Bisnis.com, SURABAYA – Industri perhotelan di Surabaya terus menunjukkan geliat pemulihan, usai terpukul keras pasca badai pandemi Covid-19.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur menunjukkan, tingkat penghunian kamar (TPK) atau okupansi hotel berbintang di sepanjang 2025 tergolong stabil dan menunjukkan tren yang meningkat.
Hal tersebut juga didorong berbagai faktor, di antaranya aktivitas bisnis korporasi, perjalanan domestik hingga mancanegara, pariwisata serta penyelenggaraan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) yang kembali menggeliat. Sejalan dengan itu, angka pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang berada pada rata-rata 5% sepanjanh 2025 menjadi faktor penunjang meningkatnya permintaan akomodasi, terutama di kawasan pusat kota dan perekonomian seperti Surabaya.
Merespons hal tersebut, para pelaku industri hotel mulai melakukan penyesuaian dan investasi ulang untuk memperkuat kembali daya saing mereka.
Seperti halnya diungkapkan oleh Senior Marketing Communication Manager Wyndham Surabaya, Priyono.
Priyono menjelaskan bahwa revitalisasi layanan akomodasi mulai dilakukan pihaknya secara bertahap sebagai respons atas perubahan preferensi konsumen dan dinamika bisnis perhotelan pasca pandemi.
“Tingkat okupansi kamar kami rata-rata berada di kisaran 60-70% dalam beberapa bulan terakhir. Untuk menjaga daya saing, kami melakukan revitalisasi yang dibagi dalam beberapa batch. Pada batch pertama, kurang lebih 60 kamar yang direvitalisasi. Keseluruhan proses ini kami targetkan selesai pada kuartal IV/2026 mendatang,” ujar Priyono kepada Bisnis, Jumat (14/11/2025).
Adapun tren revitalisasi kamar hotel tersebut adalah pola adaptasi para pelaku industri perhotelan pasca pandemi. Selain itu, para pelaku industri akomodasi ini juga tengah menghadapi kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, yang disebut-sebut berdampak pada belanja perjalanan dinas hingga kegiatan MICE.
Dengan lokasinya yang berada di jantung kota, Wyndham Surabaya memanfaatkan momentum pemulihan tersebut. Apalagi, posisi Surabaya yang merupakan hub pertemuan bisnis dan kegiatan korporasi di wilayah Indonesia bagian timur. Aktivitas ekonomi yang kembali hidup, terutama dari sektor perdagangan, jasa, juga perkantoran, mendorong peningkatan permintaan akomodasi premium di area pusat kota.
Dengan begitu, pihaknya percaya diri atas status Surabaya tersebut, yang masih akan menjadi pusat dari berbagai penyelenggaraan pertemuan korporasi serta gelaran acara skala menengah ke atas, sehingga mendorong hotel untuk menjaga mutu standar layanan dan kualitas fasilitas.
“Revitalisasi tersebut menjadi terobosan strategis kami untuk meningkatkan layanan dan daya tarik tamu. Apalagi, saat ini industri perhotelan sedang berusaha bangkit kembali, dan tentunya persaingan juga semakin ketat. Sehingga peremajaan fasilitas menjadi inovasi yang kami lakukan untuk mempertahankan posisi kami di industri,” tegas Priyono.
Salah satu terobosan tersebut adalah dengan menghadirkan Grand Deluxe room, yang mengusung konsep urban opulence, dan menghadirkan interior modern dengan luas kamar sebesar 42 meter persegi. Kamar ini dirancang dengan karpet, wallpaper, panel dinding, serta tirai baru yang memberikan nuansa elegan dan lapang, dan lengkap dengan pemandangan urban khas Kota Pahlawan.
Dari sisi furnitur, kamar ini juga dilengkapi dengan custom-made bed, sofa tahan air dan api, serta kursi premium berbahan polyester untuk memadukan kenyamanan dan durabilitas. Menjawab mobilitas tinggi dari para pebisnis maupun ekspatriat, kamar ini juga dilengkapi dengan USB-A dan USB-C di sisi tempat tidur, Hospitality Smart TV berukuran 55 inci, serta lampu baca multifungsi dengan teknologi wireless charging.
Kamar tersebut juga mengusung konsep ramah lingkungan, melalui berbagai fasilitas yang tersedia. Seperti penggunaan air mineral dalam kemasan kaca, sabun, sampo, dan kondisioner yang bersumber dari bahan alami, serta kemasan perlengkapan mandi berbahan kertas sebagai bagian dari komitmen pelaksanaan ekonomi keberlanjutan.