Alasan BMKG Tak Modifikasi Cuaca saat Bibit Siklon Lewati Sumatra
BMKG tidak modifikasi cuaca saat bibit siklon di Sumatra karena berbahaya. Modifikasi dilakukan saat cuaca stabil. Prediksi siklon di selatan hingga Februari 2026.
(Bisnis.Com) 01/12/25 20:23 57132
Bisnis.com, JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani mengatakan modifikasi cuaca saat terjadi bibit siklon tropis tidak bisa dilakukan karena membahayakan bagi petugas.
Dia menjelaskan bahwa tidak ada negara di dunia menyemai bibit modifikasi cuaca ketika bibit siklon tengah terjadi. Hanya saja, Jepang tengah melakukan riset untuk mengarahkan, membelokan, atau melemahkan siklon tersebut.
"Jadi itu memang tidak mungkin kita lakukan. Ekskalasinya terlalu besar dan membahayakan bagi penerbangan untuk melakukan modifikasi cuaca," katanya di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Senin (1/12/2025).
Proses modifikasi hanya bisa dilakukan ketika iklim dinyatakan cukup stabil dan tidak membahayakan penerbangan.
Kendati demikian, pihaknya masih melakukan modifikasi di area Sumatra dan Aceh yang dilakukan selama 24 jam sejak 27 November hingga 1 Desember 2025.
Adapun tim operasi modifikasi cuaca (OMC) telah melakukan 9 penerbangan sorti dengan menggunakan bahan semai 4.800 kg NaCl dan 2.400 kg CaO. Di Medan, OMC berlangsung di Posko Stasiun Meteorologi (Stamet) Sultan Iskandar Muda Aceh dan Posko Bandara Internasional Minangkabau Sumatra Barat.
Adapun OMC yang difokuskan melalui Posko Bandara Internasional Minangkabau telah dilakukan penyemaian 5 sorti penerbangan menggunakan pesawat Cessna Caravan PK-DPI dan PK-SNK dengan total bahan semai 4.400 kg NaCl.
Adapun, OMC di Aceh telah memasuki hari kedua dengan total 4 sorti penerbangan menggunakan pesawat Cessna Caravan PK-SNP yang menyemai 2.000 kg NaCl dan 2.000 kg CaO.
Prediksi Bibit Siklon
Faisal menyampaikan bahwa pihaknya memprediksi bibit siklon muncul di wilayah selatan pada November 2025 sampai Februari 2026.
Wilayah tersebut meliputi Bengkulu, Sumatra Bagian Selatan, Jakarta, Bali, Papua Tengah, dan Papua Selatan. Faisal menyebut tidak menutup kemungkinan siklon tropis menyebabkan intensitas hujan lebat di wilayah tersebut. Namun, kondisi ini juga bisa hilang.
"Tapi perlu diingat bahwa pembentukan bibitnya bisa jadi muncul kemudian hilang. Tidak berkembang menjadi siklon, itu bisa terjadi," jelasnya.
Meski begitu, pihaknya tetap memberikan perkembangan cuaca kepada kepala regional BMKG agar mitigasi dapat dilaksanakan, jika memang siklon serupa menerpa wilayah selatan.
"Tapi tentunya seperti yang kita sampaikan, kita punya kemampuan untuk memprediksi terbentuknya siklon, adanya bibit kita prediksi apakah dia terbentuk atau tidak, sehingga kita akan memberikan peringatan yang lebih dini kepada warga masyarakat," pungkasnya.
#bibit-siklon #modifikasi-cuaca #bmkg-siklon #siklon-tropis #cuaca-ekstrem #modifikasi-cuaca-sumatra #penerbangan-modifikasi-cuaca #omc-sumatra #omc-aceh #prediksi-siklon-bmkg #siklon-wilayah-selatan #n-a