Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Prancis Emmanuel Macron memerintahkan kapal induk bertenaga nuklir milik negaranya dipindahkan dari Laut Baltik ke Laut Mediterania guna memperkuat perlindungan terhadap negara-negara sekutu di tengah perang di Timur Tengah.
Kapal induk Charles de Gaulle akan beroperasi bersama kapal-kapal pengawal dan membawa sejumlah pesawat tempur. Selain itu, Macron juga mengungkapkan Prancis telah mengerahkan jet tempur Rafale, sistem pertahanan udara, serta radar tambahan ke kawasan tersebut.
"Dan kami akan melanjutkan upaya ini selama diperlukan," kata Macron, dikutip dari PBS, Rabu (4/3/2026).
Kapal Induk Nuklir Charles de Gaulle (R91) adalah kapal induk bertenaga nuklir pertama dan satu-satunya yang dioperasikan Angkatan Laut Prancis, sekaligus satu-satunya kapal induk nuklir di luar armada Amerika Serikat.
Kapal ini mulai dibangun pada akhir 1980‑an dan resmi operasional sejak 2001 sebagai flagship kekuatan laut Prancis, membawa sekitar 40 pesawat tempur dan pesawat peringatan dini seperti Rafale M dan E‑2C Hawkeye di dek sepanjang kurang lebih 262 meter.
Tenaganya disuplai dua reaktor nuklir K15 yang memberinya jangkauan pelayaran praktis tak terbatas hingga sekitar 20–25 tahun tanpa pengisian bahan bakar konvensional, dengan kecepatan maksimum sekitar 27 knot.
Keputusan memindahkan kapal induk tersebut juga dipicu oleh serangan terhadap pangkalan militer Inggris di Siprus. Macron menilai Siprus, sebagai anggota Uni Eropa yang memiliki kemitraan strategis dengan Prancis, membutuhkan dukungan tambahan.
Dia juga menegaskan Prancis memiliki perjanjian pertahanan dengan sejumlah negara seperti Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, serta komitmen keamanan terhadap Yordania dan Irak. Karena itu, Prancis merasa perlu menunjukkan kesiapan militernya di kawasan.
Macron menilai konflik kini meluas hingga Lebanon. Dia menyebut kelompok Hizbullah yang didukung Iran telah melakukan kesalahan besar dengan menyerang Israel dan membahayakan rakyat Lebanon. Namun, Macron juga mengingatkan Israel agar tidak melancarkan operasi darat ke Lebanon karena dapat memperburuk situasi.
Di sisi lain, Macron menegaskan Prancis tidak mendukung serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran karena dinilai tidak sesuai dengan hukum internasional. Dia mendorong agar kekerasan segera dihentikan dan penyelesaian konflik dilakukan melalui jalur diplomasi.
Selain itu, Macron menyampaikan harapannya agar rakyat Iran dapat menentukan masa depan mereka sendiri.
"Meskipun demikian, sejarah tidak pernah menangisi para algojo rakyatnya sendiri, dan tidak satupun dari mereka akan diratapi," ujarnya, merujuk pada pembunuhan Ali Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi Iran lainnya. (Nur Amalina)