Bisnis.com, JAKARTA — Emiten terafiliasi Happy Hapsoro hingga Harita Group mulai mengikuti jejak PT Humpuss Maritim Internasional Tbk. (HUMI) untuk "berlayar" di bisnis angkutan laut.
PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA), yang terafiliasi Happy Hapsoro, mendirikan anak usaha baru di bidang usaha angkutan laut luar negeri dan dalam negeri.
Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Corporate Secretary RAJA Yuni Pattinasarani menjelaskan RAJA telah mendirikan satu anak perusahaan baru, yaitu PT Banawa Rezeki Optima (BRO), dengan kepemilikan saham 99,99% atau Rp57,74 miliar pada 30 Oktober 2025.
“Anak perusahaan tersebut bergerak di bidang aktivitas konsultasi manajemen lainnya, aktivitas perusahaan holding, dengan fokus pada kegiatan usaha angkutan laut luar negeri dan dalam negeri,” kata Yuni.
Menurutnya, pendirian BRO merupakan langkah strategis RAJA dalam rangka ekspansi kegiatan usaha yang selaras dengan rencana pengembangan usaha Perseroan.
Perseroan berpendapat pendirian ini sebagai inisiatif strategis yang berpotensi memberikan kontribusi positif terhadap kinerja keuangan dan pengembangan usaha di periode-periode berikutnya seiring dengan berjalannya kegiatan operasional BRO.
Adapun, RAJA dikenal gencar mengerjakan portofolio dan diversifikasi bisnis di sektor energi. Sejumlah proyek strategis yang dimiliki antara lain pembangunan fasilitas kompresor gas di Sulawesi Selatan yang ditargetkan beroperasi pada kuartal IV/2025, serta pembangunan pipa BBM di Kalimantan Timur yang direncanakan beroperasi pada kuartal IV 2027.
Emiten lain yang kepincut berlayar di bisnis angkutan laut adalah PT Tirta Mahakam Resources Tbk. (TIRT) dari Grup Harita. Emiten yang semula bergerak di bidang industri dan penjualan kayu lapis, kini melakukan transformasi bisnis (pivot) ke jasa angkutan laut.
Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, dikutip Rabu (24/9/2025), TIRT telah menghentikan aktivitas produksi dan penjualan kayu lapis sejak pandemi Covid-19 pada 2020, karena tidak lagi memberikan prospek usaha yang menjanjikan.
Bisnis angkutan laut sengaja dipilih karena dinilai lebih menjanjikan dan dapat memberikan nilai tambah jangka panjang bagi Perseroan.
Sebagai langkah investasi awal dalam menjalankan kegiatan usaha yang baru, TIRT berencana melakukan pembelian 20 unit kapal tunda (tugboat) dan kapal tongkang (barge) dari pihak yang terafiliasi dengan Perseroan yaitu PT Lima Srikandi Jaya (LSJ), PT Mitra Kemakmuran Line (MKL) dan PT Antar Sarana Rekasa (ASR).
TIRT juga resmi mengantongi Surat Izin Usaha Perusahaan Angkutan Laut (SIUPAL) dari Kementerian Perhubungan yang menandai dimulainya kegiatan operasional di sektor angkutan laut dalam negeri.
Berdasarkan keterbukaan informasi, yang dikutip Selasa (21/10/2025), Corporate Secretary TIRT Jackson Indrawan menjelaskan, izin tersebut diperoleh pada 17 Oktober 2025, bersamaan dengan penandatanganan sejumlah perjanjian sewa kapal antara perseroan dengan mitra bisnis.
Adapun dua kontrak utama yang diteken TIRT yaitu perjanjian sewa kapal dengan PT Guna Harapan Lestari senilai Rp250 juta per bulan dan dengan PT Lima Srikandi Jaya senilai Rp5,25 miliar per bulan.
Anak HUMI Bidik Peluang LNG
Sebelumnya, PT GTS Internasional Tbk. (GTSI) melakukan pembelian satu unit kapal Liquified Natural Gas (LNG) senilai US$24,5 juta atau setara dengan Rp405,94 miliar (kurs Jisdor Rp16.569 per dolar AS), seiring dengan potensi banjir pasokan gas alam global.
Adapun, GTSI merupakan anak usaha dari PT Humpuss Maritim Internasional Tbk. (HUMI) dengan kepemilikan saham 84,8%.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Jumat (17/10/2025), GTSI membeli kapal yang bernama Methane Jane Elizabeth dari GAS – Seventeen Ltd. pada 13 Oktober 2025. Kapal tersebut akan diubah namanya menjadi Danaputri 1.
Nilai transaksi tersebut sebesar 36,92% dari total ekuitas Perseroan per 31 Desember 2024 yang mencapai US$66,34 juta. Adapun, sumber pendanaan berasal dari dana sisa hasil penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) sebesar Rp123,82 miliar dan modal sendiri sebesar Rp282,25 miliar.
"Pembelian kapal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan modernisasi armada pengangkut LNG Perseroan," katanya dalam keterbukaan informasi," kata Direktur Utama GTSI, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra.
Selain itu, lanjutnya, langkah ini juga mendukung upaya diversifikasi usaha di sektor energi terintegrasi, terutama sehubungan dengan rencana konversi kapal Ekaputra, sebagai bagian dari peremajaan armada Perseroan menjadi FSRU, yang akan memperkuat posisi Perseroan dalam rantai pasok LNG.
Menurut pria yang akrab disapa Ari Askhara ini, faktor eksternal yang mendukung pembelian kapal ini adalah meningkatnya permintaan LNG, kebutuhan akan kapal yang lebih efisien dan ramah lingkungan, serta peluang untuk memanfaatkan teknologi baru dalam industri energi.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.