Bisnis.com, JAKARTA – Kehadiran perusahaan eksplorasi antariksa, SpaceX di pasar modal akan mengubah daftar perusahaan raksasa dengan nilai IPO terbesar dalam sejarah. Perusahaan milik Elon Musk tersebut membidik dana publik sebesar US$75 miliar, jauh melampaui rekor-rekor IPO besar lainnya.
Sejauh ini, daftar perusahaan dengan nilai dana IPO terbesar masih dipimpin oleh perusahaan minyak raksasa asal Arab Saudi, yakni Saudi Aramco pada Desember 2019 silam.
Menukil The Daily Star, Saudi Aramco sukses meraup dana publik sebesar US$25,6 miliar kala melantai di Riyadh Stock Exchange.
Kedua, ada Alibaba Group yang meraup dana US$21,8 miliar. Perusahana yang didirikan Jack Ma itu melantai di New York Stock Exchange pada September 2014.
Ketiga, ada SoftBank Corp. yang meraup dana publik US$21,3 miliar saat melantai di Tokyo Stock Exchange pada Desember 2018.
Keempat, ada Agriculture Bank of China (AgBank) yang melantai di Hong Kong Stock Exchange pada Juli 2010, dengan himpunan dana IPO sebesar US$19,2 miliar.
Kelima, disusul oleh Industrial and Comercial Bank of China (ICBC) yang juga melantai di Hong Kong Stock Exchange pada Oktober 2006. ICBC meraup dana publik sebesar US$19,1 miliar.
Keenam, ada operator telekomunikasi seluler terbesar di Jepang, Nippon Telegraph and Telephone (NTT) Mobile yang sukses meraup dana publik US$18,1 miliar ketika melantai di Tokyo Stock Exchange pada Oktober 1998.
Ketujuh, ada perusahaan jasa keuangan multinasional Visa Inc., meraup dana publik US$17,9 miliar saat melantai di New York Stock Exchange pada Maret 2008.
Kedepalan, disusul anak usaha perusahaan asuransi asal Amerika Serikat AIG, yakni AIA Group yang melantai di Hong Kong Stock Exchange pada Oktober 2010. AIA meraup dana publik sebesar US$17,8 miliar.
Kesembilan, perusahaan energi bersih yang berpusat di Italia, Enel sukses meraup dana publik US$16,5 miliar saat debutnya di pasar modal 1999 silam.
Kesepuluh, ada perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg, Facebook yang meraup dana publik US$16 miliar saat resmi melantai di New York Stock Exchange pada Mei 2012.
Adapun, bila target dana publik dari IPO SpaceX sesuai target, akan menempatkan perusahaan ini ke daftar paling atas menggeser Saudi Aramco.
Melansir website Ajaib, perusahaan dengan nama Space Exploration Technologies Corp. ini diperkirakan akan secara resmi melantai di Nasdaq Global Select Market dan Nasdaq Texas pada 12 Juni 2026 dengan ticker SPCX.
Harga saham SpaceX saat IPO ditetapkan di level US$135 per saham. Dengan rencana penawaran sebanyak 555,55 juta saham Class A, SpaceX menargetkan penggalangan dana sekitar US$75 miliar. Perusahaan juga memberikan opsi kepada underwriter untuk membeli tambahan hingga 83,33 juta saham jika permintaan pasar lebih tinggi dari perkiraan.
"Angka ini sangat besar jika dibandingkan dengan IPO raksasa sebelumnya, seperti Saudi Aramco dan Alibaba," tulis Ajaib.
Dikabarkan bahwa porsi saham yang ditawarkan sudah mengalami oversubscription atau kelebihan permintaan hingga sekitar 2 kali lipat dari kuota penawaran awal. Dalam IPO ini, investor ritel mendapatkan kuota 30% dari total saham yang ditawarkan.
Alibaba, didirikan oleh Jack Ma pada 1999, berkembang dari startup kecil menjadi raksasa e-commerce global. Meski awalnya ditolak investor, Alibaba sukses meraih pendanaan besar dan IPO bersejarah. [694] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Bicara tentang awal-awal e-commerce muncul, dalam benak kita pasti terbayang nama Alibaba yang merupakan sebuah perusahaan toko online raksasa asal China saat ini.
Nama Alibaba sebelum besar seperti sekarang, jauh sebelum itu, diciptakan oleh seorang miliarder jenius, Jack Ma yang dirintis dari nol bahkan sering ditolak oleh berbagai investor saat baru saja dirintis.
Alibaba nama yang identik dengan ciri khas Timur Tengah. Pemilihan nama tersebut oleh Jack Ma bukan tanpa alasan, ide nama Alibaba muncul dalam pikiran Ma saat dirinya berkunjung ke sebuah kafe di San Francisco, Amerika Serikat.
Jack Ma yang saat itu masih muda terinspirasi oleh tokoh bernama Alibaba dalam kisah legendaris 1001 Malam.
Alibaba merupakan tokoh fiksi yang diceritakan sebagai seorang yang dermawan dan hidup dalam kesederhanaan, namun tetap mengutamakan untuk berbagi terhadap sesama.
Filosofi kedermawanan tersebut yang diambil oleh Jack Ma dalam membangun sebuah bisnis toko online dengan menargetkan usaha kecil dan menengah.
Perjalanan Alibaba Sejak Berdiri
Pendiri Alibaba, Jack Ma/jackmafoundation
Jack Ma merintis Alibaba pada tahun 1999 bersama dengan 17 karyawannya dengan membangun situs bernama Alibaba.com yang bermarkas di apartemen milik Ma di Lakeside Gardens, Hangzhou, China.
Jack Ma membangun Alibaba dengan mengambil sudut pandang sebagai wadah dan mengibaratkan orang pintar yang membantu orang-orang di desa mengembangkan bisnis kecil hingga menengah mereka untuk membuka pintu dalam menggaet pelanggan ke luar negeri.
Dalam pengembangannya, melansir dari sejumlah sumber, Alibaba sering kali ditolak oleh berbagai investor saat Ma menawarkan konsep e-commerce tersebut ke Silicon Valley, Amerika Serikat sebagai pusat teknologi.
Dengan berbagai penolakan tersebut, Jack Ma tidak menyerah begitu saja, akhirnya dalam ratusan penawaran konsep e-commerce Alibaba mendapat pendanaan awal mereka dari Goldman Sachs sebesar US$5 juta dan US$20 juta dari SoftBank.
Tiga tahun berjalan sejak dirilis sebagai platform atau wadah UMKM China untuk menembus pasar global, pada tahun 2002 akhirnya Alibaba mulai memperoleh keuntungan.
Melihat peluang dan perkembangan tersebut, Ma memutuskan untuk melebarkan sayap Alibaba ke luar China pada tahun 2003. Ma membuat platform yang sama dengan nama berbeda yakni, Taobao atau sekarang dikenal sebagai Tmall.
Selain itu, Jack Ma juga meluncurkan usaha turunan Alibaba berupa platform pembayaran daring bernama Alipay, Alimama.com, dan Lynx.
Seiring berjalannya waktu, Alibaba menunjukkan perkembangan yang luar biasa sehingga menarik minat banyak investor.
Perusahaan teknologi mesin pencari raksasa saat itu, Yahoo menyuntikkan dana sebesar US$1 miliar melalui jaringan Variable Interest Entity (VIE), sekaligus membuat Yahoo memiliki saham kepemilikan Alibaba sebesar 40 persen.
Alibaba mencapai puncak kejayaan di era 2010-an dengan mendirikan layanan komputasi Alibaba Cloud dan mengadakan acara 11.11 bertajuk Global Online Shopping Festival untuk pertama kalinya. Acara tersebut juga menginspirasi diadakannya Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) di Indonesia.
Hingga di tahun 2014, Alibaba berhasil mencetak sejarah mereka pada bulan September. Alibaba Group akhirnya berselancar pada bursa saham dengan penawaran perdana (IPO) di New York Stock Exchange dengan kode (BABA). Saat itu, saham Alibaba dibuka dengan penawaran harga US$90,72 per lembarnya.
Pada IPO tersebut, Alibaba sukses meraup untung US$25 miliar yang menjadikannya salah satu penawaran yang terbesar dalam sejarah.
Pengunduran diri Jack Ma dan Sorotan Otoritas China di tahun 2019
Jack Ma mengundurkan diri sebagai CEO dan Chairman Alibaba Group di tahun 2019 saat ulang tahunnya yang ke-55 dengan alasan ingin berfokus dan mengabdi di dunia pendidikan, mengingat latar belakangnya sebagai seorang guru Bahasa Inggris sebelum merintis Alibaba.
Namun, banyak sumber yang menyebut karena kritik terhadap pemerintah China terkait regulasi finansial dan perbankan yang menurut Ma menghambat inovasi membuat dirinya dan perusahaannya diinvestigasi bersama dengan perusahaan raksasa teknologi lainnya.
Pemerintah China melakukan investigasi terhadap Alibaba dengan dugaan kasus monopoli. Namun, banyak konspirasi yang menyebut bahwa langkah tersebut merupakan upaya untuk menasionalisasi Alibaba Group.
Valuasi Perusahaan Alibaba Saat Ini
Sejak didirikan pada akhir 90 hingga awal tahun 2000-an, dengan berbagai badai dan tantangan yang dihadapi oleh Jack Ma dalam mendirikan Alibaba, saat ini perusahaan tersebut masih menjadi simbol sekaligus pelopor e-commerce di China.
Menurut data dari Yahoo Finance, Alibaba memiliki kapitalisasi pasar mencapai US$332,65 miliar dengan valuasi sebesar US$311,62 miliar di tahun 2026.
Angka tersebut menunjukkan adanya perkembangan dan stabilitas yang baik dari Alibaba Group meskipun telah berganti kepemimpinan dari Jack Ma sang pendiri.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56