Pengungsi Bencana Alam di Padang Keluhkan Menu Makanan
Pengungsi bencana di Padang mengeluhkan seringnya menu mie instan yang disajikan, khawatir dampak kesehatan, terutama bagi anak-anak dan bayi. Ketersediaan air juga terbatas.
(Bisnis.Com) 01/12/25 20:20 57131
Bisnis.com, PADANG - Pengungsi bencana alam yang ada di SDN 02 Cupak Tangah, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatra Barat, yang jumlahnya mencapai 312 orang, merasa bersyukur mendapatkan tempat pengungsian yang nyaman dan didukung kondisi cuaca yang cerah.
Namun, dari sisi kebutuhan makanan, salah seorang pengungsi Ijum mengatakan cukup sering disajikan makanan berupa mie instan. Kondisi ini dianggap cukup mengkhawatirkan kesehatan, terlebih banyak anak-anak yang ada di pengungsian tersebut.
“Kami sebenarnya sangat berterima kasih dengan adanya tempat pengungsian di sekolah ini, kami ditempatkan di dalam ruangan yang layak, karena biasanya pengungsi tidur di dalam tendang, tapi kami mendapatkan tempat pengungsian di dalam ruangan yang luas. Soal kebutuhan aman, baik itu untuk bayi, anak-anak, hingga para lansia,” katanya, Senin (1/12/2025).
Soal makanan, lanjutnya, terkadang ada yang membungkuskan nasi dengan lauk pauk, tapi untuk sajian mie instans juga terbilang lebih sering disajikan. Di satu sisi perut memang perlu diisi, namun jika sering mengkonsumsi mie instan, khawatirnya akan menimbulkan penyakit lainnya.
“Makan mie instans terlalu sering kan tidak baik bagi kesehatan. Jadi, bukannya kami tidak bersyukur soal telah dibantu juga untuk kebutuhan makanan, tapi ada baiknya jangan terlalu sering diberi makan mie instan,” ujar dia.
Dikatakannya meski bagi orang dewasa mau makan apapun selagi tidak kelaparan, kondisi yang demikian juga tidak aman bagi anak-anak. Apalagi ada pengungsi yang merupakan ibu yang memiliki bayi, yang artinya butuh asupan makanan yang bisa mendukung ASI untuk anaknya.
“Pengungsi di sini ada yang punya anak bayi juga, masih berusia dua bulan, menyusui dia. Harapan kami, bisa dikurangi menyajikan makanan berupa mie instan,” harap dia.
Selain soal makanan, Ijum bilang ketersedian air di sekolah tersebut juga kurang memadai untuk memenuhi kebutuhan ratusan pengungsi yang ada di sekolah. Kebutuhan mandi, mencuci, dan lainnya, dimana air akan menjadi hal yang penting tersedia di tempat pengungsian.
“Air yang terkadang harus menunggu diisi ulang lagi. Jadi, di saat kosong, antre dulu, tunda dulu untuk keperluan lainnya, sampai air benar-benar telah tersedia kembali,” sebutnya.
Sementara itu, Camat Pauh Titin Masfetrin mengatakan pengungsi di SDN 02 Cupak Tangah itu jumlahnya mencapai 312 orang yang terdiri dari anak-anak 54 jiwa, bayi 4 jiwa, lansia 23 jiwa, dan sisinya orang dewasa. Para pengungsi ini ditempatkan ke dalam ruang kelas sekolah, dimana untuk jumlah kelas sebanyak enam kelas.
“Jadi, kami bagi-bagi supaya untuk satu ruangan itu tidak terlalu ramai, sehingga bisa memberikan rasa aman. Soal logistik selalu cukup, dan bahkan menyiapkan layanan kesehatan bagi pengungsi,” katanya.
#pengungsi-bencana #bencana-alam #pengungsi-padang #makanan-pengungsi #mie-instan #kesehatan-pengungsi #kebutuhan-makanan #anak-anak-pengungsi #ibu-menyusui #air-bersih-pengungsi #tempat-pengungsian #l