Bisnis.com, JAKARTA — Pasar kopi global menghadapi tekanan baru dari lonjakan harga pupuk dan ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasok serta produksi ke depan, menurut laporan terbaru Organisasi Kopi Internasional (ICO).
Dalam laporan pasar Maret 2026, ICO menyebutkan bahwa dampak berkepanjangan dari tingginya harga pupuk berisiko menekan produksi kopi, terutama pada musim tanam mendatang.
“Meskipun produksi untuk panen 2025–2026 saat ini kemungkinan tidak akan terpengaruh secara signifikan karena pupuk telah diaplikasikan dalam sebagian besar kasus, hal ini menimbulkan beberapa risiko untuk panen 2026–2027 jika gangguan tersebut berkepanjangan,” kata ICO, dikutip Kamis (16/4/2026).
ICO melaporkan 25%–30% dari perdagangan pupuk global dan hingga 30% dari pupuk nitrogen (urea) transit melalui Selat Hormuz. Kawasan Teluk juga merupakan produsen pupuk utama.
Laporan ICO juga mencatat harga kopi global mulai pulih pada Maret 2026 setelah mengalami penurunan selama tiga bulan sebelumnya. Kenaikan ini terutama dipicu oleh gangguan distribusi akibat ketegangan di Asia Barat yang berdampak pada jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Harga Indikator Komposit ICO tercatat naik 2,3% secara bulanan menjadi 273,70 sen AS per pon. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya biaya pengiriman serta ketidakpastian dalam rantai pasok global.
Sebagai gambaran, sekitar 25% perdagangan minyak dunia dan hampir 20% ekspor gas alam cair global melewati Selat Hormuz. Kondisi ini menempatkan Selat Hormuz sebagai jalur vital yang memengaruhi berbagai komoditas, termasuk kopi.
Secara rinci, harga kopi jenis Colombian Milds naik 2% menjadi rata-rata 337,45 sen AS per pon, sementara Other Milds meningkat 4,0% menjadi 334,34 sen AS per pon. Brazilian Naturals juga menguat 3,9% menjadi 320,51 sen AS per pon.
Di sisi lain, harga Robusta justru mengalami penurunan 1,6% menjadi 176,77 sen AS per pon. Pada pasar berjangka, kontrak London ICE turun 2,5% menjadi 161,91 sen AS per pon, sedangkan kontrak New York ICE naik tipis 0,5% menjadi 290,18 sen AS per pon.
Perbedaan pergerakan ini mencerminkan sentimen pasar yang beragam di tengah ketidakpastian global, sekaligus menunjukkan bahwa tekanan biaya dan gangguan logistik menjadi faktor utama yang membentuk arah harga kopi ke depan.