Danantara: 120 Perusahaan Antre Ikut Lelang 10 Proyek Pembangkit Sampah
Danantara mengklaim 120 perusahaan tertarik ikut lelang 10 proyek pembangkit listrik tenaga sampah.
(Bisnis.Com) 16/10/25 18:25 5931
Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengklaim 10 proyek pertama waste to energy atau pengelolaan sampah jadi energi listrik (PSEL) dibanjiri minat investor.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir mengungkapkan bahwa hingga saat ini, sudah ada 120 perusahaan dan konsorsium tertarik untuk mengikuti lelang proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) atau PSEL.
"Kita sudah buka selama 10 minggu terakhir siapa yang ingin masuk, ada 120 perusahaan dan konsorsium yang ingin bidding hanya untuk 10 proyek pertama. Ini massive demand," ujar Pandu, Kamis (16/10/2025).
Menurutnya, tingginya minat investor tersebut tak lepas dari term perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement) yang menarik secara komersial.
Ketentuan tersebut termuat dalam aturan terbaru yang dirilis pemerintah, yakni Peraturan Presiden No 109/2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan Melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.
Lewat beleid tersebut, PT PLN (Persero) ditugaskan untuk membeli listrik yang dihasilkan PSEL dengan harga 20 sen per kWh untuk seluruh kapasitas. Harga dituangkan dalam PJBL tanpa negosiasi dan tanpa eskalasi harga.
"Perpres ini menyelesaikan isu terbesar secara komersial, di mana dulunya ada tipping fee di daerah kita hilangkan. Kita pindahkan semua di sisi power purchase agreement yang sekarang jadi 20 sen satu harga. Kita siapkan lahan gratis, kita take and pay dan 20 sen satu harga menurut kami cukup attractive," kata Pandu.
Terkait proses lelang proyek PSEL, Pandu menekankan bahwa pihaknya mensyaratkan tiga kriteria utama kepada calon investor. Pertama, calon investor harus memiliki teknologi yang paling kompetitif. Kedua, investor harus dapat mengatasi isu lingkungan terkait proyek PSEL. Ketiga, investor harus memiliki kekuatan finansial yang mencukupi.
Lebih lanjut, Pandu mengatakan, Danantara juga terbuka untuk menjadi partner dalam mengembangkan proyek PSEL.
"Kami siap menjadi partner. Kami bisa jadi strong minority partner atau majority partner, kalau diperlukan," katanya.
Sebelumnya, Pandu menyebut, program waste to energy di Indonesia meniru model serupa yang dilakukan di China pada 2007–2008. Dia menjelaskan, kala itu, sejumlah kota besar di China menghadapi lonjakan produksi sampah yang signifikan seiring dengan melesatnya urbanisasi.
Pandu menjelaskan, program waste to energy yang diterapkan China sukses mengatasi masalah tersebut. Dia bahkan mengatakan saat ini Negeri Tirai Bambu justru mengalami kekurangan sampah untuk menjalankan PLTSa yang dimiliki.
“Ini juga sesuatu yang bisa kita pelajari. Seperti kata Presiden kita, tirulah dengan bangga. Kita akan meniru praktik terbaik yang ada dan mencoba menerapkannya di Indonesia,” kata Pandu dalam Forbes Global CEO Conference 2025 di Jakarta pada Rabu (15/10/2025).
Adapun, Pandu melanjutkan, satu proyek waste to energy diperkirakan membutuhkan biaya sekitar US$150 juta - US$200 juta atau setara Rp2,5 triliun- Rp3,3 triliun. Dia mengatakan, proyek ini akan menjadi konversi limbah menjadi energi terbesar di dunia.
Dia mengatakan, pemerintah Indonesia berencana memulai 10 proyek waste to energy pada akhir 2025. Secara keseluruhan, Pandu mengungkap akan ada sekitar 33 proyek waste to energy yang tersebar di seluruh Indonesia
“Kami ingin memulai dengan 10 proyek di akhir tahun ini di lima kota berbeda. Satu proyek ini pada dasarnya bernilai US$200 juta, US$150 juta hingga US$200 juta," kata Pandu.
#danantara #proyek-pembangkit-sampah #waste-to-energy #pengelolaan-sampah #energi-listrik #investor-proyek-sampah #lelang-proyek-psel #power-purchase-agreement #peraturan-presiden-109-2025 #pln-beli-li