Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan) membidik transformasi digital dan penguatan kemitraan strategis internasional sebagai solusi untuk mengurai kendala sistemik industri susu nasional yang selama ini terbebani rendahnya produktivitas peternakan lokal serta tingginya ketergantungan pada impor.
Melalui kolaborasi global seperti U.S.-Indonesia Dairy Partnership (USIDP), pemerintah berupaya memperluas akses pembiayaan dan adopsi teknologi modern bagi para peternak skala kecil di berbagai daerah.
Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Bara Krishna Hasibuan, mengungkapkan sektor persusuan dalam negeri memerlukan pembenahan menyeluruh dari hulu hingga hilir guna mengejar ketertinggalan produksi.
“Kami menyadari industri susu nasional masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk rendahnya produktivitas peternakan sapi perah, terbatasnya akses terhadap teknologi dan pembiayaan bagi peternak kecil, serta tingginya ketergantungan pada impor susu,” kata Bara dikutip Jumat (26/6/2026).
Menurutnya, situasi tersebut menuntut adanya model penyelesaian yang berdampak jangka panjang. Kerja sama dengan mitra global dinilai menjadi salah satu instrumen penting untuk memetakan alih teknologi dan peningkatan kapasitas para peternak di lapangan.
Lebih lanjut, Bara menjelaskan modernisasi tidak boleh hanya berhenti pada aspek budi daya ternak saja. Integrasi teknologi digital ke dalam seluruh ekosistem bisnis persusuan menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar agar menciptakan transparansi pasar dan efisiensi logistik.
“Di era transformasi digital saat ini, kita harus memanfaatkan inovasi teknologi untuk memperkuat setiap aspek rantai nilai industri susu, mulai dari sistem informasi peternakan dan kelayakan rantai pasok hingga pemasaran digital produk olahan susu,” ucap Bara.
Implementasi teknologi ini juga diharapkan mampu memitigasi risiko keamanan pangan secara berkala. Standarisasi kualitas produk menjadi fokus utama agar susu lokal memiliki daya saing tinggi dan aman saat dikonsumsi oleh masyarakat luas.
Selain melakukan pendekatan digital, pemerintah juga mendorong kemitraan global melalui kerja sama pelatihan dengan U.S. Dairy Export Council (USDEC), melalui inisiatif USIDP.
Berdasarkan data USDEC, inisiatif USIDP yang berjalan sejak November 2024 terbukti memberikan dampak positif di tingkat peternak. Peserta program kepelatihan mencatat rata-rata peningkatan produksi susu harian hingga 32,5% pada 2025. Hingga kini, program tersebut telah menggelar 54 rangkaian pelatihan di delapan lokasi dengan merangkul 500 peternak secara langsung serta melatih 100 teknisi persusuan.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan ini, Bara mengajak seluruh pemangku kepentingan merumuskan kebijakan yang integratif, mulai dari perbaikan kesehatan hewan, perluasan pendampingan teknis, hingga pembentukan sistem jaminan mutu berbasis risiko.
“Untuk mencapainya, diperlukan kolaborasi erat antara institusi pemerintah, pelaku industri, dan lembaga riset guna membangun sistem jaminan mutu berbasis risiko yang terintegrasi,” kata Bara.
Pemerintah optimistis komitmen lintas sektor antara pusat, daerah, serta pelaku usaha swasta akan mampu melahirkan ekosistem persusuan yang inklusif dan tangguh, sekaligus mengurangi beban ketergantungan pasokan dari luar negeri secara bertahap.
Sementara itu, President dan CEO USDEC Krysta Harden mengatakan bahwa USDEC mewakili hampir 135 perusahaan yang berbeda, termasuk para pengolah, eksportir, serta berbagai industri pendukung yang terlibat dalam sektor susu.
Melalui kemitraan ini, USDEC membantu para peternak sapi perah di Indonesia untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, sekaligus memperdalam pemahaman tentang perawatan ternak dan keamanan pangan.
“Membangun kepercayaan di industri akan meningkatkan permintaan terhadap produk susu, dan sebagian besar kebutuhan itu akan dapat dipenuhi langsung oleh para peternak Indonesia di sini,” kata Krysta.