaan informasi, aksi korporasi tersebut dilakukan melalui perjanjian jual beli saham bersyarat antara kedua pihak sebagai bagian dari langkah penataan portofolio dan penguatan fokus bisnis inti perseroan.
Manajemen PTPP menuturkan bahwa divestasi meliputi 142.180 saham atau setara 47,81% dari modal ditempatkan dan disetor di PT Celebes Railway Indonesia (CRI). Adapun, PT Solra Energi Terbarukan (SET), merupakan perusahaan di Jakarta yang tidak memiliki hubungan afiliasi dengan PTPP.
“Nilai rencana transaksi berdasarkan perjanjian jual beli saham bersyarat adalah Rp282.103.175.000 [Rp282,1 miliar],” ungkap manajemen PTPP dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Rabu (12/11/2025).
PT Celebes Railway Indonesia atau yang dikenal sebagai PT CRI adalah Badan Usaha yang beroperasi di bidang transportasi perkeretaapian di Indonesia sebagai Operator Prasarana Kereta Api, khususnya di Sulawesi Selatan. Perusahaan bertanggung jawab atas perawatan dan pengoperasian rel kereta api di wilayah Sulawesi Selatan.
PT PP menyebut transaksi ini sejalan dengan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2025–2029 bertema back to core, yang menekankan efisiensi operasional serta mendorong pertumbuhan berkelanjutan dan menyelaraskan portofolio investasi.
Penataan portofolio melalui divestasi juga diharapkan meningkatkan arus kas operasional sekaligus mendukung pengembangan usaha pada lini bisnis inti.
“Dana hasil divestasi juga akan menambah likuiditas perseroan karena berkurangnya utang dan terdapat peningkatan dari sisi profitabilitas karena berkurangnya beban keuangan,” tutur manajemen PTTP.
Saat ini, struktur kepemilikan saham CRI terdiri atas PTPP sebesar 47,81%, PT Bumi Karsa menggenggam 25,31%, PT China Communication Construction Engineering Indonesia 22,50%, dan PT Iroda Mitra 4,37%.
Dengan strategi tersebut, PTPP akan kembali fokus pada kegiatan usaha inti yaitu konstruksi, gedung, infrastruktur, dan engineering, procurement & construction (EPC) yang menjadi penyumbang lebih dari 80% pendapatan.
Sementara itu, hingga kuartal III/2025, perusahaan konstruksi pelat merah ini membukukan laba bersih Rp5,55 miliar atau anjlok 97,92% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp267,28 miliar.
Pada saat bersamaan, pendapatan PTPP turun 23,33% year on year (YoY) menjadi Rp10,73 triliun dari sebelumnnya Rp14 triliun pada kuartal III/2024.
Raihan itu antara lain berasal dari segmen konstruksi senilai Rp8,99 triliun, EPC Rp781,80 miliar, properti dan realti Rp544,46 miliar, pendapatan keuangan atas konstruksi aset Rp247,32 miliar, serta pertambangan Rp190,21 miliar.
Penurunan pendapatan kemudian diikuti efisiensi beban pokok yang juga menyusut 26,14% YoY menjadi Rp9,12 triliun. Alhasil, laba kotor PTPP mencapai Rp1,61 triliun atau turun 2,36% dari Rp1,65 triliun pada tahun lalu.
PTPP juga membukukan sejumlah beban, di antaranya beban usaha sebesar Rp595,31 miliar, beban keuangan Rp1,5 triliun, serta beban lainnya Rp590,24 miliar. Hal ini membuat laba tahun berjalan PTPP tersisa Rp15,24 miliar.
--
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56