Jadi Sasaran Jual Asing, BBRI, BMRI Cs Jeblok pada Perdagangan Perdana 2026

Jadi Sasaran Jual Asing, BBRI, BMRI Cs Jeblok pada Perdagangan Perdana 2026

Saham bank besar seperti BBRI dan BMRI anjlok pada perdagangan perdana 2026 akibat aksi jual asing, meski IHSG naik 1,17% ke 8.748,13.

(Bisnis.Com) 03/01/26 12:20 92118

Bisnis.com, JAKARTA — Sederet saham bank jumbo atau kelompok bank dengan modal inti (KBMI) IV seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) hingga PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menjadi sasaran jual asing. Kinerja saham bank jumbo pun jeblok dan menjadi pemberat indeks komposit pada perdagangan perdana 2026.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BBRI mencatatkan nilai jual bersih atau net sell asing tertinggi pada perdagangan perdana 2026, Jumat (2/1/2026) sebesar Rp366,69 miliar.

Kemudian, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) mencatatkan net sell asing sebesar Rp83,79 miliar, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mencatatkan net sell asing sebesar Rp39,98 miliar, dan BMRI mencatatkan net sell asing Rp23 miliar pada perdagangan perdana 2026.

Seiring dengan catatan jual asing, saham bank jumbo pun jeblok. Harga saham BBRI turun 0,55% ke Rp3.640 per lembar pada perdagangan perdana 2026.

Saham bank jumbo lainnya BBNI turun 2,52% ke Rp4.260 per lembar, BMRI turun 0,49% ke Rp5.075 per lembar, dan BBCA turun 0,62% ke Rp8.025 per lembar pada perdagangan perdananya tahun ini.

Lesunya saham bank jumbo pun menjadi pemberat atau top laggards indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan perdana 2026. Meskipun, IHSG mencatatkan penguatan sebesar 1,17% ke level 8.748,13 pada Jumat (2/1/2026).

Selain deretan bank jumbo, sejumlah saham lainnya menjadi top laggards. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) misalnya turun 2,52%.

Saham lainnya yang jadi top laggards adalah PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) yang turun 5%, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) turun 2,45%, dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) turun 2,14%.

Tim Riset Phintraco Sekuritas mencatat seiring dengan pelemahan saham-saham bank jumbo, kinerja indeks sektor saham keuangan atau IDXFINANCE pun menjadi paling lesu dibandingkan indeks sektor lainnya. IDXFINANCE melemah 0,87% pada perdagangan perdana 2026.

Terdapat sejumlah sentimen yang telah memengaruhi pasar saham pada perdagangan perdana 2026. Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan dana total dana pemerintah sebesar Rp276 triliun yang ditempatkan di perbankan, sebesar Rp75 triliun telah ditarik untuk kebutuhan belanja rutin kementerian dan lembaga. Hal ini karena realisasi dampak kebijakan tersebut terhadap pertumbuhan kredit perbankan masih di bawah estimasi sebelumnya.

Pertumbuhan kredit masih stabil di kisaran level 7%, yang diperkirakan dipengaruhi oleh suku bunga kredit perbankan masih bertahan di sekitar level 8,96% per November 2025 meskipun BI Rate berada di level 4,75%.

Sentimen lainnya yang telah menyertai pergerakan pasar saham pada perdagangan perdana 2026 adalah indeks S&P Global Manufacturing PMI Indonesia yang turun ke level 51,2 periode Desember 2025, dari 53,3 di November 2025. Indeks masih menunjukkan adanya ekspansi manufaktur selama lima bulan berturut-turut.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#saham-bank-jumbo #jual-asing #perdagangan-perdana-2026 #bbri-net-sell #bmri-net-sell #bbni-net-sell #bbca-net-sell #saham-bbri-turun #saham-bbni-turun #saham-bmri-turun #saham-bbca-turun #top-laggards

https://market.bisnis.com/read/20260103/7/1941253/jadi-sasaran-jual-asing-bbri-bmri-cs-jeblok-pada-perdagangan-perdana-2026