Bisnis.com, GYEONGJU — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan bahwa masalah ekspor tanah jarang antara AS dan China telah berhasil diselesaikan dalam kerangka kesepakatan perdagangan satu tahun.
Menurut Trump, China telah sepakat untuk melanjutkan ekspor tanah jarang ke seluruh dunia sebagai bagian dari kesepakatan ini, yang diharapkan dapat diperpanjang setelah setahun.
"Semua masalah tanah jarang telah diselesaikan. Ini untuk seluruh dunia, bisa dibilang ini adalah situasi global, bukan hanya situasi Amerika Serikat,” kata Trump kepada wartawan usai pertemuan dengan Presiden Xi Jinping di KTT APEC 2025, dikutip melalui Reuters, Kamis (30/10/2025)
Sekadar informasi, tanah jarang, yang terdiri dari 17 elemen vital, memainkan peran penting meskipun dalam jumlah kecil, dalam industri-industri seperti mobil, pesawat terbang, dan senjata. Elemen-elemen ini kini telah menjadi sumber daya paling berharga dan pengaruh China dalam perang dagang dengan AS.
Ekspor tanah jarang sempat terhambat setelah China memberlakukan kontrol ekspor pada bulan April, yang menyebabkan kelangkaan global, terutama untuk magnet, memaksa beberapa produsen mobil menghentikan produksi sementara waktu.
Pada Oktober, China kembali memperketat kontrol ekspor tanah jarang, meningkatkan jumlah elemen yang dibatasi menjadi 12 dan menambah banyak peralatan yang digunakan untuk memprosesnya. Namun, kesepakatan terbaru dengan AS dipandang sebagai langkah untuk membuka kembali aliran ekspor tersebut.
Oleh sebab itu, Trump juga mengonfirmasi bahwa tarif atas barang-barang China akan dipangkas dari 57% menjadi 47% sebagai bagian dari kesepakatan yang juga mencakup komitmen China untuk melanjutkan pembelian kedelai AS dan menjaga ekspor tanah jarang tetap mengalir.
Kesepakatan ini juga mencakup langkah China untuk memperketat penanggulangan perdagangan fentanyl ilegal, obat sintetis yang menjadi penyebab utama kematian overdosis di Amerika Serikat.
"Saya pikir ini adalah pertemuan yang luar biasa. Ini adalah pertemuan yang sangat luar biasa, saya beri nilai 12 dari 10," kata Trump.
Trump juga mengungkapkan bahwa kesepakatan perdagangan ini akan berlangsung selama satu tahun dan akan diperpanjang secara rutin. Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Trump berencana untuk mengunjungi China pada April 2026, sementara Xi akan mengunjungi AS setelah itu.
Meskipun pembicaraan ini menghasilkan beberapa kemajuan dalam hubungan dagang, tetapi beberapa isu besar lainnya tetap menjadi tantangan, termasuk ketegangan dalam sektor teknologi dan kebijakan perdagangan internasional yang lebih luas.
Namun, dengan adanya kesepakatan ini, Trump berharap dapat meredakan ketegangan dagang yang telah berlangsung lama antara kedua negara.
Di sisi lain, ketika ditanya apakah masalah Taiwan dibahas dalam pertemuan dengan Xi, Trump memastikan tidak pernah membahas isu tersebut.
“Tidak pernah dibahas. Taiwan tidak pernah muncul,” ucap Trump.