Bursa Asia Cetak Rekor, Pasar Abaikan Gejolak Venezuela

Bursa Asia Cetak Rekor, Pasar Abaikan Gejolak Venezuela

Bursa Asia mencetak rekor meski ada gejolak di Venezuela, didorong oleh aksi beli saham teknologi. Pasar fokus pada suku bunga dan likuiditas.

(Bisnis.Com) 05/01/26 10:16 93324

Bisnis.com, JAKARTA — Bursa saham Asia mencetak rekor baru pada awal perdagangan Senin (5/1/2026) seiring berlanjutnya aksi beli pada saham-saham teknologi di tengah gejolak geopolitik baru, menyusul langkah Amerika Serikat yang menangkap dan menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks saham Asia MSCI melonjak 0,7% pada pembukaan perdagangan setelah indeks teknologi yang menjadi acuan pasar menyentuh level tertinggi sepanjang masa. Indeks Topix Jepang terpantau naik 1,91% ke level 3.473,93, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan menguat 2,16% pada level 4.402,93.

Selanjutnya, indeks S&P/ASX 200 Australia juga terpantau menguat 0,06% pada kisaran 8.732,90. Kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat (AS) juga menguat pada awal perdagangan Asia, menyusul langkah Washington menggulingkan Presiden Venezuela yang memicu ketegangan geopolitik baru.

Kabar dari Venezuela muncul di tengah sentimen positif pasar Asia, yang mengawali 2026 dengan reli terkuat sejak 2012. Para analis Wall Street umumnya optimistis terhadap pasar saham tahun ini, meski eskalasi ketegangan geopolitik berpotensi menguji ketahanan aset berisiko global setelah mencatatkan kinerja tahunan terbaik sejak 2017.

“Gangguan geopolitik biasanya cepat mereda,” ujar Strategist Pepperstone Group Ltd., Dilin Wu.

Menurutnya, eskalasi mendadak di Venezuela gagal memberikan dampak berarti terhadap aset berisiko global, sekaligus menegaskan kecenderungan pasar yang hanya merespons singkat guncangan geopolitik sebelum cepat mencernanya.

Wu menambahkan, pelaku pasar kembali memusatkan perhatian pada arah suku bunga, kondisi likuiditas, serta perbedaan fundamental antarnegara, ketimbang terpaku pada risiko berbasis tajuk berita.

Sinyal awal menunjukkan pasar minyak global relatif mampu menyerap perkembangan tersebut. Infrastruktur minyak Venezuela dilaporkan tidak terdampak meski terjadi serangkaian serangan AS di Caracas dan sejumlah wilayah lain. Fasilitas utama seperti Pelabuhan Jose, kilang Amuay, serta area produksi di Sabuk Orinoco tetap beroperasi.

Chief Executive Officer Fibonacci Asset Management Global di Singapura, Jung In Yun, menilai bahwa penangkapan Presiden Nicolás Maduro berpotensi memicu sentimen risk-off jangka pendek di pasar Asia, terutama melalui kenaikan harga minyak dan premi risiko geopolitik.

Namun, dia menilai kecil kemungkinan situasi tersebut berkembang menjadi guncangan pasokan minyak yang berkepanjangan.

“Kami tidak melihat risiko eskalasi menjadi krisis minyak yang berkelanjutan, sehingga dampaknya terhadap sentimen pasar kemungkinan hanya sementara,” ujarnya.

Investor juga mencermati pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang dapat menekan pasar saham jika naik terlalu cepat. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun naik dua basis poin ke level 4,19% pada penutupan perdagangan Jumat, sementara imbal hasil tenor 30 tahun naik tiga basis poin menjadi 4,87%, tertinggi sejak September 2025.

Pertanyaan utama di pasar adalah apakah peristiwa di Venezuela akan meningkatkan daya tarik obligasi AS sebagai aset aman, atau justru menekan permintaan akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi dan kebijakan fiskal AS.

Chief Strategist BCA Research, Marko Papic, mengingatkan pelaku pasar agar tidak bereaksi berlebihan. Menurutnya, kemungkinan pengerahan pasukan darat dalam skala besar sangat kecil sehingga belanja fiskal AS tidak akan terdampak signifikan dan imbal hasil obligasi diperkirakan tidak melonjak.

Analis 22V Research, Kim Wallace, menilai penangkapan Maduro menandai awal yang dinamis bagi kebijakan Washington sebagai faktor risiko makro pada 2026. Namun, Wallace menyebut pertanyaan penting ke depannya adalah apakah gejolak kebijakan tersebut akan menciptakan risiko atau peluang nyata bagi pelaku pasar, atau sekadar lonjakan risiko sementara.

Di sisi lain, Presiden Federal Reserve Bank of Philadelphia, Anna Paulson, menyatakan pemangkasan suku bunga tambahan dalam skala moderat masih memungkinkan pada paruh akhir 2026, dengan catatan prospek ekonomi tetap kondusif.

Pasar saham AS sendiri membuka perdagangan 2026 secara hati-hati pada Jumat (2/1/2026), dengan indeks utama mencatatkan penguatan terbatas pada hari perdagangan pertama tahun ini. Sementara itu, pasar saham Asia membukukan awal tahun terbaik sejak 2012, ditopang oleh penguatan saham teknologi.

“Pasar saham kemungkinan akan mengabaikan hiruk-pikuk geopolitik, meskipun volatilitas meningkat. Arah suku bunga dan katalis khusus dari AS akan menjadi penentu utama pergerakan pasar sepanjang 2026,” ujar CEO Roundhill Investments, Dave Mazza.

Sejumlah data ekonomi penting juga akan menjadi perhatian pekan ini. Selain laporan ketenagakerjaan Desember 2025, Biro Statistik Tenaga Kerja AS akan merilis data pembukaan lowongan, pengunduran diri, dan pemutusan hubungan kerja untuk November 2025.

Survei aktivitas manufaktur dan jasa Desember 2025 dari Institute for Supply Management juga akan memberikan gambaran kondisi pasar tenaga kerja.

Menjelang akhir pekan, pemerintah AS dijadwalkan merilis data pembangunan rumah Oktober 2025, sementara University of Michigan akan menerbitkan indeks awal sentimen konsumen Januari.

#bursa-asia #saham-asia #rekor-bursa #gejolak-venezuela #teknologi-asia #indeks-msci-asia #topix-jepang #kospi-korea #s-amp-p-asx-200 #pasar-minyak-global #risiko-geopolitik #imbal-hasil-obligasi #suku

https://market.bisnis.com/read/20260105/7/1941526/bursa-asia-cetak-rekor-pasar-abaikan-gejolak-venezuela