Bisnis.com, JAKARTA — Emiten distributor farmasi, PT Millennium Pharmacon International Tbk. (SDPC) membidik pertumbuhan kinerja double digit pada 2026 dengan mengandalkan penguatan efisiensi operasional, digitalisasi, serta perbaikan tata kelola perusahaan yang salah satunya ditempuh melalui keberhasilan mendapatkan sertifikasi ISO internasional.
Direktur Utama Millennium Pharmacon International Imam Fathorrahman mengatakan kebutuhan distribusi farmasi nasional masih sangat besar seiring nilai belanja obat yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp160 triliun per tahun. Namun, peluang pasar tersebut juga diiringi persaingan ketat di industri distribusi farmasi yang dihuni ratusan perusahaan.
Menurut dia, kemampuan menjaga kualitas layanan, efisiensi, dan kepercayaan prinsipal menjadi faktor pembeda utama bagi perusahaan distribusi.
"Kami bersama seluruh stakeholder menargetkan pertumbuhan double digit pada 2026. Kebutuhan pasar masih tinggi dan kami optimistis target tersebut dapat dicapai dengan memperkuat kapabilitas internal serta kualitas layanan," ujar Imam, Kamis (11/6/2026).
Optimisme tersebut diperkuat dengan keberhasilan MPI mempertahankan sertifikasi ISO 9001:2015 Sistem Manajemen Mutu dan ISO 37001:2016 Sistem Manajemen Anti Penyuapan setelah melalui audit independen oleh lembaga sertifikasi internasional.
Imam menegaskan sertifikasi tersebut bukan sekadar bentuk kepatuhan terhadap standar internasional, melainkan bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat daya saing jangka panjang.
"Bagi MPI, sertifikasi internasional bukan sekadar simbol kepatuhan, melainkan bukti nyata bahwa seluruh proses bisnis kami dijalankan secara profesional, terukur, dan berorientasi pada kepercayaan pelanggan," katanya.
Menurut dia, penguatan tata kelola menjadi semakin penting di tengah tuntutan industri kesehatan yang membutuhkan standar kepatuhan tinggi serta transparansi dalam rantai distribusi.
MPI juga terus mendorong transformasi digital, otomasi proses bisnis, hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional.
Direktur MPI Mohamad Fazly Bin Hassan menambahkan implementasi sistem yang terdokumentasi melalui standar ISO diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan gudang dan inventori, sekaligus memperbaiki akurasi perencanaan distribusi serta pengendalian stok.
Menurut dia, perusahaan menargetkan efisiensi biaya operasional sekitar 5% sebagai bagian dari agenda peningkatan profitabilitas.
"Target efisiensi kami sekitar 5% dari total OPEX. Namun sertifikasi ISO bukan satu-satunya faktor. Ini bagian dari strategi yang lebih besar yang mencakup digitalisasi, penguatan tata kelola, dan optimalisasi proses bisnis," ujarnya.
Selain mengejar efisiensi, MPI juga memperluas peluang pertumbuhan melalui pengembangan portofolio bisnis dan ekspansi jaringan distribusi.
Perseroan saat ini mengoperasikan 37 cabang di berbagai kota strategis Indonesia dan melayani lebih dari 30 prinsipal farmasi, alat kesehatan, serta produk kesehatan lainnya.
Imam mengatakan kebutuhan distribusi farmasi akan terus meningkat seiring pertumbuhan layanan kesehatan nasional. Dalam kondisi tersebut, perusahaan yang mampu menjaga kualitas distribusi, integritas, dan efisiensi diyakini akan memiliki posisi lebih kuat untuk memenangkan persaingan.
"Kami ingin memastikan pertumbuhan perusahaan selalu dibangun di atas kualitas, kepatuhan, dan integritas yang berkelanjutan. Itu menjadi fondasi utama untuk menjaga kepercayaan prinsipal, pelanggan, investor, dan seluruh pemangku kepentingan," kata Imam.
Berdasarkan laporan keuangan, SDPC membukukan pendapatan Rp4,11 triliun pada 2025 dengan laba bersih sebesar Rp38,5 miliar. Pendapatan itu meningkat 4,93% secara tahunan dari Rp 3,91 triliun, sementara laba bersih melonjak 127,24% dari Rp16,92 miliar.
Pada kuartal I/2026, SDPC mencatatkan pendapatan Rp1,01 triliun naik 3,85% dari Rp 980 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi laba bersih, perusahaan mencatat koreksi tipis sebesar 2,22% menjadi Rp 10,10 miliar dari sebelumnya Rp 10,33 miliar.