Bisnis.com, JAKARTA — Neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2025 masih sangat tergantung dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Indonesia menikmati surplus dari perdagangan dengan Amerika Serikat (AS), tetapi harus menanggung defisit yang kian dalam dengan China.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, defisit neraca perdagangan nonmigas Indonesia dengan China membengkak hampir dua kali lipat sepanjang Januari—Desember 2025.
Defisit dagang RI dengan Negeri Panda pada 2025 menembus angka US$22,17 miliar. Angka ini melonjak 94,3% apabila dibandingkan dengan defisit pada periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$11,41 miliar.
Pembengkakan defisit ini dipicu oleh derasnya arus impor barang dari China yang mencapai US$86,99 miliar, naik tajam dibandingkan realisasi 2024 sebesar US$71,63 miliar. Sementara itu, ekspor RI ke China hanya mampu tumbuh moderat dari US$60,22 miliar menjadi US$64,82 miliar.
Secara neraca perdagangan total, BPS mencatat China (-US$20,50 miliar) memang menjadi sebagai negara penyumbang defisit terbesar pada 2025, diikuti Australia (-US$5,63%) dan Singapura (-US$5,47 miliar).
Kondisi tersebut kontras justru terjadi pada perdagangan dengan AS. Negeri Paman Sam semakin mengukuhkan posisinya sebagai penyumbang surplus terbesar bagi neraca dagang Indonesia.
Sepanjang 2025, surplus dagang RI dengan AS tercatat menebal menjadi US$21,12 miliar, naik 23,6% dibandingkan capaian surplus 2024 yang sebesar US$17,09 miliar. Perkembangan tersebut ditopang oleh ekspor nonmigas ke AS yang melesat ke level US$30,96 miliar, sedangkan impor dari negara tersebut relatif terjaga di angka US$9,84 miliar.
Data BPS menunjukkan AS (US$18,11 miliar) memang menjadi negara dengan penyumbang neraca perdagangan total terbesar RI pada 2025, diikuti India (US$13,49 miliar) dan Filipina (US$8,42 miliar).
Neraca Dagang 2025
Total, BPS melaporkan neraca perdagangan Indonesia sepanjang periode Januari—Desember 2025 mencatatkan surplus senilai US$41,05 miliar, naik 31,02% dibandingkan perkembangan tahun sebelumnya sebesar US$31,33 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan performa neraca dagang sepanjang tahun lalu ditopang oleh kinerja ekspor komoditas nonmigas yang masih solid, di tengah defisit sektor migas yang masih membayangi.
“Kita lihat perbandingannya cukup tinggi surplusnya pada kondisi Januari—Desember 2025 dibandingkan Januari—Desember 2024. Surplus tersebut terutama ditopang surplus komoditi nonmigas sebesar US$60,75 miliar, sementara komoditi migas masih mengalami defisit US$19,70 miliar,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (2/2/2026).
Berdasarkan data BPS, total nilai ekspor Indonesia sepanjang 2025 menembus angka US$282,91 miliar, atau naik 6,15% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan capaian 2024 sebesar US$266,53 miliar.
Ateng merinci bahwa peningkatan ekspor ini utamanya disumbang oleh kinerja industri pengolahan yang tumbuh double digit. Ekspor sektor ini melesat 14,47% YoY, dari US$198,40 miliar pada 2024 menjadi US$227,10 miliar pada 2025.
Secara keseluruhan, nilai ekspor nonmigas tercatat naik 7,66% YoY menjadi US$269,84 miliar. Sebaliknya, ekspor migas justru terkontraksi sedalam 17,69% YoY, turun dari US$15,88 miliar (2024) menjadi US$13,07 miliar (2025).
Di sisi lain, total nilai impor sepanjang 2025 tercatat sebesar US$241,86 miliar, tumbuh tipis 2,83% dibandingkan tahun sebelumnya di angka US$235,20 miliar.
Kenaikan impor ini didorong oleh geliat sektor produksi dalam negeri, yang tercermin dari lonjakan impor barang modal. BPS mencatat impor barang modal naik tajam 20,06% yoy, dari US$41,75 miliar pada 2024 menjadi US$50,13 miliar pada 2025.