Bisnis.com, JAKARTA— PT Indosat Tbk. (ISAT) menilai adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di kalangan perusahaan masih dilakukan secara bertahap dan berbasis kebutuhan per kasus (use case).
Director & Chief Business Officer Indosat Muhammad Buldansyah mengatakan sebagian besar perusahaan belum melihat AI sebagai transformasi menyeluruh di tingkat korporasi, melainkan sebagai solusi di unit-unit kerja tertentu yang dampaknya lebih cepat terlihat. Melalui lini enterprise atau business to business (B2B), Indosat menawarkan berbagai solusi berbasis AI.
“Kebanyakan [perusahaan-perusahaan] masih melihatnya satu satu, use case by satu use case gitu ya. Kebanyakan kan enterprise itu mengadopsinya gitu dulu [per use case],” kata pria yang akrab disapa Dany dalam sesi media terbatas di kantor Indosat pada Senin (9/2/2026).
Dia menjelaskan, area seperti know your customer (KYC) hingga fraud management kerap menjadi pintu masuk adopsi AI di banyak perusahaan. Hal ini karena peningkatan kinerja di area tersebut dinilai cukup signifikan, meskipun dampaknya terhadap keseluruhan perusahaan belum terlihat besar.
Dia menambahkan, sebagian perusahaan masih menahan diri untuk melakukan investasi AI dalam skala besar karena menunggu kejelasan regulasi.
“Beberapa enterprise terutama wah aturannya belum ada sih saya gak berani jangan-jangan saya investasi di AI nanti aturannya gak mengizinkan jadi masih various tapi semua yang mengadoptasi AI,” katanya.
Namun, menurutnya, perusahaan yang telah mengadopsi AI umumnya sudah merasakan manfaat langsung pada bidang yang diterapkan. Di Indosat, penerapan AI dilakukan melalui hyper segmentation, anti-spam, dan anti-scam yang dinilai memberi nilai signifikan.
Melalui hyper personalization, segmentasi pelanggan yang sebelumnya di bawah 50 kelompok kini berkembang menjadi ratusan ribu hingga puluhan ribu segmen yang lebih spesifik, sehingga penawaran dapat disesuaikan lebih detail.
Pandangan Indosat tersebut sejalan dengan berbagai temuan riset global yang menunjukkan adanya kesenjangan antara ekspektasi dan realisasi dampak finansial dari investasi AI.
Berdasarkan data Amazon Web Services (AWS), sebanyak 59% perusahaan mencatat pertumbuhan pendapatan (revenue growth) dari penggunaan AI, sementara 68% perusahaan mengalami peningkatan produktivitas sepanjang 2024.
Namun, riset Deloitte bertajuk The State of AI in the Enterprise 2026: The Untapped Edge menemukan kesenjangan tajam antara target dan hasil nyata. Survei terhadap 3.235 pemimpin bisnis dan teknologi informasi di 24 negara menunjukkan bahwa 74% organisasi menargetkan AI untuk mendorong pertumbuhan pendapatan, tetapi hanya 20% yang benar-benar melihat hasil tersebut.
Temuan ini diperkuat survei PwC yang mencatat hanya 12% CEO yang merasakan dampak finansial langsung berupa penurunan biaya sekaligus peningkatan pendapatan dari investasi AI.
Meski demikian, Deloitte menekankan bahwa keberhasilan AI tidak semata diukur dari keuntungan finansial jangka pendek, tetapi juga dari efisiensi operasional, diferensiasi strategis, serta keunggulan kompetitif jangka panjang.
Laporan tersebut juga mencatat meningkatnya adopsi AI di lingkungan kerja. Hampir 60% pekerja kini memiliki akses ke perangkat AI resmi perusahaan, meskipun tingkat pemanfaatannya dinilai masih belum optimal.
Selain itu, sekitar 82% perusahaan memperkirakan sedikitnya 10% pekerjaan akan terotomatisasi dalam tiga tahun ke depan, sementara mayoritas organisasi belum melakukan penyesuaian struktur kerja yang memadai.
Temuan Deloitte tersebut sejalan dengan survei PwC yang menunjukkan turunnya kepercayaan CEO terhadap dampak AI terhadap kinerja bisnis. Dalam Survei CEO Global ke-29 PwC yang melibatkan 4.454 CEO di 95 negara, hanya 30% CEO yang yakin terhadap pertumbuhan pendapatan dalam 12 bulan ke depan. Angka ini turun dari 38% pada 2025 dan 56% pada 2022.
Salah satu kekhawatiran utama adalah perubahan teknologi yang sangat cepat, termasuk AI. Jika sebelumnya AI dipandang sebagai solusi untuk meningkatkan kinerja bisnis, kini hanya 12% CEO yang merasa AI benar-benar memberikan keuntungan finansial.
Sebanyak 56% CEO bahkan mengaku belum melihat manfaat finansial signifikan dari penerapan AI. Ketua Global PwC Mohamed Kande menyebut hanya sedikit perusahaan yang berhasil menjadikan AI sebagai sumber keuntungan nyata, sementara sebagian besar masih berada pada tahap uji coba.
“Tahun 2026 tampaknya akan menjadi tahun yang menentukan bagi AI,” ujar Kande, dikutip dari situs resmi PwC, Selasa (20/1/2025).
Meski demikian, perusahaan yang telah mengintegrasikan AI secara serius dalam produk dan layanan tercatat mampu meraih keuntungan hampir 4% lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang belum menerapkannya.