Prabowo memulai 13 proyek hilirisasi senilai Rp116 triliun di berbagai daerah, termasuk kilang bensin di Cilacap, untuk mengurangi impor BBM dan menciptakan lapangan kerja. [520] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Presiden RI Prabowo Subianto kembali melakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama sejumlah proyek hilirisasi yang berada di bawah koordinasi Danantara.
Pada tahap kedua ini, salah satu proyek yang mulai dibangun adalah fasilitas kilang gasoline atau bensin di Cilacap, Jawa Tengah, bersama beberapa proyek strategis lain.
Secara keseluruhan, terdapat 13 proyek yang memulai konstruksi dalam seremoni groundbreaking kali ini. Proyek-proyek tersebut berasal dari berbagai sektor hilirisasi dan tersebar di sejumlah daerah dengan total investasi senilai Rp116 triliun.
“Hilirisasi adalah jalan menuju kebangkitan bangsa. Indonesia harus berani dan mampu untuk mengelola sumber daya alam demi kepentingan rakyatnya sendiri,” ujar Prabowo dalam groundbreaking proyek hilirisasi tahap II di Cilacap, Jawa Tengah pada Rabu (29/4).
Selain fasilitas Kilang Gasoline di Cilacap, Jawa Tengah oleh PT Pertamina (Persero), sejumlah proyek yang melaksanakan groundbreaking pada hari ini yaitu fasilitas pengolahan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan oleh MIND ID dan Pertamina.
Tak hanya itu, terdapat pula pengembangan fasilitas produksi slab baja karbon dari bijih besi di Cilegon, Banten oleh Krakatau Steel, serta pengembangan ekosistem dan fasilitas produksi Aspal Buton di Karawang, Jawa Barat oleh Jasa Marga dan WIKA.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani mengatakan proyek hilirisasi, termasuk kilang bensin, berpotensi menekan impor BBM secara signifikan.
"Dalam rangka memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan impor BBM, jadi dari pembangunan kilang Cilacap dan Dumai ini, akan mengurangi impor BBM kurang lebih US$1,25 miliar dolar per tahunnya," ujar CEO Danantara tersebut.
Sebelumnya, Danantara telah lebih dahulu melakukan groundbreaking enam proyek hilirisasi dengan total investasi mencapai US$7 miliar atau sekitar Rp110 triliun pada Februari 2026. Enam proyek awal itu mencakup sektor mineral, energi terbarukan, hingga integrasi pangan.
Rangkaian proyek tersebut diperkirakan menciptakan sekitar 3.000 lapangan kerja secara langsung, sementara dampak tidak langsungnya diproyeksikan lebih besar.
Dari total investasi itu, sektor mineral menjadi penyumbang terbesar. Danantara mengalokasikan sekitar US$3 miliar atau hampir separuh nilai investasi tahap pertama untuk pembangunan smelter aluminium terintegrasi, mulai dari pengolahan alumina hingga menjadi produk aluminium.
Berikut daftar 13 proyek hilirisasi Danantara yang groundbreaking hari ini:
1. Pembangunan Fasilitas Kilang Gasoline di Cilacap, Jawa Tengah (Pertamina)
2. Pembangunan Fasilitas Kilang Gasoline di Dumai, Riau (Pertamina)
3. Pembangunan Tangki Penyimpanan BBM di Palaran, Kalimantan Timur (Pertamina)
4. Pembangunan Tangki Penyimpanan BBM di Biak, Papua (Pertamina)
5. Pembangunan Tangki Penyimpanan BBM di Maumere, NTT (Pertamina)
6. Fasilitas Pengolahan Batu Bara menjadi Dimethyl Ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan (MIND ID, Pertamina
7. Fasilitas Manufaktur Stainless Steel (Nikel) di Morowali, Sulawesi Tengah (Krakatau Steel)
8. Fasilitas Produksi Slab Baja Karbon di Cilegon, Banten (Krakatau Steel)
9. Pengembangan Ekosistem & Produksi Aspal Buton di Karawang, Jawa Barat (Jasa Marga, WIKA)
10. Hilirisasi Tembaga & Emas di Gresik, Jawa Timur (PINDAD, MIND ID)
11. Minyak sawit jadi produk oleofood dan Biodiesel di Sei Mangkei, Sumatera Utara (PTPN)
12. Pengolahan Pala menjadi Oleoresin di Maluku Tengah, Maluku (PTPN)
13. Fasilitas Terpadu Kelapa (MCT, Tepung, Arang Aktif) di Maluku Tengah, Maluku (PTPN)
Indef dorong penguatan hilirisasi ayam Danantara di tengah impor ayam AS. Pemerintah perlu tingkatkan daya saing domestik agar bersaing dengan produk impor. [488] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mendorong agar proyek hilirisasi sektor perunggasan yang tengah digarap Danantara senilai Rp20 triliun diperkuat seiring terbukanya keran impor ayam dari kesepakatan tarif resiprokal atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) Indonesia—AS.
Seperti diketahui, Indonesia akan mengimpor produk ayam AS dalam bentuk live poultry untuk kebutuhan grand parent stock (GPS) sebanyak 580.000 ekor dengan estimasi nilai sekitar US$17–20 juta.
Di samping itu, Indonesia juga melakukan importasi mechanically deboned meat (MDM) sebagai bahan baku pembuatan sosis, nugget, bakso, dan produk olahan lainnya dengan estimasi volume impor sekitar 120.000-150.000 ton per tahun.
Ekonom Senior Indef Tauhid Ahmad mengatakan pembukaan impor sejumlah komoditas pangan, termasuk ayam, dapat berdampak pada keberlanjutan program hilirisasi yang sedang didorong pemerintah.
Tauhid menjelaskan pemerintah sejatinya telah memiliki program hilirisasi ayam yang sudah dijalankan melalui proyek percontohan di beberapa lokasi. Namun, dia menilai kebijakan impor yang semakin terbuka dapat memengaruhi daya saing program tersebut.
“Pemerintah kan punya hilirisasi ayam [Danantara], sudah ada pilot project dan sudah dilakukan di beberapa lokasi. Nah ketika tidak ada pembatasan, katakanlah impor untuk ayam ini ya, terutama beberapa bagian ya,” kata Tauhid saat ditemui seusai konferensi pers Rilis Hasil Penelitian US–Indonesia Agreement on Reciprocal Tariff di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Menurutnya, produk ayam impor berpotensi lebih mudah masuk ke pasar domestik, terutama jika tidak ada persyaratan tambahan seperti sertifikasi halal. Kondisi ini berisiko menggeser konsumsi ayam lokal, khususnya di wilayah perkotaan dengan tren konsumsi yang terus meningkat.
Apalagi, sambung dia, pemerintah juga tengah menggenjot 82,9 juta penerima manfaat program makan bergizi gratis (MBG), sehingga membutuhkan proses hilirisasi untuk mendukung program tersebut.
Lebih lanjut, Tauhid menilai impor ayam berpotensi menjadi pilihan yang lebih cepat bagi pasar dibandingkan menunggu hasil produksi dari proyek hilirisasi yang masih berkembang.
“Kalau impor dibuka ya lebih gampang impor, karena kalau di sana kan sangat murah sekali. Saya kira ini menjadi problem ya, termasuk misalnya untuk pembibitan, kan juga dibuka peluang untuk industri mereka masuk untuk indukan. Padahal kalau kita mau harusnya itu bisa dilakukan di dalam negeri,” tuturnya.
Meski demikian, Tauhid menilai proyek hilirisasi tidak serta-merta akan gagal di tengah adanya perjanjian kesepakatan dagang Indonesia—AS. Menurutnya, dinamika pasar akan sangat dipengaruhi oleh faktor harga.
“Menurut saya bukan terancam gagal, tapi market akan milih mana yang paling lebih murah. Kita belum tahu harga yang akan dihasilkan oleh Danantara berapa banyak dan berapa besar, tetapi kalau misalnya impor ini bisa jauh lebih murah, pasti konsumen akan milih harga yang lebih murah,” terangnya.
Untuk itu, Tauhid menyarankan pemerintah memperkuat daya saing industri perunggasan domestik agar mampu bersaing dengan produk impor. Salah satunya dengan memastikan pasokan bahan pakan dapat diperoleh dengan harga lebih murah melalui dukungan kebijakan pemerintah.
Selain itu, pemerintah juga perlu membantu dari sisi penyediaan obat, layanan kesehatan ternak, hingga infrastruktur pendukung agar biaya produksi dapat ditekan sehingga harga jual produk ayam domestik bisa lebih kompetitif dibandingkan produk impor.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56