Proyeksi Kinerja Duo Raksasa Emiten Unggas JPFA & CPIN Akhir 2025

Proyeksi Kinerja Duo Raksasa Emiten Unggas JPFA & CPIN Akhir 2025

JPFA dan CPIN diprediksi tumbuh positif di 2025-2026, didorong pemulihan harga ayam dan efisiensi produksi.

(Bisnis.Com) 05/12/25 18:55 62563

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja fundamental dua emiten unggas, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) diperkirakan akan tumbuh positif, baik di akhir 2025 ini atau 2026 nanti.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi memperkirakan CPIN bakal menutup 2025 dengan laba bersih Rp4,42 triliun, sementara JPFA mencapai Rp3,23 triliun. Proyeksi positif ini sejalan dengan momentum pemulihan harga ayam dan disiplin sektor dalam menjaga pasokan.

"Perbaikan margin pada kuartal III/2025 menjadi dasar kuat bahwa sektor unggas memasuki fase ekspansi siklis setelah tekanan pada 2023–2024, dengan permintaan unggas domestik juga bergerak stabil menuju penutup tahun," ujarnya, Jumat (5/12/2025).

Sementara itu, memasuki 2026 Imam meramal CPIN akan melanjutkan pertumbuhan laba ke Rp5,09 triliun, atau naik 15% secara year-on-year (YoY) dengan ekspansi gross profit margin (GPM) menuju 9,6%. Rasio keuntungan kotor dibandingkan pendapatan itu mencerminkan efisiensi produksi dan penurunan gearing yang membuat struktur biaya lebih ringan.

Sementara bagi JPFA, perusahaan diproyeksikan akan mencatat laba sebesar Rp3,45 triliun di 2026. Dibandingkan dengan CPIN, Imam mengatakan pertumbuhan laba JPFA memang lebih moderat, namun tetap solid dengan return on equity (ROE) yang ditaksir akan bertahan di kisaran 19%, menunjukkan operasi bisnis yang efisien.

"Secara kesimpulan, CPIN berpotensi menghasilkan pertumbuhan yang lebih agresif, sementara JPFA menawarkan stabilitas earnings dengan valuasi yang relatif lebih rendah," tandasnya.

Kinerja profit margin yang solid telah ditunjukkan kedua emiten dalam realisasi kinerja sembilan bulan pertama 2025. Kedua perusahaan unggas ini sama-sama mencatat pertumbuhan laba bersih yang jauh melebihi dari kenaikan penjualan mereka.

Per akhir September 2025, laba bersih dan pendapatan JPFA masing-masing naik 15% YoY dan 4,04% YoY. Sementara CPIN membukukan kenaikan masing-masing 40,1% YoY dan 1,8% YoY.

Imam menjelaskan, margin sektor unggas sepanjang 2025 menguat terutama karena kombinasi pemulihan harga livebird dan DOC serta normalisasi biaya bahan baku pakan. Selain itu, penurunan harga soybean meal dan disiplin pasokan melalui voluntary culling serta pengetatan impor grand parent stock (GPS) menciptakan keseimbangan supply-demand yang menjaga harga ayam tetap atraktif. Kombinasi ini yang membuat pertumbuhan laba jauh melampaui kenaikan revenue.

"Kondisi margin ini masih berpotensi dipertahankan tahun depan, terutama bila pengendalian pasokan berlanjut dan volatilitas input cost tetap terjaga. Kami menilai keseimbangan pasokan akan kembali mendukung harga broiler setidaknya hingga paruh pertama 2026," ujarnya.

Walau katalis positif menyertai, Imam mengatakan tantangan tahun depan tetap ada. Faktor ini meliputi harga jagung domestik yang sensitif terhadap cuaca, pergerakan mata uang dolar AS yang mempengaruhi biaya bahan baku impor, serta risiko perubahan kebijakan terkait culling maupun kuota GPS. Jika salah satu faktor tersebut berubah signifikan, maka ekspansi margin dapat tertahan pada tahun mendatang.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#jpfa-2026 #cpin-2026 #emiten-unggas #kinerja-jpfa #kinerja-cpin #laba-bersih-jpfa #laba-bersih-cpin #pertumbuhan-laba-cpin #pertumbuhan-laba-jpfa #margin-sektor-unggas #harga-ayam-2026 #pemulihan-harg

https://market.bisnis.com/read/20251205/192/1934574/proyeksi-kinerja-duo-raksasa-emiten-unggas-jpfa-cpin-akhir-2025