Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung pada Rabu (29/10/2025) untuk membahas rincian komitmen investasi senilai US$350 miliar yang menjadi inti dari kesepakatan dagang penting antara kedua negara.
Melansir Bloomberg, kunjungan ke Korea Selatan menjadi pemberhentian terakhir Trump dalam tur tiga negara di Asia, menjelang pertemuan puncak Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Gyeongju. Pertemuan Trump dengan Lee disebut sebagai pemanasan menjelang agenda utama Kamis (30/10/2025)mendatang, yakni pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping.
Gedung Putih berharap kunjungan Trump ke Asia dapat memberikan dorongan momentum melalui sejumlah kesepakatan ekonomi dan pertahanan dengan negara mitra utama. Namun, hubungan dengan Korea Selatan menunjukkan tantangan besar dalam mengubah ambisi tersebut menjadi hasil konkret.
Meski kedua negara telah mengumumkan kesepakatan awal pada Juli lalu, negosiasi lanjutan berlangsung alot selama berbulan-bulan. Beberapa detail utama, termasuk komposisi investasi Korea Selatan, masih belum disepakati.
Sebaliknya, AS dan Jepang telah mencapai nota kesepahaman pada September dan mengumumkan sejumlah proyek awal pada Selasa (28/10/2025). Kondisi ini membuat Seoul tampak lebih berhati-hati, sekaligus menempatkan industri otomotifnya pada posisi kurang menguntungkan dibandingkan pesaing dari Jepang.
Korea Selatan berencana menggabungkan investasi langsung, pinjaman, dan jaminan dalam paket tersebut. Namun, Trump menegaskan bahwa dana investasi itu seharusnya disetorkan di muka.
Adapun, Presiden Lee mengungkapkan masih ada perbedaan besar dalam negosiasi investasi tersebut, terutama terkait metode, jumlah, jadwal, serta pembagian keuntungan dan kerugian.
“Cara investasi, jumlah dana, waktu pelaksanaan, serta bagaimana kami berbagi risiko dan keuntungan — semuanya masih menjadi ganjalan,” ujar Lee dalam sebuah wawancara.
Di sisi lain, Washington berusaha meredam kesan perbedaan tersebut. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pembicaraan sudah berada di tahap akhir, meski mengakui kesepakatan final belum akan rampung selama kunjungan Presiden Donald Trump ke Korea Selatan.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyebut rencana investasi Korea di sektor galangan kapal AS menjadi bukti bahwa kedua pihak makin mendekati kesepakatan.
“Korea Selatan punya rencana besar untuk meningkatkan investasi di industri perkapalan AS, lebih dari sebelumnya,” katanya.
Negosiasi Tarif
Komitmen investasi itu menjadi inti dari kesepakatan dagang yang lebih luas antara AS dan Korea Selatan, yang akan membatasi tarif impor produk Korea di level 15%. Sebagai perbandingan, Jepang telah lebih dulu menandatangani kesepakatan senilai US$550 miliar dan mendapatkan tarif serupa.
Tanpa perjanjian tersebut, tarif ekspor mobil dan suku cadang asal Korea Selatan ke AS akan tetap sebesar 25%, jauh lebih tinggi dibandingkan tarif 15% yang diterapkan untuk Jepang. Kondisi ini menempatkan industri otomotif Korea pada posisi kurang kompetitif dibandingkan rivalnya dari Jepang.
Seoul sebelumnya menikmati tarif 0% untuk ekspor mobil ke AS di bawah perjanjian perdagangan bebas, sementara Jepang dikenakan tarif 2,5%. Namun, keunggulan itu kini terancam hilang. Para pejabat Korea telah menyampaikan kekhawatiran tersebut langsung kepada Trump, tetapi belum mendapat tanggapan positif.
Upaya Korea Selatan menjalin hubungan lebih dekat dengan pemerintahan Trump terlihat dari kehadiran para taipan besar di acara golf di kediaman Trump, Mar-a-Lago. Di antara peserta terdapat pimpinan Hyundai Motor Co., SK Inc., dan Hanwha, bersama pengusaha asal Jepang dan Taiwan.
Perusahaan Korea menjadi salah satu investor asing terbesar di AS, terutama di sektor kendaraan listrik, semikonduktor, dan perkapalan.
Namun, aktivitas investasi itu menghadapi tantangan baru setelah kebijakan penegakan imigrasi AS semakin ketat.
Pada September lalu, lebih dari 300 pekerja asal Korea Selatan ditahan dalam penggerebekan di pabrik baterai listrik Hyundai dan LG Energy Solution Ltd. di Georgia karena dugaan bekerja secara ilegal di AS.
Meski para pekerja tersebut akhirnya dipulangkan setelah adanya tekanan diplomatik dari Seoul, insiden itu menyoroti persoalan pelik yang dihadapi perusahaan Korea Selatan dalam mendapatkan visa kerja untuk tenaga ahli yang dibutuhkan guna menjalankan proyek investasi di AS.
Presiden AS Donald Trump pada Senin (27/10/2025) mengatakan pihaknya tengah menyiapkan rencana baru untuk mempermudah masuknya tenaga kerja terampil ke AS, khususnya yang berperan dalam pembangunan fasilitas manufaktur.
“Mereka akan mengajarkan warga kami cara melakukannya, tetapi dalam jangka waktu cukup lama mereka tetap dibutuhkan untuk memastikan kesuksesan. Saya ingin mereka tahu bahwa saat datang ke negara kami, kami mengharapkan mereka membawa talenta-talenta terbaik," ujar Trump.
Rencana kebijakan imigrasi tersebut akan menjadi kunci dalam implementasi kesepakatan dagang AS–Korsel serta sejumlah perjanjian lain yang ditandatangani Trump selama kunjungannya ke Asia.
Dalam beberapa hari terakhir, Trump juga menandatangani kesepakatan kerja sama dengan Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Malaysia, meskipun beberapa detail teknis masih perlu dibahas lebih lanjut.
Selain itu, seorang pejabat AS mengatakan bahwa Washington dan Seoul juga dijadwalkan menandatangani perjanjian baru pada Rabu untuk memperkuat kolaborasi di bidang kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, dan jaringan 6G.