Global Carbon Budget: China, AS, dan India Penghasil Emisi Terbesar Dunia
Emisi karbon global diproyeksikan mencapai rekor tertinggi pada 2025, dengan China, AS, dan India sebagai penghasil terbesar. Upaya pengurangan emisi belum signifikan.
(Bisnis.Com) 13/11/25 12:26 37295
Bisnis.com, JAKARTA – Emisi karbon dioksida (CO2) global dari penggunaan bahan bakar fosil diproyeksikan mencapai rekor tertinggi pada 2025, menurut laporan terbaru Global Carbon Budget yang dirilis dalam Konferensi Iklim PBB (COP30).
Temuan ini menjadi sinyal peringatan bagi komunitas global bahwa upaya pengurangan emisi belum menunjukkan hasil signifikan.
Melansir Bloomberg, laporan tahunan itu memproyeksikan emisi akan mencapai 38,1 miliar ton pada akhir 2025, meningkat 1,1% dari tahun sebelumnya. Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan menurunnya kemampuan laut dan daratan dalam menyerap karbon.
Pep Canadell, Executive Director of Global Carbon Project, mengakui bahwa ledakan energi terbarukan dan perlambatan pertumbuhan emisi merupakan perkembangan positif. Di sisi lain, Canadell menyebut situasi saat ini sebagai situasi kontras antara kemajuan yang memberi harapan dengan realita suram yang masih berlangsung.
"Kami telah terlalu lama mengeluarkan peringatan yang sama," ujarnya, dikutip Bloomberg, Rabu (12/11/2025).
Adapun analisis rinci pada tingkat negara menunjukkan variasi pola emisi yang signifikan seperti di China, penghasil emisi terbesar dunia saat ini, menunjukkan emisi yang stagnan bahkan cenderung menurun selama 18 bulan terakhir. Emisi bahan bakar fosil negara ini diperkirakan hanya tumbuh 0,4% tahun ini.
Kemudian Amerika Serikat, penghasil emisi historis terbesar dan peringkat kedua saat ini, diproyeksikan mengalami kenaikan emisi bahan bakar fosil sebesar 1,9% - berbalik dari tren penurunan tahunan rata-rata 1,2% dalam sepuluh tahun terakhir.
Selanjutnya India, penghasil emisi terbesar ketiga, akan mengalami pertumbuhan emisi CO2 sebesar 1,4% - angka yang lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Beberapa sektor mencatatkan kenaikan yang signifikan, dengan emisi penerbangan global melonjak 6,8%.
Implikasi bagi Target Iklim
Akibat peningkatan emisi yang tak terbendung, dunia telah memanas hampir 1,4°C dan semakin banyak CO2 yang tertahan di atmosfer dapat mempercepat perubahan iklim.
Pemahaman yang semakin akurat tentang bagaimana hutan dan lautan menyerap - atau gagal menyerap - CO2 menyoroti pentingnya melestarikan sistem alami ini sambil secara bersamaan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.
Pada pembicaraan COP30 di Amazon, isu hutan menjadi perhatian khusus. Brasil mengusulkan pembentukan dana US$125 miliar untuk melindungi hutan hujan tropis, meski sejauh ini baru mengumpulkan US$5,5 miliar.
Laporan baru ini menguatkan pentingnya konservasi sistem penyerap karbon alamiah di tengah terus meningkatnya emisi global.
Di sisi lain, temuan paling mengkhawatirkan dari laporan ini adalah melemahnya kemampuan sistem alami Bumi dalam menyerap emisi karbon. Menggunakan metodologi terbaru, Global Carbon Project kini memperkirakan bahwa selama dekade terakhir, lautan menyerap 29% emisi buatan manusia sementara daratan menyerap 21%.
"Yang kami tunjukkan dan ukur ini benar-benar sistem penopang kehidupan besar yang kita miliki," kata Judith Hauck, ko-penulis Global Carbon Budget dari Alfred Wegener Institute.
Namun, laporan ini menunjukkan bahwa kedua sistem penyerap karbon tersebut semakin berkurang efektivitasnya. Di daratan, deforestasi terus berlanjut sementara kenaikan suhu memperparah kekeringan dan kebakaran hutan.
Di lautan, air yang menghangat menyimpan lebih sedikit karbon, dan perubahan pola angin mengurangi pencampuran antara udara dan laut yang membatasi penyerapan karbon.
#emisi-karbon #global-carbon-budget #china-emisi-terbesar #amerika-serikat-emisi #india-emisi #emisi-bahan-bakar-fosil #kenaikan-emisi-global #perubahan-iklim #konservasi-karbon-alamiah #cop30-konferen