Harga Minyak Mentah Melemah Usai Irak Normalisasi Produksi
Harga minyak dunia turun setelah Irak memulihkan produksi di ladang West Qurna 2, mempengaruhi pasokan global. Brent dan WTI masing-masing turun 1,68%.
(Bisnis.Com) 09/12/25 08:12 65760
Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak dunia melemah setelah Irak mengumumkan memulihkan produksi di salah satu ladang minyak raksasanya. Kawasan ini menyumbang sekitar 0,5% pasokan minyak global.
Melansir Reuters pada Selasa (9/12/2025), harga minyak jenis Brent turun US$1,07 atau 1,68% ke level US$62,68 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$1,01 atau 1,68% ke posisi US$59,07 per barel.
Dua pejabat energi Irak mengatakan bahwa negara tersebut telah memulihkan produksi di ladang minyak West Qurna 2 milik Lukoil, salah satu ladang terbesar di dunia, setelah kebocoran pipa ekspor sebelumnya memangkas volume produksi.
Sebelumnya, harga sempat memangkas penurunan setelah sumber menyebut Irak menghentikan sementara operasi di ladang tersebut, yang memproduksi sekitar 460.000 barel per hari
Baik kontrak Brent maupun WTI sebelumnya ditutup pada level tertinggi sejak 18 November pada akhir perdagangan Jumat.
“Jika dalam waktu dekat tercapai kesepakatan terkait Ukraina, maka ekspor minyak Rusia kemungkinan meningkat dan menekan harga minyak,” ujar Analis pasar minyak dari PVM, Tamas Varga.
Di sisi lain, pasar saat ini mematok peluang 84% pemangkasan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 basis poin pada rapat yang berlangsung Selasa hingga Rabu, berdasarkan data LSEG.
Namun, sejumlah komentar pejabat bank sentral menunjukkan rapat kali ini berpotensi menjadi salah satu yang paling alot dalam beberapa tahun terakhir, sehingga meningkatkan perhatian investor terhadap arah kebijakan moneter.
Negosiasi Ukraina Masih Lamban
Perkembangan pembicaraan damai Ukraina masih berjalan lambat, dengan perbedaan pandangan terkait jaminan keamanan bagi Kyiv serta status wilayah yang diduduki Rusia belum menemui titik temu, meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendorong tercapainya kesepakatan sesegera mungkin.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada Senin juga menggelar pertemuan dengan para pemimpin Eropa di London.
Analis ANZ menilai berbagai skenario hasil negosiasi terbaru Trump dapat memicu perubahan pasokan minyak global lebih dari 2 juta barel per hari.
Aegis Hedging mencatat setiap premi risiko geopolitik akan berhadapan dengan sinyal surplus pasokan global yang meningkat, seiring kenaikan suplai dari negara anggota OPEC+ dan non-OPEC melampaui pertumbuhan permintaan yang relatif moderat.
Analis Commonwealth Bank of Australia Vivek Dhar menyebut tercapainya gencatan senjata menjadi risiko utama penurunan harga minyak. Sebaliknya, kerusakan berkelanjutan pada infrastruktur minyak Rusia menjadi risiko kenaikan harga yang signifikan.
Pada saat yang sama, negara-negara G7 dan Uni Eropa disebut tengah membahas rencana menggantikan kebijakan batas harga minyak Rusia dengan larangan penuh layanan maritim, yang berpotensi semakin menekan pasokan dari produsen minyak terbesar kedua dunia itu.
Amerika Serikat juga meningkatkan tekanan terhadap anggota OPEC Venezuela, termasuk melakukan serangan terhadap kapal yang dituding terlibat penyelundupan narkoba ilegal serta wacana aksi militer untuk menggulingkan Presiden Nicolas Maduro.
Di Asia, kilang independen China meningkatkan pembelian minyak Iran yang terkena sanksi dari fasilitas penyimpanan darat memanfaatkan kuota impor baru, sehingga membantu meredakan kelebihan pasokan.
Sementara itu, jajak pendapat pendahuluan Reuters menunjukkan stok minyak mentah AS diperkirakan turun pekan lalu, namun persediaan bensin dan distilat diproyeksikan mengalami peningkatan.
#harga-minyak #minyak-dunia #harga-minyak-brent #harga-minyak-wti #produksi-minyak-irak #ladang-minyak-west-qurna #ekspor-minyak-rusia #suku-bunga-the-fed #negosiasi-ukraina #pasokan-minyak-global #ope