Pemkot Surabaya Gandeng ITS Teliti Air Hujan Mengandung Mikroplastik
Pemkot Surabaya dan ITS meneliti mikroplastik dalam air hujan untuk menyusun kebijakan antisipatif. Hasil riset akan dipublikasikan dan langkah preventif diterapkan.
(Bisnis.Com) 20/11/25 09:10 44118
Bisnis.com, SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akan melakukan riset lanjutan mengenai temuan aktivitas dan komunitas lingkungan mengenai bulir-bulir air hujan yang mengandung mikroplastik. Rencananya, hasil penelitian tersebut akan digunakan untuk menyusun langkah antisipatif atas fenomena tersebut.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto mengatakan, pihaknya akan menggandeng lembaga terakreditasi dan perguruan tinggi, di antaranya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam melakukan pengujian tersebut.
"Kami akan bekerja sama dengan ITS untuk melakukan penelitian yang sama, melakukan pengujian yang sama, dengan menguji kualitas air hujan di Kota Surabaya seperti apa," ungkap Dedik, Rabu (19/11/2025).
Dirinya menegaskan, hasil dari penelitian lanjutan tersebut nantinya akan dipublikasikan secara terbuka kepada khalayak luas. Selain itu, Pemkot Surabaya akan menyusun sejumlah kebijakan strategis untuk mengurangi paparan mikroplastik.
"Nanti hasilnya [penelitian lanjutan] baru bisa kita sampaikan, kemudian langkah-langkah medikasi [tindakan pencegahan pencemaran mikroplastik] berikutnya harus seperti apa," tegasnya.
Dedik juga mengklaim bahwa pihaknya secara rutin telah melakukan pemeriksaan terhadap kualitas air di sejumlah titik di kawasan Kota Pahlawan. Hal tersebut dilakukan agar air yang digunakan masyarakat aman dari pencemaran dan berbagai zat kontaminan yang berbahaya bagi tubuh manusia.
"Kami rutin secara reguler, setahun empat kali menguji air, kualitas air di 44 titik di Kota Surabaya untuk menguji kualitasnya, dan bisa jadi kalau sungai itu mengandung mikroplastik. Kan hujan itu dari penguapan yang ada di darat ya," katanya.
Selain memeriksa kualitas air secara rutin, Dedik menyatakan bahwa Pemkot Surabaya juga secara reguler melakukan pemeriksaan terhadap kondisi dan kualitas udara menggunakan alat-alat pengujian yang disediakan pemerintah daerah dan pusat.
"Untuk kualitas udaranya, kami secara reguler, secara rutin juga melakukan apa pengamatan dari beberapa peralatan yang, baik dimiliki oleh Pemerintah Kota Surabaya maupun yang dipasang oleh Kementerian Lingkungan Hidup di Kota Surabaya," jelasnya.
Sebagai langkah preventif mengurangi dampak mikroplastik, Dedik menegaskan bahwa pihaknya telah mengendalikan penggunaan plastik pada masyarakat. Pihaknya juga acapkali melakukan operasi yustisi terhadap warga yang melakukan pembakaran sampah di ruang terbuka, tanpa menggunakan teknologi dan tidak sesuai ketentuan.
"Bapak Walikota Surabaya ini sudah mengeluarkan salah satu aturan, yaitu di Perwali Nomor 16 Tahun 2022, itu sudah melarang penggunaan tas dari plastik sekali pakai karena ini juga sangat berpengaruh terhadap timbulnya mikroplastik di Surabaya," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, komunitas dan aktivis lingkungan, di antaranya Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), Komunitas Growgreen, River Warrior, dan Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) telah melakukan riset mengenai kandungan mikroplastik pada bulir-bulir hujan di Kota Surabaya.
Koordinator Penelitian Mikroplastik Kota Surabaya, Alaika Rahmatullah menyatakan bahwa Kota Surabaya menduduki posisi enam dari 18 kota di tanah air yang ditemukan terdapat kandungan partikel mikroplastik yang tersebar di udara. Kontaminasinya tercatat 12 partikel/90 cm2/2jam.
“Tingginya tingkat pencemaran mikroplastik dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Semisal di wilayah Pakis Gelora, Surabaya menunjukkan kadar mikroplastik yang tinggi karena terdapat aktivitas pembakaran sampah, dan lokasi yang berdekatan dengan pasar dan jalan raya,” ujar Alaika, Senin (17/11/2025).
Adapun riset tersebut dilakukan pihaknya pada 11-14 November 2025 di beberapa kawasan Kota Pahlawan seperti Dharmawangsa, Ketintang, Gunung Anyar, Wonokromo, HR Muhammad, Tanjung Perak, dan Pakis Gelora.
Metode penelitian yang ditempuh adalah dengan menempatkan wadah aluminium, steinless steel, dan wadah mangkok kaca dengan diameter 20-30 cm, yang diletakkan pada ketinggian lebih dari 1,5 meter selama 1 hingga 2 jam lamanya.
“Semua lokasi penelitian tercemar mikroplastik. Lokasi yang paling tercemar mikroplastik adalah daerah Pakis Gelora yakni sebanyak 356 partikel Mikroplastik(PM)/Liter, disusul dengan wilayah Tanjung Perak pada posisi kedua dengan 309PM/L,” ungkap Alaika.
#surabaya-mikroplastik #air-hujan-mikroplastik #penelitian-mikroplastik-surabaya #pemkot-surabaya-mikroplastik #its-surabaya-mikroplastik #kualitas-air-surabaya #pencemaran-mikroplastik-surabaya #kebij