Jejak Katolik dalam Pendidikan Wanita Jepang
Fuji Women's University di Sapporo, Jepang, didirikan oleh misionaris Katolik Jerman pada 1925 untuk meningkatkan akses pendidikan bagi perempuan. Meski kini bersifat sekuler, universitas ini tet
(Bisnis.Com) 17/12/25 09:11 75355
Bisnis, JAKARTA — Katolik bukanlah agama mayoritas di Jepang. Namun, jejak misionaris Katolik rupanya masih berpengaruh di negara tersebut, yakni melalui salah satu lembaga pendidikan tingginya, Fuji Women’s University di Sapporo, Prefektur Hokkaido, Jepang.
Universitas tersebut merayakan 100 tahun kehadirannya pada tahun ini. Saya berkesempatan mengunjungi universitas ini pada Jumat (5/12/2025) sebagai bagian dari agenda Jenesys Exchange Program 2025 yang saya ikuti bersama belasan jurnalis lain asal Asean pada 2-9 Desember 2025 lalu.
Jenesys merupakan singkatan dari Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths. Program ini diinisiasi oleh Pemerintah Jepang, khususnya Kementerian Luar Negerinya untuk mempererat hubungan persahabatan dengan negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara.
Sesuai dengan namanya, universitas tersebut merupakan universitas khusus untuk mahasiswi atau pelajar wanita. Rupanya, universitas ini didirikan bermula dari keprihatinan Gereja Katolik terhadap terbatasnya akses pendidikan bagi perempuan Jepang pada awal abad ke-20.
Jejak awalnya dapat ditelusuri ke tahun 1920, ketika tiga suster Katolik asal Jerman, yakni Sr. M. Jeanne Berchmans Salomon, Sr. M. Xavera Lehme, dan Sr. M. Candida von der Haar, tiba di Sapporo.
Kehadiran mereka di Sapporo dilatarbelakangi oleh visi seorang imam Fransiskan asal Jerman di Sapporo, Wenseslaus Kinold, yang belakangan menjadi uskup pertama di sana.
Kinold meyakini masa depan Hokkaido terletak pada pendidikan perempuan, sehingga dia mengajukan permohonan kepada Gereja di Jerman untuk mengirim pendidik.
Mereka melihat kebutuhan mendesak akan lembaga pendidikan bagi perempuan di wilayah Hokkaido, yang saat itu masih tergolong daerah pinggiran dalam peta modernisasi Jepang.
“Pada masa itu, hampir tidak ada pendidikan tinggi khusus untuk perempuan di Jepang. Pendidikan perempuan masih dianggap sesuatu yang sulit dan tidak menjadi prioritas,” ujar Jeremy Redlich, Wakil Presiden Fuji Women’s University, saat memperkenalkan sejarah kampus tersebut kepada peserta Jenesys.
https://kabar24.bisnis.com/read/20251217/19/1937460/jejak-katolik-dalam-pendidikan-wanita-jepang