Simak Anjuran Terapi Hormon untuk Wanita Menopause

Simak Anjuran Terapi Hormon untuk Wanita Menopause

Terapi hormon menopause membantu mengatasi gejala menopause, seperti hot flashes dan osteoporosis, namun perlu konsultasi dokter karena ada risiko kesehatan.

(Bisnis.Com) 19/10/25 10:10 8511

Bisnis.com, JAKARTA – Memasuki masa menopause, wanita akan mengalami banyak perubahan pada tubuh karena terhentinya produksi hormon estrogen.

Menopause umumnya terjadi pada semua wanita mulai dari usia 45 dan 55 tahun. Di momen ini wanita akan mengalami transisi hormonal yang dapat menyebabkan berbagai gejala fisik dan emosional, mulai dari rasa panas dan keringat malam hingga perubahan suasana hati, nyeri sendi, dan perubahan elastisitas kulit.

Untuk mengatasinya, banyak wanita mencari alternatif mulai dari yang alami hingga melakukan terapi hormon.

Terapi hormon menopause adalah pengobatan dengan hormon wanita. Terapi ini dilakukan untuk menggantikan estrogen yang berhenti diproduksi tubuh setelah menopause, yaitu saat menstruasi berhenti total.

Terapi ini paling sering digunakan untuk mengatasi gejala-gejala umum menopause, seperti rasa panas pada tubuh atau hot flashes, keringat di malam hari, perubahan suasana hati, dan ketidaknyamanan pada vagina.

"Terapi hormon berperan menggantikan hormon yang tidak diproduksi cukup oleh tubuh. Setelah kadar hormon meningkat, kebanyakan orang akan merasa lebih baik dari gejala-gejala yang mereka alami," kata dr. Ni Komang Yeni, Dokter Spesiais Obstetri dan Ginekolog di Jakarta, Kamis (16/10/2025).

Terapi hormon pengganti juga dapat membantu mengatasi pengeroposan tulang (osteoporosis dan osteopenia), kondisi umum yang dialami wanita yang kekurangan estrogen.

Namun, terapi hormon menopause memiliki risiko, yang bergantung pada jenis terapi, dosis obat, lama pengobatan, usia, dan risiko kesehatan masing-masing wanita.

Oleh karena itu, perlu pemeriksaan ke dokter terlebih dahulu agar terapi hormon menopause bisa disesuaikan untuk setiap kondisi.

Terapi hormon menopause sendiri bisa berbentuk pil, plester kulit, cincin, gel, krim, atau semprot. Pemberiannya bisa dilakukan dengan konsumsi pil setiap hari, atau dalam beberapa hari sekali.

Umumnya, kebanyakan orang menjalani terapi hormon menopause selama lima tahun atau kurang. Namun, tidak ada jangka waktu yang pasti, dan durasinya dapat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan gejala, jenis hormon yang dijalani, dan preferensi pasien.

Namun, tidak semua wanita menjelang atau yang sudah memasuki masa menopause bisa mendapatkan terapi penggantian hormon. Dokter Yeni menyebutkan, wanita dengan riwayat penyakit berikut tidak dianjurkan menerima terapi pengganti hormon:

• Menderita atau pernah menderita kanker payudara, kanker ovarium, atau kanker rahim

• Mengalami perdarahan abnormal pada vagina abnormal

• Memiliki atau berisiko tinggi mengalami pembekuan darah

• Memiliki riwayat stroke, serangan jantung, atau peningkatan risiko penyakit kardiovaskular

• Sedang hamil

• Memiliki penyakit kandung empedu atau hati

#menopause #terapi-hormon #wanita-menopause #gejala-menopause #pengobatan-menopause #estrogen-menopause #hot-flashes #keringat-malam #perubahan-suasana-hati #terapi-pengganti-hormon #risiko-terapi-horm

https://lifestyle.bisnis.com/read/20251019/106/1921320/simak-anjuran-terapi-hormon-untuk-wanita-menopause