Bisnis.com, JAKARTA — Sekelompok investor global dengan total dana kelolaan lebih dari US$3 triliun mendesak pemerintah di berbagai negara untuk menghentikan dan memulihkan deforestasi serta degradasi ekosistem paling lambat pada 2030.
Seruan tersebut tertuang dalam Belém Investor Statement on Rainforests, yang diterbitkan menjelang pelaksanaan COP30 di Belém, Brasil, pada November mendatang. Sedikitnya 30 investor institusional, termasuk bank swasta asal Swiss Pictet Group dan manajer aset asal Norwegia DNB Asset Management, telah menandatangani pernyataan yang masih terbuka hingga 1 November 2025 itu.
Laporan terbaru menunjukkan dunia masih jauh dari target penghentian deforestasi. Sepanjang 2024, hilangnya kawasan hutan mencapai 8,1 juta hektare. Hilangnya kawasan seluas Inggris itu sebagian besar disebabkan oleh ekspansi pertanian dan kebakaran hutan.
“Sebagai investor, kami makin khawatir terhadap risiko finansial yang signifikan terhadap portofolio investasi kami akibat deforestasi tropis dan hilangnya keanekaragaman hayati,” demikian isi pernyataan tersebut, dikutip dari Reuters.
Para investor menekankan pentingnya kebijakan yang memberikan kepastian hukum, regulasi, dan pembiayaan guna melindungi hutan serta menjaga stabilitas ekonomi.
“Deforestasi melemahkan sistem alam yang menjadi fondasi pasar global, mulai dari pengaturan iklim hingga ketahanan pangan dan air,” ujar Jan Erik Saugestad, CEO Storebrand Asset Management asal Norwegia.
Sebelumnya, Uni Eropa menunda penerapan aturan antideforestasi atau EUDR selama satu tahun setelah menghadapi penolakan dari kalangan industri dan mitra dagang seperti Brasil, Indonesia, dan Amerika Serikat. Negara-negara ini menilai aturan tersebut akan menimbulkan biaya tinggi dan merugikan ekspor mereka ke Eropa.
Sementara itu, Ingrid Tungen, Kepala Divisi Pasar Bebas Deforestasi di Rainforest Foundation Norway, menyebut bahwa sikap Presiden AS Donald Trump yang skeptis terhadap isu iklim turut menghambat dukungan terhadap upaya lingkungan global.
“Saya rasa Trump membuat situasi menjadi lebih sulit bagi investor dan manajer aset untuk mempertimbangkan faktor iklim dan keanekaragaman hayati dalam kondisi pasar yang sangat tidak stabil,” ujarnya.
Menurut Tungen, para investor kini menyadari bahwa mengabaikan risiko perubahan iklim dan hilangnya alam tidak hanya berimplikasi moral, tetapi juga mengancam stabilitas pasar dan profit jangka panjang.
“Semua investor yang kami ajak bicara melihat risiko besar jika isu iklim dan diversifikasi diabaikan. Ini bukan sekadar soal nilai, tetapi soal keberlanjutan pasar dan keuntungan mereka sendiri,” katanya.