Penyimpanan Limbah Tailing Nyaris Penuh, Pabrik Nikel di IMIP Kurangi Produksi

Penyimpanan Limbah Tailing Nyaris Penuh, Pabrik Nikel di IMIP Kurangi Produksi

Pabrik nikel di IMIP berencana mengurangi produksi karena kapasitas limbah tailing hampir penuh

(Bisnis.Com) 24/11/25 16:28 48306

Bisnis.com, JAKARTA — Sebuah pabrik pengolahan nikel yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh China dan beroperasi di Indonesia berencana memangkas produksi karena kapasitas penampungan limbah tailingnya hampir penuh, menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut. Langkah ini makin memperlihatkan persoalan pengelolaan limbah dalam industri nikel.

Mengutip Bloomberg, produksi PT QMB New Energy Materials Co. Ltd. dikabarkan akan turun setidaknya selama dua pekan, menurut sejumlah pihak yang meminta identitasnya dirahasiakan karena tidak berwenang memberikan keterangan kepada media. QMB sendiri merupakan perusahaan yang dimiliki antara lain oleh GEM Co. dan Tsingshan Holding Group Co. dari China.

Adapun perwakilan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi, kawasan industri nikel terbesar di Indonesia dan lokasi operasi QMB, membenarkan penurunan aktivitas tersebut. Menurut perwakilan tersebut, area penyimpanan tailing yang berada di dalam kawasan industri sudah hampir mencapai kapasitas maksimum, sementara proses perizinan untuk lokasi penyimpanan tambahan masih berlangsung.

GEM, sebagai pemegang saham terbesar QMB, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Indonesia saat ini memasok lebih dari separuh produksi nikel dunia, logam penting untuk baterai kendaraan elektrik dan baja nirkarat, terutama karena lonjakan investasi dari China.

Metode high-pressure acid leaching (HPAL) yang digunakan sejumlah smelter memungkinkan pemanfaatan bijih berkadar rendah dengan biaya relatif murah, tetapi menghasilkan volume limbah yang besar karena biasanya melalui proses pengeringan dan pemadatan sebelum disimpan.

Perluasan industri nikel yang berlangsung cepat makin mendapat sorotan publik di Indonesia, terutama terkait persoalan limbah. Para pakar mempertanyakan apakah metode HPAL dapat dioperasikan secara aman dan berkelanjutan di kepulauan tropis yang rawan hujan ekstrem dan gempa bumi.

Sebelumnya, longsor mematikan di area tailing QMB di kawasan Morowali telah memicu gangguan produksi pada awal tahun ini.

Selain itu, produsen HPAL juga menghadapi kenaikan biaya sulfur, bahan kimia utama untuk produksi asam. Namun, permintaan terhadap mixedhydroxide precipitate, produk nikel yang juga mengandung kobalt dan dihasilkan melalui HPAL, menguat tahun ini setelah Republik Demokratik Kongo memberlakukan pembatasan ekspor kobalt.

#nickel-production #tailing-storage #imip-nickel-plant #qmb-new-energy #indonesia-nickel-industry #tailing-management #hpal-method #nickel-waste #nickel-smelter #morowali-industrial-park #china-nickel

https://hijau.bisnis.com/read/20251124/651/1931264/penyimpanan-limbah-tailing-nyaris-penuh-pabrik-nikel-di-imip-kurangi-produksi