Hartati dari Aceh Tamiang tetap berangkat haji meski rumahnya hancur akibat banjir. Dia berharap ibadahnya bisa mendatangkan rezeki dan kebaikan. [837] url asal
Bisnis.com, MAKKAH — Paspor, KTP, hingga uang milik Hartati Musirun Mukmin tak jelas nasibnya, entah tersapu air atau terendam habis bersama rumahnya akibat banjir Aceh pada November 2025 silam. Kurang dari enam bulan menjelang rencana keberangkatannya beribadah haji, bencana mahadahsyat melanda rumahnya di Aceh Tamiang.
Rencana untuk pergi haji itu sejatinya disiapkan Hartati bersama suaminya, Muhammad Sofyan belasan tahun silam. Namun, takdir berkata lain, pada 2014 sang suami berpulang sehingga Hartati harus membesarkan tiga anak seorang diri, sembari tetap menyiapkan keberangkatan haji.
Tahun demi tahun, kesempatan menunaikan rukun Islam terakhir itu semakin dekat. Rupanya, enam bulan menjelang keberangkatan terjadi banjir besar di Aceh yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Aceh Tamiang, tempatnya membesarkan keluarga, luluh lantak.
"Rumahnya belum bisa saya perbaiki, karena uang pun enggak ada untuk perbaiki rumah," katanya lirih.
Rumah warisan dari orang tuanya itu tersapu banjir. Hartati mengangkat tangannya ke leher, saat menceritakan tinggi air dan material banjir yang dia ingat. Setelah banjir reda dan akses menuju rumahnya terbuka, tempat tinggalnya nyaris tak berbentuk lagi.
Hartati fokus untuk menyelamatkan diri dan orang-orang di sekelilingnya. Setelah kondisi aman, dia mulai terpikir soal keberangkatan haji yang hanya tinggal menghitung bulan.
Hatinya semakin tidak karuan, karena hartanya habis tersapu banjir dan dokumen-dokumen penting entah di mana. Dia khawatir keberangkatannya tertunda, atau bahkan batal, karena petaka yang melanda Aceh itu.
"Air itu tiba-tiba langsung, sreeet, naik. Jadi kami enggak bisa langi sempat menyelamatkan barang-barang, termasuk itu [dokumen-dokumen untuk persiapan keberangkatan haji]," ujarnya.
Bencana yang seperti 'tsunami kedua' itu menghantam 18 dari 23 kabupaten/kota di Aceh. Tempat tinggal Hartati, yakni Aceh Tamiang, menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah.
Dia kediaman keluarganya, Hartati mengungsi, mengamankan diri sambil berharap tetap mendapatkan panggilan Allah, berangkat dari Serambi Mekkah ke kota tempat adanya Ka'bah.
Jari Penyelamat
Hartati tidak menyangka bahwa di tengah bencana itu, selain evakuasi dan penanganan korban, juga tetap terdapat pendataan kondisi para calon jemaah haji. Keberangkatan mereka ke Tanah Suci tetap diusahakan. Harapan pun muncul.
Dia datang ke tempat pelayanan hanya membawa diri. Kelengkapan dokumen hajinya ludes, tak ada satu pun yang terselamatkan, tetapi dia tetap yakin bahwa ada jalan untuk bisa berangkat ke Tanah Suci.
Rupanya, jemari mereka adalah kunci. Seluruh data yang diperlukan sudah terekam di sistem Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil), seluruh berkas yang diperlukan untuk proses administrasi bisa terpenuhi, hanya dengan sidik jari.
Paspornya bisa diterbitkan kembali, KTP dan berbagai dokumen pun bisa didapat. Hartati semakin memantapkan hati bahwa setelah terkena petaka, dia bisa berdo'a langsung kepada Allah SWT. di hadapan Ka'bah.
Dia langsung menghubungi anak-anaknya, menjelaskan bahwa peluang untuk pergi ke Tanah Suci tetap terbuka. Hartati bersyukur karena di tengah kesulitan ekonomi, anak-anaknya membantu pelunasan kekurangan biaya haji sekitar Rp17 juta.
"Dengan izin Allah, karena panggilan Allah, berkat anak-anak saya, saya bisa kemari," ujar Hartati yang menahan air mata saat menceritakan kisahnya untuk bisa pergi ke Tanah Suci, saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Arab Saudi pada Selasa (12/5/2026).
Hartati Musirun Mukmin, jemaah haji asal Aceh Tamiang yang berangkat haji walaupun rumahnya hancur akibat banjir bandang, saat ditemui oleh tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Arab Saudi. / Bisnis-Wibi Pangestu Pratama
Dari Warkop hingga Kantor, Mencari Internet untuk Calon Jemaah Haji
Tim Koordinasi dan Pengendali Jemaah Haji Aceh pada PPIH Arab Saudi, Jamaluddin Affan Asyi, menceritakan bahwa terdapat sekitar 150 calon jemaah haji di Aceh Tamiang. Dari jumlah itu, hanya satu orang yang mampu melunasi biaya haji, lainnya terkendala akibat banjir.
Kondisi itu membuat pemerintah daerah, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), serta Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) harus turun langsung membantu jemaah mengurus berbagai kebutuhan keberangkatan.
"Kami ditugaskan untuk jemput bola supaya jemaah bisa melakukan istitha’ah [pemenuhan syarat kesehatan] dan pelunasan," ujarnya, yang akrab dipanggil Syekh Jamal.
Kerusakan infrastruktur dan jaringan komunikasi menghambat proses administrasi dan pemeriksaan kesehatan jemaah. Akses di sejumlah titik pun terputus, sehingga tidak memungkinkan untuk mengumpulkan jemaah dari berbagai wilayah ke satu titik, sehingga pemerintah lah yang harus menemui setiap calon jemaah.
Jamal bercerita bahwa mereka mencari kedai kopi maupun tempat-tempat apapun yang memiliki akses listrik dan internet. Alat-alat seperti pemindai sidik jari dibawa ke sana, sehingga seluruh kelengkapan administrasi calon jemaah haji bisa tetap terpenuhi.
“Akhirnya kami alihkan ke daerah yang ada internetnya, kemudian yang ada komunikasi telepon karena infrastruktur elektronik hancur,” ujarnya.
Meski diterpa berbagai kendala, Aceh akhirnya berhasil memenuhi kuota haji 2026. Sebanyak 5.425 jemaah diberangkatkan ke Tanah Suci dalam 14 kelompok terbang.
Bahkan, setelah diterpa bencana besar, Aceh menjadi wilayah pertama yang mampu memenuhi kuota haji tahun ini.
Berbagai tantangan itu menjadi refleksi bagi Hartati, keberangkatan haji kali ini bukan sekadar perjalanan ibadah. Di tengah rumah yang belum bisa diperbaiki dan hidup yang belum sepenuhnya pulih, dia hanya ingin berserah.
"Saya cuma mengadu sama Allah ... Saya yakin pulang dari sini saya dapat rezeki dari Allah," ujarnya.
Tim Koordinasi dan Pengendali Jemaah Haji Aceh pada PPIH Arab Saudi, Jamaluddin Affan Asyi saat diwawancarai tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Arab Saudi. / Bisnis-Wibi Pangestu Pratama
Bisnis.com, MAKKAH — Salah seorang jemaah hajilansia asal Tegal, Jawa Tengah, harus berangkat sendiri ke Tanah Suci setelah sang istri dinyatakan tidak memenuhi syarat kesehatan, padahal sudah berada di embarkasi untuk bersiap terbang.
Zainudin, 84 tahun, tetap menunaikan ibadah haji setelah menunggu antrean selama 14 tahun. Namun, rencana berangkat bersama istri batal pada detik terakhir setelah hasil pemeriksaan kesehatan di embarkasi menunjukkan sang istri tidak layak terbang.
"Awalnya saya berangkat berdua dengan istri, tetapi mendadak istri saya sakit," ujarnya saat diwawancarai tim Media Center Haji (MCH) 2026 di Makkah, Arab Saudi.
Kondisi kesehatan sang istri menurun sekitar sepekan sebelum keberangkatan. Dia sempat masih beraktivitas normal, tetapi kemudian tidak mampu berjalan dan harus menggunakan kursi roda.
Saat pemeriksaan kesehatan final jemaah haji di embarkasi, petugas menemukan adanya gangguan kognitif yang membuat sang istri tidak memenuhi syarat istithaah kesehatan haji.
"Waktu di embarkasi ditanya petugas, jawabannya sudah melantur. Ternyata mengalami gangguan ingatan," kata Zainudin.
Ketentuan istithaah kesehatan menjadi bagian krusial dalam penyelenggaraan ibadah haji. Pemerintah menetapkan syarat kesehatan jemaah haji sebagai penilaian untuk memastikan jemaah mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah yang menuntut kesiapan fisik dan mental.
Kasus ini mencerminkan bahwa tidak semua calon jemaah haji otomatis bisa berangkat ke Tanah Suci meskipun telah menunggu lama. Kesehatan jemaah haji tetap menjadi syarat penting dalam proses keberangkatan.
Meski harus berpisah, Zainudin tetap bersyukur karena kondisi fisik istrinya kini mulai membaik, meski fungsi ingatannya belum sepenuhnya pulih.
"Alhamdulillah sekarang sudah sehat lagi, sudah bisa beraktivitas," ujarnya.
Setibanya di Makkah, Zainudin melaksanakan umrah wajib sebagai rangkaian awal ibadah haji. Dia berharap dapat menjalani seluruh proses ibadah dengan lancar.
"Semoga saya diberi kesehatan dan bisa menjalankan ibadah sampai selesai," ujarnya dengan tetap tersenyum.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi calon jemaah untuk mempersiapkan kondisi kesehatan jauh sebelum keberangkatan, mengingat ibadah haji merupakan aktivitas fisik intensif yang membutuhkan daya tahan tubuh prima.
Jemaah haji diimbau untuk tidak memaksakan diri beraktivitas jika dapat memicu kelelahan, apalagi pada Minggu (3/6/2026) ini cuaca Makkah diperkirakan mencapai 43 derajat celcius. Untuk mencegah kelelahan maupun sakit, jemaah haji diimbau untuk beribadah di hotel masing-masing, terutama bagi para lansia.
Para jemaah haji dapat menjaga fisiknya untuk puncak haji, yakni ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56