Bisnis.com, JAKARTA — Ancaman Presiden AS Donald Trump soal kemungkinan aksi militer terhadap Kolombia memicu respons keras Presiden Gustavo Petro, meski pemerintah menegaskan kerja sama keamanan dengan Washington tetap berlanjut.
Dalam unggahan panjang di platform X, Petro mengatakan bahwa setiap prajurit Kolombia kini telah menerima perintah, yakni setiap komandan pasukan keamanan yang lebih memilih bendera AS dibandingkan bendera Kolombia akan segera dicopot dari institusi.
Dia juga mengaku telah meminta rakyat untuk membela presiden dari setiap tindakan kekerasan ilegal. “Jika Anda menahan seorang presiden yang diinginkan dan dihormati oleh banyak rakyat saya, Anda akan melepaskan jaguar rakyat," kata Petro dilansir dari New York Times pada Selasa (6/1/2026).
Trump sebelumnya menyebut pasukan militer AS di kawasan Karibia dapat digunakan terhadap Kolombia dan negara lain, serta menuding Petro terlibat dalam produksi kokain.
Pernyataan Petro muncul dua hari setelah Presiden Venezuela Nicolás Maduro ditangkap pasukan AS dan dibawa ke New York, tempat dia dan istrinya menghadapi dakwaan federal terkait perdagangan narkoba dan tuduhan lainnya.
Saat ditanya di pesawat Air Force One pada Minggu malam apakah militer AS dapat melakukan operasi terhadap Kolombia, Trump menjawab, “Kedengarannya bagus bagi saya.”
Selama lebih dari empat dekade, Kolombia menjadi pilar utama strategi pemberantasan narkotika AS di luar negeri serta sekutu penting di kawasan Amerika Latin.
Namun, hubungan Trump dan Petro kerap diwarnai ketegangan. Petro diketahui memblokir penerbangan deportasi, turun ke jalan di Manhattan untuk menyerukan tentara AS membangkang perintah, serta menuduh AS melakukan pembunuhan melalui serangan kapal di Pasifik timur.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan Kolombia Pedro Sánchez enggan menanggapi langsung pernyataan Trump. Dia menyatakan tetap berkomunikasi secara rutin dengan AS terkait upaya pemberantasan narkotika dan menegaskan kedua negara masih memiliki hubungan yang sangat erat.
Sánchez menambahkan, kemungkinan operasi militer AS terhadap Kolombia tidak pernah muncul dalam percakapannya baru-baru ini dengan diplomat senior AS di Bogotá maupun para penasihat militer Amerika.
Menurutnya, pertukaran informasi Kolombia dengan militer dan aparat penegak hukum AS, termasuk Angkatan Laut, Penjaga Pantai, Drug Enforcement Administration (DEA), Federal Bureau of Investigation (FBI), serta Bureau of Alcohol, Tobacco, Firearms and Explosives (ATF), tetap berlangsung tanpa gangguan.
Sánchez melanjutkan, angkatan bersenjata Kolombia tetap fokus pada melindungi kedaulatan, kemerdekaan, dan keutuhan wilayah negara.
Dia juga mengungkapkan Kolombia telah mengerahkan lebih dari 30.000 personel militer di perbatasan dengan Venezuela untuk mengantisipasi potensi destabilisasi, lonjakan migran, atau konfrontasi dengan kartel narkoba yang dinilainya sangat mungkin akan berada di bawah tekanan lebih besar dan mencoba menyakiti rakyat Kolombia.
Sánchez menggambarkan situasi di Venezuela pasca-penggulingan Maduro relatif tenang, meski mengakui belum melakukan kontak dengan pejabat politik maupun militer Venezuela dalam beberapa hari terakhir.