Bisnis.com, JAKARTA — Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menargetkan Gerakan Belanja di Indonesia Aja (BINA) Lebaran 2026 dapat mengantongi transaksi Rp52,38 triliun.
Wakil Ketua Umum Hippindo, Fetty Kwartati mengatakan BINA Lebaran 2026 diharapkan menjadi pengungkit konsumsi domestik, seiring meningkatnya pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) dan aktivitas belanja menjelang Hari Raya Idulfitri.
Menurutnya, sektor wisata dan belanja merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dia menilai, setiap pergerakan wisatawan selalu diikuti aktivitas makan dan belanja yang mendorong perputaran transaksi domestik.
“BINA Lebaran tahun ini periode 6–30 Maret 2026 targetnya adalah Rp50 triliun lebih, pesertanya 800brandkurang lebih 80 gerai dan juga diikuti lebih dari 400 anggota mal di seluruh Indonesia,” kata Fetty dalam konferensi pers BINA Lebaran di Mall Kota Kasablanka, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Adapun, target transaksi tersebut diproyeksikan meningkat sekitar 10%–15% dibandingkan tahun sebelumnya. Dia menyebut optimisme pertumbuhan itu seiring dengan kolaborasi lintas kementerian, asosiasi, dan pelaku usaha yang dilakukan secara serentak melalui berbagai program dan kampanye.
Fetty berharap BINA Lebaran 2026 mampu meningkatkan traffic kunjungan pusat perbelanjaan sekaligus mendorong transaksi domestik, termasuk partisipasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah.
Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Bambang Wisnubroto menilai BINA Lebaran bukan sekadar program rutin, melainkan instrumen strategis untuk memacu konsumsi rumah tangga sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada penyelenggaraan tahun lalu, realisasi transaksi BINA Lebaran mencapai sekitar Rp32,7 triliun atau 90% dari target yang ditetapkan. Adapun pada 2026, target yang dipasang jauh lebih agresif, yakni sekitar Rp52,38 triliun.
“Tentunya ini perlu sinergi kita bersama, kita dukung sama-sama agar target yang meningkat kurang lebih 50% dibanding tahun lalu ini bisa kita capai,” kata Bambang.
Namun demikian, Bambang menyebut pencapaian target tersebut membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, asosiasi ritel, serta pelaku usaha.
Menurutnya, integrasi program prioritas di sektor pariwisata, dukungan promosi dari pemerintah daerah, serta kolaborasi dengan asosiasi pusat perbelanjaan menjadi faktor kunci.
Terlebih, Bambang menilai momentum Idulfitri 2026 yang berdekatan dengan rangkaian hari besar lain seperti Natal, Tahun Baru, dan Imlek dapat memperpanjang periode konsumsi masyarakat dan menjaga daya beli tetap bergairah.
“Jangan sampai ada celah kelesuan Rohana [rombongan hanya bertanya], Rojali [rombongan jarang membeli] segala macam. Jadi kita harus memastikan tidak ada celah kelesuan konsumsi setelah masa festif awal tahun ini berakhir,” tandasnya.