Kemampuan bernegosiasi, kecerdasan, dan kepiawaiannya berbahasa asing membuatnya disegani lawan maupun kawan dalam berbagai forum internasional. Nama Agus Salim... | Halaman Lengkap [351] url asal
JAKARTA - Nama Agus Salim tercatat sebagai salah satu diplomat paling cemerlang yang pernah dimiliki Indonesia. Kemampuan bernegosiasi, kecerdasan, dan kepiawaiannya berbahasa asing membuatnya disegani lawan maupun kawan dalam berbagai forum internasional.
Di balik perannya yang besar dalam perjuangan diplomasi Indonesia, terdapat sejumlah kisah menarik yang menunjukkan kecerdasan Agus Salim dalam menghadapi situasi sulit. Salah satunya terjadi ketika ia mengikuti Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda, pada 1949.
Saat itu, Agus Salim menjadi bagian dari delegasi Indonesia yang berunding dengan Belanda untuk menyelesaikan sengketa pasca-kemerdekaan. Perundingan berlangsung dalam suasana serius karena menyangkut masa depan kedaulatan Indonesia.
Di sela-sela agenda konferensi, Agus Salim yang dikenal sebagai perokok kretek kerap mengisap rokok kesukaannya. Aroma tembakau dan cengkih yang khas kemudian menarik perhatian salah seorang delegasi Belanda.
Menurut kisah yang banyak diceritakan dalam berbagai catatan sejarah, delegasi Belanda tersebut menegur Agus Salim karena asap rokoknya dianggap mengganggu kenyamanan peserta lain. Teguran itu disampaikan dengan nada yang menunjukkan ketidaksenangan terhadap kebiasaan merokok sang diplomat Indonesia.
Alih-alih tersinggung, Agus Salim menanggapi teguran tersebut dengan tenang. Dengan senyum khasnya, ia memberikan jawaban yang kemudian menjadi salah satu anekdot terkenal dalam sejarah diplomasi Indonesia.
"Selama berabad-abad bangsa Belanda telah menikmati hasil bumi Indonesia. Sekarang giliran Anda menikmati aromanya."
Jawaban singkat itu sontak membuat suasana menjadi cair. Delegasi yang semula melayangkan protes tidak dapat membalas pernyataan Agus Salim. Sejumlah peserta bahkan disebut tertawa mendengar respons cerdas tersebut.
Kisah ini memperlihatkan bagaimana Agus Salim mampu menyampaikan kritik terhadap kolonialisme Belanda tanpa harus memicu ketegangan. Dengan kecerdasan dan humor, ia berhasil membalik keadaan sekaligus menegaskan posisi Indonesia yang tengah memperjuangkan pengakuan kedaulatan.
Agus Salim memang dikenal sebagai sosok dengan kemampuan retorika luar biasa. Selain menguasai banyak bahasa asing, ia juga piawai menggunakan sindiran halus yang sarat makna dalam berbagai kesempatan diplomatik.
Tak heran jika namanya dikenang sebagai salah satu tokoh penting yang membantu Indonesia memperoleh pengakuan kedaulatan melalui jalur diplomasi. Kisah teguran rokok di Konferensi Meja Bundar menjadi salah satu bukti bahwa kecerdasan kadang lebih ampuh daripada kemarahan dalam menghadapi lawan politik.
Stadion Haji Agus Salim Padang akan direkonstruksi dengan anggaran Rp400 miliar, dimulai Mei 2026, selesai dalam setahun, berkapasitas 15.000 penonton. [443] url asal
Bisnis.com, PADANG - Stadion Haji Agus Salim yang kini hampir berusia setengah abad pada pertengahan tahun 2026 ini akan dilakukan rekonstruksi atau pembangunan ulang dengan desain yang baru setelah mendapat dukungan dana dari Kementerian Pekerja Umum.
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade saat melakukan kunjungan ke Padang pada Rabu (8/4) mengatakan bahwa Kementerian PU telah menyatakan dukungan untuk rekonstruksi Stadion Haji Agus Salim Padang, sebagai bentuk dukungan pemerintah pusat untuk kemajuan di Sumatra Barat.
“Alokasi anggaran sudah ada yakni Rp400 miliar untuk masa pengerjaan satu tahun tuntas,” katanya, Rabu (8/4/2026).
Dia menyampaikan sebelumnya Stadion Haji Agus Salim Padang itu direncanakan untuk direnovasi, namun setelah melakukan kajian kembali bersama Kementerian PU, maka diambil keputusan untuk melakukan pembangunan ulang dengan desain yang modern, dan tetap menampilkan ikon Minangkabau, karena stadion ini juga menjadi kebanggaan masyarakat Sumbar.
“Rencana desainnya sudah ada, ada bentuk gonjong dan warna marawa juga, identik sekali dengan Minangkabau. Kemudian kapasitas di stadion juga ditingkatkan dari 10.000 set/orang menjadi 15.000 set/orang,” ujarnya.
Andre berharap rekonstruksi Stadion Haji Agus Salim ini bisa berjalan dengan baik dan sesuai dengan tenggat waktu yang telah diberikan yakni satu tahun pengerjaan tuntas 100% dengan anggaran Rp400 miliar.
“Jadi selama pembangunan dilakukan, tim Semen Padang FC akan menjadi tim musafir untuk satu musim, dan akan kembali bisa merumput ke kampung halaman pada musim 2027/2028,” ungkap Andre yang juga dikenal sebagai Duta Sumbar ini.
Terkait penataan di lingkungan stadion pada saat pengerjaan nanti, Andre menekankan kepada Satker Pelaksanaan Prasarana Strategis Kementerian PU Wilayah Sumbar dan Pemprov Sumbar melakukan pendekatan yang ramah dan baik kepada masyarakat maupun ke pedagang.
“Saya berharap jangan sampai ada masyarakat merasa dirugikan adanya pembangunan ulang stadion ini. Utamakan sosialisasi dan pendekatan ke masyarakat dan pedagang terlebih dahulu, karena saya melihat banyak pedagang di sekitar stadion dan aktivitas masyarakat juga ramai,” kata dia.
Di kesempatan itu, Kepala Satuan Kerja (Satker) Pelaksanaan Prasarana Strategis Kementerian PU Wilayah Sumbar, Jihat menjelaskan bahwa diperkirakan pada Mei 2026 tahapan pengerjaan rekonstruksi bisa dimulai.
Sebelum proses tender ini selesai, kami bersama Pemprov Sumbar nantinya akan melakukan sosialisasi juga, termasuk penataan kepada pedagang-pedagang yang ada di kawasan Stadion Haji Agus Salim ini. Karena pada saat ini pengerjaan ini, sekitar proyek harus clear dulu,” tegasnya.
Jihat bilang secara umum desain Stadion Haji Agus Salim yang baru nanti akan terlihat lebih modern dan tetap mengedepankan ikon Minangkabau.
Kemudian dari sisi di dalam stadion, untuk arena pacu lari atau jogging track tidak lagi berada di dalam, tapi akan dibuatkan di luar stadion, seperti yang ada di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
“Intinya secara desain dan fasilitas lainnya, Stadion Haji Agus Salim menetapkan standar AFC,” tegasnya.
Jakarta, CNBC Indonesia - Siapa sangka, Menteri Luar Negeri Indonesia pernah disorot oleh Perdana Menteri Belanda dan orang asing bukan karena skandal, tapi karena sikap hidupnya yang begitu sederhana dan layak diacungi jempol. Sosok itu adalah K.H. Agus Salim.
Agus Salim dikenal sebagai diplomat ulung sekaligus Menteri Luar Negeri RI pada 1947-1948. Dia menjadi tokoh kunci dalam diplomasi Indonesia di panggung dunia pasca-proklamasi.
Dalam tugasnya, dia aktif berkeliling ke berbagai negara untuk memperjuangkan pengakuan kedaulatan Indonesia. Kepiawaiannya dalam berbahasa asing dan berdiplomasi membuatnya disegani banyak pihak, termasuk para tokoh asing.
Namun, yang membuat dunia terkesan bukan hanya kecerdasannya, melainkan juga kesederhanaan hidupnya. Di saat diplomat lain tampil necis dengan jas dan sepatu mengilap, Agus Salim justru tampil apa adanya.
Dia tidak pernah berusaha tampil mewah. Bahkan saat menghadiri acara resmi kenegaraan.
"Jas yang dia kenakan dalam acara-acara resmi sering kali terlihat kumal dan topi yang dia pakai pun bukan barang baru," ungkap buku Agus Salim: Peran dan Sumbangsihnya bagi Indonesia (2024).
Kesederhanaan itu bukan karena tak mampu, melainkan pilihan hidup. Selama menjabat, Agus Salim tidak memiliki rumah pribadi.
Dia hidup berpindah-pindah. Kadang, ia menumpang dan menyewa rumah sederhana bersama keluarganya.
Sikap ini membuatnya disorot oleh banyak pihak asing. Termasuk diplomat dan Perdana Menteri Belanda Willem Schermerhorn, yang kagum sekaligus heran melihat gaya hidupnya.
Dalam catatannya Het Dagboek van Schermerhorn (1946), sang PM menulis: "Orang tua yang sangat pintar ini, seorang jenius dalam bidang bahasa, bicara, dan menulis dengan sempurna, menguasai paling sedikit sembilan bahasa. Dia hanya memiliki satu kelemahan, yaitu selama hidupnya melarat."
Selain disebut melarat, pria kelahiran 8 Oktober ini juga pernah dijuluki "kambing" oleh wartawan sekaligus penyair Belanda, Jef Last. Julukan itu muncul setelah Last menyaksikan peristiwa unik saat Salim berpidato di hadapan para pemuda.
Kala itu, sebagian hadirin yang merupakan lawan politiknya memberi ejekan dengan suara kambing, yakni "mbek, mbek, mbek". Mereka berkata demikian sebab Salim punya janggut panjang mirip kambing.
Alih-alih marah, Agus Salim menanggapinya dengan cerdas dan jenaka. "Tunggu sebentar. Sungguh menyenangkan, kambing-kambing pun datang ke ruangan ini untuk mendengar pidato saya," tutur Agus Salim dikutip dari Haji Agus Salim (1884-1954): Tentang Perang, Jihad, dan Pluralism(2004).
Bagi Salim, mereka bersuara kambing karena tidak mengerti bahasa manusia. Atas dasar inilah, sosok yang dijuluki The Grand Old Man ini meminta para pendengar keluar ruangan untuk makan rumput. Barulah setelah selesai, mereka akan ditemui kembali.
"Setelah pidato saya selesai, saya akan berbicara dalam bahasa kambing untuk mereka," terang Salim.
Sontak, ruangan hening. Para hadirin yang semula mengejeknya justru tertunduk malu.
Dari sanalah muncul ungkapan dari Last bahwa Agus Salim menguasai "bahasa kambing". Ini bukan karena benar-benar bisa berbicara dengan hewan, tapi karena kecerdasannya menundukkan ejekan dengan cara yang elegan dan bermartabat.
Kiprah pria kelahiran 8 Oktober ini sebagai Menlu RI berakhir pada 1948. Namun, setelahnya dia masih tetap aktif di dunia diplomasi membela Indonesia sampai wafat pada 4 November 1954.
Dia kemudian dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata dan menjadi orang RI pertama yang terbaring di sana, meski belum berstatus pahlawan. Barulah pada tahun 1967, dia ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
Jakarta, CNBC Indonesia - Gaya hidup para pejabat Indonesia kerap menjadi sorotan publik. Namun, di antara mereka, sosok Agus Salim layak dijadikan teladan. Sepanjang hidupnya, ketika menjabat sebagai pejabat tinggi negara hingga setelah pensiun, dia tetap hidup sederhana dan jauh dari kemewahan. Bahkan, sering dibilang melarat karena tak punya jas bagus hingga tinggal di kontrakan.
Nama Agus Salim memang tak sebesar Soekarno atau Mohammad Hatta. Namun, perannya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan masa awal berdirinya republik sangat besar. Sebagai Menteri Luar Negeri (1947-1948), Salim menjadi tokoh kunci dalam diplomasi Indonesia di dunia internasional. Dia aktif berkeliling ke berbagai negara untuk memperjuangkan pengakuan kedaulatan Indonesia.
Kepiawaiannya berbahasa dan berdiplomasi membuatnya dihormati banyak pihak, termasuk oleh tokoh asing. Perdana Menteri Belanda, Willem Schermerhorn, sampai kagum atas sikapnya.
"Orang tua yang sangat pintar ini (Agus Salim) seorang jenius dalam bidang bahasa, bicara, dan menulis dengan sempurna, paling sedikit sembilan bahasa, tapi punya satu kelemahannya yaitu selama hidupnya melarat," ungkap PM Belanda Willem Schermerhorn, dalam Het Dagboek van Schermerhorn (1946).
Apa yang disampaikan orang nomor satu di Belanda soal kemelaratan Salim memang benar. Pria kelahiran 8 Oktober itu memang penuh kesederhanaan dan cenderung melarat. Pada umumnya, diplomat selalu tampil rapih berjas untuk membentuk citra diri baik di hadapan para utusan asing. Agus Salim tidak seperti itu. Meski sering hadir dalam acara resmi, dia tidak pernah berusaha tampil mewah.
"Jas yang dia kenakan dalam acara-acara resmi sering kali terlihat kumal dan topi yang dia pakai pun bukan barang baru," ungkap buku Agus Salim: Peran dan Sumbangsihnya bagi Indonesia (2024).
Gaya hidup sederhana itu bukan karena tak mampu, melainkan karena pilihan untuk menjauh dari kemewahan. Bahkan selama menjabat dan pensiun, Agus Salim tidak memiliki rumah sendiri. Dia lebih sering tinggal di rumah kontrakan dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Kisah paling menyentuh datang ketika salah satu anaknya meninggal dunia. Dia sampai tak mampu beli kain kafan.
"Karena tidak memiliki uang untuk membeli kain kafan, Agus Salim dengan tenang mengambil taplak meja dan kain kelambu yang sudah terpakai untuk membungkus jenazah anaknya," ungkap buku Agus Salim: Peran dan Sumbangsihnya bagi Indonesia (2024).
Saat seorang kolega menawarkan kain kafan baru, Agus Salim menolak dengan bijak. Alasannya karena kain baru lebih dibutuhkan oleh orang yang masih hidup. Baginya, orang yang sudah wafat tak perlu memerlukan apapun selain kedamaian.
Sikap hidup seperti ini sudah memang melekat pada dirinya sejak muda. Pada masa 1920-an, meski berasal dari keluarga terpandang, yakni anak seorang jaksa di masa kolonial, Salim memilih hidup sederhana.
"Dia pernah tinggal di rumah kontrakan di Tanah Tinggi yang jalannya berlumpur di musim hujan, atau menumpang di rumah seorang kawannya," tulis Amrin Imran dalam Perintis Kemerdekaan: Perjuangan dan Pengorbanannya (1991).
Kesederhanaan itu dijaganya sampai akhir hayat pada 4 November 1954. Saat berpulang, pemerintah kemudian memakamkannya di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara kenegaraan.
Menurut Harian Merdeka (5 November 1954), Salim menjadi orang pertama yang dimakamkan di TMP Kalibata meski bukan pahlawan dan orang kedua setelah Jenderal Soedirman yang mendapat upacara kenegaraan.
"Mengingat K.H. Agus Salim almarhum sebagai tokoh nasional yang besar, maka pemerintah memutuskan untuk memakamkan jenazahnya dengan upacara kenegaraan. Sekaligus juga meminta kantor pemerintah dan masyarakat mengibarkan bendera setengah tiang," ungkap juru bicara pemerintah.
Masih menurut Harian Merdeka (6 November 1954), ribuan orang hadir mengantarkan kepergiannya, termasuk presiden, wakil presiden, dan para pejabat tinggi negara. Mereka meneteskan air mata melepas Salim.
Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya, pemerintah baru menetapkan K.H. Agus Salim sebagai pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 657 Tahun 1961, tertanggal 27 Desember 1961.
(mfa/wur)
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56