4 Proyek Panas Bumi PGEO Berpeluang Didanai World Bank Cs Rp10,18 Triliun
Empat proyek PT Pertamina Geothermal Energy (PGEO) berpotensi mendapat pendanaan Rp10,18 triliun dari lembaga internasional, termasuk World Bank, setelah masuk Blue Book Bappenas 2025-2029.
(Bisnis.Com) 04/12/25 10:51 60535
Bisnis.com, JAKARTA – Empat proyek PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. atau PGE (PGEO) berpeluang mendapat pendanaan dari lembaga internasional senilai Rp10,18 triliun sejalan dengan masuknya proyek tersebut ke dalam Blue Book 2025-2029 Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas).
Empat proyek panas bumi PGEO tersebut adalah Lumut Balai Unit 3, Lumut Balai Unit 4, Gunung Tiga/Ulubelu Extension I, serta Lahendong Unit 7–8 & Binary.
Direktur Eksplorasi & Pengembangan PGE Edwil Suzandi mengatakan total nilai investasi untuk keempat proyek PGE yang masuk Blue Book tersebut mencapai lebih dari US$1,09 miliar.
Dari estimasi total investasi itu, kata Edwil, keempat proyek panas bumi itu berpotensi memperoleh pendanaan luar negeri melalui skema indicative concessional loan dengan nilai mencapai US$613 juta, atau setara Rp10,18 triliun (kurs Rp16.615 per dolar AS).
Adapun, lembaga multilateral yang berpotensi mendanai proyek PGE itu antara lain adalah seperti World Bank, Asian Development Bank (ADB), Japan Bank for International Cooperation (JBIC), dan Japan International Cooperation Agency (JICA).
“Pengembangan proyek-proyek ini tidak hanya meningkatkan bauran energi terbarukan nasional, tetapi juga menghadirkan multiplier effects bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi, mulai dari penciptaan lapangan kerja baru hingga bertumbuhnya aktivitas ekonomi lokal," ujar Edwil dalam keterangan resmi, Kamis (4/12/2025).
Realisasi proyek-proyek ini diproyeksikan menambah 215 megawatt (MW) kapasitas listrik rendah emisi, yang direncanakan beroperasi secara bertahap mulai 2029 hingga 2032. PGEO menargetkan pengembangan potensi 3 gigawatt (GW) panas bumi dari aset-aset yang dimiliki perseroan.
Lebih terperinci, kebutuhan belanja modal proyek Lumut Balai Unit 3 diperkirakan sebesar US$305 juta dan capital expenditure (capex) Lumut Balai Unit 4 senilai US$290 juta. Kedua aset ini akan memperkokoh klaster pengembangan panas bumi PGE di Sumatera Selatan.
Berikutnya, Gunung Tiga/Ulubelu Extension I dengan capex US$227 juta akan menambah pasokan energi bersih di Provinsi Lampung, serta proyek Lahendong Unit 7–8 & Binary dengan capex US$274 juta akan memperluas pengembangan panas bumi di Sulawesi Utara.
Edwil menjelaskan, melalui skema Subsidiary Loan Agreement (SLA), atau mekanisme pinjaman terusan dari salah satu lembaga multilateral kepada Pemerintah Indonesia yang menawarkan pembiayaan berbiaya rendah dan berjangka panjang, kelayakan ekonomi proyek menjadi semakin kuat.

Skema pembiayaan ini berpotensi meningkatkan internal rate of return (IRR) proyek sebesar 1%–3% yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan sekaligus memastikan keberlanjutan investasi jangka panjang.
"Pada tahap selanjutnya, PGE akan memasuki proses negosiasi dengan lembaga multilateral untuk memperoleh term pendanaan paling optimal termasuk struktur pembiayaan, tingkat suku bunga, tenor, serta persyaratan teknis dan lingkungan," tandasnya.
Pada saat bersamaan, PGEO bersama dengan PT Pertamina (Persero), Kementerian PPN/Bappenas, dan Kementerian Keuangan sedang menyusun readiness criteria sebagai prasyarat untuk dapat masuk ke dalam Green Book yang membuka akses penuh terhadap pendanaan luar negeri.
#pgeo #blue-book #world-bank #pendanaan-internasional #proyek-geothermal #lumut-balai #gunung-tiga #lahendong-unit #energi-terbarukan #investasi-panas-bumi #asian-development-bank #japan-bank #jica #ka