Trump Naikkan Level Kemitraan Pertahanan, Arab Saudi Jadi Sekutu Utama non-NATO
Trump menetapkan Arab Saudi sebagai sekutu utama non-NATO, memperkuat kemitraan pertahanan dan ekonomi, termasuk akses militer dan investasi besar di AS.
(Bisnis.Com) 19/11/25 19:04 43709
Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan menetapkan Arab Saudi sebagai sekutu utama non-NATO, memperkuat hubungan strategis kedua negara di tengah rangkaian kesepakatan yang dibahas dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS).
“Saya senang mengumumkan bahwa kerja sama pertahanan kita akan naik ke level yang lebih tinggi,” ujar Trump dalam jamuan makan malam di Gedung Putih dikutip dari Bloomberg, Rabu (19/11/2025).
Trump menambahkan, penetapan tersebut, merupakan hal yang sangat penting bagi Arab Saudi.
Status sekutu utama non-NATO memberikan akses pembiayaan dan prioritas pembelian sejumlah peralatan militer, serta peluang untuk terlibat dalam riset bersama. Arab Saudi akan menjadi negara ke-20 yang memegang status ini, bergabung dengan Mesir, Israel, dan Qatar di kawasan Timur Tengah.
Acara tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh bisnis dan selebritas seperti Elon Musk serta pesepak bola Cristiano Ronaldo. CEO Apple Tim Cook, Presiden FIFA Gianni Infantino, CEO Citigroup Jane Fraser, CEO Nvidia Jensen Huang, hingga investor Bill Ackman juga hadir dalam jamuan yang menyajikan menu domba panggang di meja panjang berhias lilin dan bunga.
Sebelumnya, Trump menyambut MBS di Oval Office dan menyebutnya sebagai sahabat baik, sekaligus membebaskannya dari tuduhan keterlibatan dalam pembunuhan kolumnis Washington Post, Jamal Khashoggi, pada 2018.
Keduanya juga menyepakati pakta kerja sama pertahanan yang masih bersifat umum, termasuk rencana penjualan jet tempur F-35 ke kerajaan tersebut. AS sepakat memulai perundingan formal terkait dukungan untuk program nuklir sipil Arab Saudi.
Kunjungan MBS dan sejumlah kesepakatan yang diumumkan, termasuk komitmen longgar untuk meningkatkan investasi Saudi di AS menjadi US$1 triliun dari sebelumnya US$600 miliar, menjadi pencapaian penting bagi sang putra mahkota. Beberapa tahun terakhir, dia sempat dijauhi sejumlah sekutu Barat terkait kasus Khashoggi.
Trump dan MBS telah menjalin hubungan dekat sejak awal masa jabatan pertama Trump, dengan implikasi besar bagi dinamika geopolitik Timur Tengah. Namun, belum ada terobosan mengenai normalisasi hubungan Saudi–Israel, agenda lama Washington yang tersendat akibat perang Israel–Hamas di Gaza.
Perang tersebut kini berada dalam fase gencatan senjata rapuh setelah kesepakatan yang ditengahi pemerintahan Trump pada Oktober 2025.
“Kondisi Timur Tengah kini sangat berbeda sejak saya menjabat,” ujar Trump. “Seperti siang dan malam.”
Trump juga mengungkapkan bahwa AS dan Arab Saudi menyepakati kerja sama bidang kecerdasan buatan (AI), setelah negosiasi alot terkait permintaan Riyadh atas akses chip canggih. Meski belum ada pengumuman resmi, sumber mengatakan AS telah memberi lampu hijau pengiriman teknologi tersebut kepada perusahaan Saudi, Humain.
Sebelum agresi Israel ke Palestina semakin memanas pada 2023, MBS disebut hampir menandatangani kesepakatan besar yang mencakup pengakuan Saudi terhadap Israel dan jaminan keamanan dari AS. Namun perang di Gaza menghentikan pembahasan, dengan syarat baru dari Saudi bahwa Israel harus menerima pembentukan negara Palestina.
Kunjungan MBS ke Gedung Putih ini berlangsung setelah Trump melakukan tur ke Saudi pada Mei, yang juga meliputi Qatar dan Uni Emirat Arab.
Saat itu, Trump—yang didampingi lebih dari 30 pemimpin bisnis AS—mengklaim bahwa kesepakatan senilai US$1 triliun, termasuk di sektor chip AI dan pusat data, ditandatangani selama kunjungannya di Riyadh. Gedung Putih kemudian merevisi angka tersebut menjadi sekitar US$600 miliar.
#trump-arab-saudi #kemitraan-pertahanan #sekutu-utama-non-nato #hubungan-strategis #putra-mahkota-mbs #kerja-sama-pertahanan #peralatan-militer #riset-bersama #timur-tengah #jet-tempur-f-35 #program-nu