Bisnis.com, JAKARTA — Cisco, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, menilai optimalisasi pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di industri berjalan lambat karena sulitnya perusahaan dalam membangun kemitraan strategis. Adopsi AI butuh ekosistem yang matang.
Laporan Cisco AI Readiness Index mengungkapkan bahwa sebanyak 83% organisasi berencana menggelontorkan AI agen dalam operasional mereka, dan hampir 40% mengharapkan agen-agen tersebut dapat bekerja berdampingan dengan karyawan dalam kurun waktu kurang dari setahun.
Namun ambisi besar ini belum sepenuhnya ditopang oleh fondasi yang memadai. Hanya sedikit perusahaan yang telah memiliki infrastruktur aman untuk menopang ekosistem agentic AI secara berkelanjutan. Perusahaan dinilai perlu membangun ekosistem dan memilih mitra yang andal untuk mengatasi hal tersebut.
“Perusahaan sekarang menyadari bahwa kesiapan menghadapi AI bukan hanya soal teknologi, tapi juga kemitraan strategis yang mampu menghadirkan solusi end-to-end,” ujar Senior Vice President of Global Partner Sales Cisco Tim Coogan, dikutip Kamis (26/2/2026).
Merespons kondisi tersebut, Cisco resmi meluncurkan Cisco 360 Partner Program guna merestrukturisasi ekosistem kemitraan bisnisnya dalam menghadapi transformasi digital. Program ini dirancang untuk membantu pelanggan mencapai hasil AI yang transformatif dengan lebih cepat melalui dukungan tenaga ahli bersertifikasi.
Senior Vice President Cisco Partner Program Elisabeth De Dobbeleer menambahkan bahwa skema baru ini memfasilitasi pendorongan kesuksesan bersama antarperusahaan teknologi.
Struktur tersebut memungkinkan mitra bisnis melakukan diferensiasi produk sekaligus mengembangkan basis operasional usaha dengan kepastian performa, sehingga mampu memberikan nilai tambah di sepanjang siklus hidup pelanggan secara berkelanjutan.
Dalam implementasi operasionalnya, Cisco merampingkan hierarki keanggotaan menjadi tiga tingkatan utama yakni Registered Cisco Partners, Cisco Portfolio Partners, dan Cisco Preferred Partners.
Predikat Preferred disematkan bagi mitra yang mampu menawarkan keahlian teknis tingkat lanjut serta solusi teknologi dari hulu ke hilir. Penataan ini memudahkan pelanggan mengidentifikasi mitra dengan kapabilitas yang sesuai.
Dari sisi dampak ekonomi, restrukturisasi ini ditujukan untuk memberikan proyeksi pendapatan yang lebih jelas dan terprediksi bagi ekosistem mitra.
Strategi finansial tersebut diwujudkan melalui peluncuran insentif Cisco Partner Incentive (CPI) yang menyederhanakan mekanisme program sebelumnya. Sistem CPI mengkalibrasi strategi pemasaran agen agar selaras dengan peta jalan bisnis utama perusahaan.