Duel Calon 'Kiri vs Kanan' Pilpres Chile: Tren Perubahan Politik di Amerika Latin?
Pemilu Chile berlanjut ke putaran kedua antara Jeannette Jara (kiri) dan Jose Antonio Kast (kanan) pada 14 Desember. Isu keamanan publik mendominasi.
(Bisnis.Com) 17/11/25 16:11 40680
Bisnis.com, JAKARTA – Pemilihan presiden Chile dipastikan berlanjut ke putaran kedua pada Desember mendatang, mempertemukan mantan Menteri Tenaga Kerja berhaluan kiri, Jeannette Jara (51), dengan tokoh sayap kanan, Jose Antonio Kast (59).
Melansir laporan dari Al-Jazeera, pada Minggu (16/11) sudah sekitar 83% suara dihitung dengan hasil Jara unggul dengan perolehan 26,71% suara, disusul Kast dengan 24,12% suara, berdasarkan data Servel, komisi pemilihan umum milik Chile.
Presiden petahana Gabriel Boric mengakui Jara dan Kast sebagai kandidat terkuat yang melaju ke putaran kedua pada 14 Desember. Ia juga menyampaikan selamat kepada keduanya dan menyebut hari pemilihan ini sebagai “hari demokrasi yang spektakuler” melalui pernyataan resmi dari Santiago. Pemilu Chile pada tahun ini akan dimeriahkan oleh 15,7 juta pemilih terdaftar.
Dalam pemilu kali ini, terdapat delapan kandidat. Namun, untuk menang langsung dibutuhkan minimal 50% plus satu suara.
Meski unggul pada putaran pertama, Jara diperkirakan menghadapi tantangan besar setelah sejumlah kandidat lain mulai menunjukkan dukungan kepada Kast, pendiri Partai Republik sayap kanan.
Isu keamanan publik mendominasi pemilu tersebut, di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat akibat lonjakan kasus pembunuhan, penculikan, dan pemerasan, di negara yang selama ini dikenal sebagai salah satu yang teraman di Amerika Latin.
Jara yang saat ini menjadi menteri di kabinet Boric, berjanji menambah jumlah aparat kepolisian, membuka kerahasiaan perbankan untuk memberantas kejahatan terorganisir, serta menangani tekanan biaya hidup.
Sementara Kast, berjanji membangun tembok, pagar, serta parit di perbatasan Chile dengan Bolivia untuk mencegah masuknya migran dan pencari suaka dari negara-negara miskin di wilayah utara, seperti Venezuela.
Setelah pernyataan Presiden Boric yang mengapresiasi hari demokrasi Chile, Jara menyampaikan terima kasih kepada para pendukungnya dan mengimbau warga Chile agar tidak terjebak dalam ketakutan akibat meningkatnya kriminalitas.
“Jangan biarkan ketakutan mengeraskan hati kita,” ujar Jara untuk menegaskan bahwa penanganan kriminalitas tidak dapat diselesaikan dengan ide ekstrem ataupun “bersembunyi” di balik kaca antipeluru.
Pernyataannya itu dinilai sebagai sindiran terhadap langkah-langkah keamanan kampanye Kast yang dianggap sangat keras ingin meningkatkan keamanan negara Chile dari para migran.
Sementara itu, Kast dalam pidatonya menyerukan persatuan dan berjanji “membangun kembali” Chile setelah empat tahun pemerintahan berhaluan tengah-kiri yang ia sebut sebagai “mungkin pemerintahan terburuk dalam sejarah demokrasi Chile”.
Selain kedua calon tersebut, pemilihan Chile diramaikan juga oleh ekonom independen Franco Parisi yang mengejutkan publik karena menempati posisi ketiga dengan 19,42% suara, mengungguli politisi ultrakanan Johannes Kaiser (13,93%) serta mantan wali kota konservatif Evelyn Matthei (12,70%).
Parisi menolak memberikan dukungan kepada kandidat mana pun di putaran kedua, dan menyatakan bahwa Jara maupun Kast harus “turun ke jalan” untuk mencari pemilih baru.
Kaiser menerima kekalahan dan langsung menyatakan dukungan terhadap Kast. Matthei kemudian ikut menyusul dengan alasan meningkatnya arus migrasi yang ia sebut “tidak terkendali”, serta menilai Chile perlu “perubahan arah yang tegas”.
Reporter Al Jazeera, Lucia Newman, melaporkan dari markas Kast bahwa para pendukungnya merayakan hasil tersebut dengan antusias.
“Mereka tampak yakin bahwa meskipun Kast berada di posisi kedua dengan selisih tipis, ia akan menjadi kandidat pertama yang mencapai garis akhir di putaran kedua mendatang,” ujarnya.
Para pendukung juga menilai persoalan utama negara saat ini adalah kriminalitas, perlambatan ekonomi, serta dominasi elite politik yang dianggap terlalu lama berkuasa.
Politik Kiri di Chile
Dominasi isu keamanan dalam pemilu kali ini mencerminkan perubahan besar dari gelombang optimisme politik kiri Chile pada pemilu sebelumnya yang mengantarkan Gabriel Boric menjadi Presiden Chile hingga tahun depan.
Meningkatnya kejahatan disebut berkaitan dengan kelompok kriminal asing, seiring meningkatnya populasi migran di Chile yang kini mencapai 8,8% dari total penduduk, dua kali lipat sejak 2017.
Pemberitaan media yang masif mengenai kriminalitas mendorong semakin kuatnya dukungan publik terhadap “tangan besi” menanggapi arus migran.
Pengamat dari University for Development Rodrigo Arellano menilai hasil pemilu putaran pertama merupakan “kabar buruk” bagi Jara dan menyebut peluangnya menang pada putaran kedua “tidak realistis”, karena suara dari kandidat oposisi jumlahnya hampir dua kali lipat dari perolehan Jara.
Selain berasal dari kelas pekerja, pencalonan Jara dianggap bersejarah karena mewakili Partai Komunis yang belum pernah meraih dukungan luas sejak kembalinya demokrasi di Chile.
Jara, yang mengkampanyekan kebijakan pemangkasan jam kerja dari 45 jam menjadi 40 jam per minggu, isu keterjangkauan ekonomi, termasuk kenaikan upah minimum dan perumahan terjangkau. Ia juga berusaha menciptakan jarak dari pemerintahan Boric, bahkan memberi sinyal kemungkinan keluar dari Partai Komunis jika terpilih sebagai presiden.
Kast, yang maju kembali setelah kalah dari Boric pada 2021, kerap dibandingkan dengan Presiden AS Donald Trump. Ia mendirikan Partai Republik Chile pada 2019 dan dikenal sebagai tokoh yang mengangkat wacana ekstrem kanan ke panggung nasional. Kast juga berulang kali membantah laporan yang menyebut ayahnya adalah pendukung Partai Nazi, dan mengklaim bahwa ayahnya merupakan tentara wajib militer Jerman.
Selain pemilu presiden, rakyat Chile juga memilih anggota Chamber of Deputies (setara DPR RI) dan Senat pada hari yang sama. Koalisi pemerintah Presiden petahana saat ini menjadi minoritas di Chamber of Deputies dan Senat, dan dominasi kanan diprediksi dapat membuat eksekutif serta legislatif berada di bawah kendali blok kanan untuk pertama kalinya sejak berakhirnya rezim Augusto Pinochet pada 1990.
Pemilu ini menjadi perhatian besar internasional, terutama terkait arah politik Amerika Selatan, yang dalam dua tahun terakhir menunjukkan tren melemah bagi kelompok kiri.
Bulan lalu, Bolivia memilih presiden berhaluan tengah-kanan setelah 20 tahun kepemimpinan sosialis. Kandidat kanan juga diprediksi unggul dalam pemilu di Kolombia dan Peru tahun depan, sementara Presiden kiri Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, disebut akan menghadapi persaingan ketat meski mantan Presiden Jair Bolsonaro dijatuhi hukuman atas dugaan percobaan kudeta. (Stefanus Bintang Agni)
#pemilu-chile #presiden-chile #kandidat-presiden-chile #jeannette-jara-chile #jose-antonio-kast #partai-sosialis