Keyakinan Konsumen & Penjualan Retail Positif, Ekonomi Akhir Tahun Terakselerasi?

Keyakinan Konsumen & Penjualan Retail Positif, Ekonomi Akhir Tahun Terakselerasi?

Survei Bank Indonesia menunjukkan peningkatan indeks keyakinan konsumen dan penjualan ritel, menandakan potensi akselerasi ekonomi akhir 2025. Pemerintah mendukung dengan bansos dan KUR.

(Bisnis.Com) 11/11/25 20:23 35593

Bisnis.com, JAKARTA — Survei Bank Indonesia menunjukkan indeks keyakinan konsumen (IKK) menunjukkan perkembangan positif. Sinyal positif tersebut diyakini menjadi indikasi perbaikan pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun ini atau kuartal IV/2025.

Adapun, IKK menunjukkan kenaikan 6,2 basis poin dari 115 pada September 2025 menjadi 121,2 pada Oktober 2025. Kenaikan ini mengakhiri penyusutan IKK yang terjadi dalam dua bulan sebelumnya secara beruntun.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menyoroti bahwa seluruh komponen utama IKK menunjukkan penguatan. Contohnya persepsi penghasilan saat ini, minat membeli barang tahan lama, dan persepsi ketersediaan kerja sama-sama meningkat.

Di sisi ekspektasi, indeks enam bulan ke depan (IEK) juga naik yang mencerminkan pandangan bahwa pendapatan dan peluang kerja akan lebih baik memasuki awal 2026. Hanya saja, dari sisi perilaku keuangan, porsi pendapatan yang dibelanjakan justru turun menjadi 74,7%, sementara porsi menabung naik ke 14,3%, dan rasio cicilan stabil di 11%.

"Artinya, optimisme memang menguat, tetapi sebagian masih diwujudkan dalam bentuk kehati-hatian dengan menambah bantalan tabungan, terutama pada kelompok pengeluaran menengah-atas,” ujar Josua kepada wartawan, Selasa (11/11/2025).

Sejalan dengan itu, minat barang tahan lama justru lebih meningkat pada kelompok dengan pengeluaran sampai Rp4 juta. Menurutnya, data tersebut menandakan dorongan konsumsi akan menguat meski bertahap dan selektif.

Perkembangan tersebut sejalan dengan tren di dari sisi ritel. Indeks Penjualan Riil (IPR) mencatat pertumbuhan 3,7% secara tahunan pada September, meski sempat terkoreksi secara bulanan sebesar 2,4%.

Untuk Oktober, pelaku ritel memprakirakan pertumbuhan tahunan naik ke 4,3% dengan perbaikan bulanan 0,6%. Penguatannya terutama datang dari kelompok makanan-minuman, suku cadang, serta barang budaya dan rekreasi; sementara sandang masih menjadi penekan pergerakan bulanan.

"Pola ini konsisten dengan perilaku menjelang musim liburan ketika belanja kebutuhan harian, perjalanan, dan rekreasi lebih dominan daripada pembelian barang elektronik atau peralatan rumah tangga bernilai besar," ungkapnya.

Secara spasial, performa ritel menunjukkan variasi antarwilayah. Pada September, Surabaya dan Banjarmasin masih mencatat pertumbuhan kuat, sementara sejumlah kota besar lainnya mengalami penyesuaian. Untuk Oktober, perbaikan diperkirakan terjadi di Denpasar, Semarang, dan Surabaya, seiring meningkatnya mobilitas wisata dan kegiatan perdagangan.

Josua melihat mobilitas liburan akhir tahun, agenda keagamaan, dan event wisata akan menjadi penopang utama ritel pada kuartal IV/2025 dengan dampak limpasan ke sektor akomodasi, transportasi, serta makanan-minuman.

Ke depan, Josua menilai horizon tiga hingga enam bulan ke depan menyampaikan dua sinyal utama. Pertama, ekspektasi penjualan ritel untuk Desember berada di level optimis tinggi, dengan indeks ekspektasi penjualan mencapai 167,7. Kedua, ekspektasi harga juga meningkat, menandakan potensi tekanan harga musiman seiring lonjakan permintaan.

“Dengan IKK yang tinggi dan rencana belanja yang kuat, pertumbuhan konsumsi kuartal IV besar kemungkinan menguat, tetapi tetap dipengaruhi oleh strategi pengendalian harga dan kelancaran pasokan pangan serta energi,” sambungnya Josua.

Menurutnya, kombinasi optimisme konsumen dan perbaikan kinerja ritel akan menjadikan konsumsi rumah tangga sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi pada akhir 2025. Meski demikian, peningkatan porsi tabungan menunjukkan bahwa masyarakat masih menahan diri dan cenderung berbelanja secara terarah, terutama untuk kebutuhan liburan dan jasa terkait.

“Arah kebijakan yang memastikan stabilitas harga pangan, kelancaran distribusi menjelang hari besar, serta promosi perjalanan dan rekreasi yang terukur akan membantu menerjemahkan optimisme menjadi transaksi nyata tanpa memicu lonjakan harga yang tidak perlu,” tutupnya.

Pemerintah Jor-joran Bansos hingga KUR

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah sudah menyiapkan langkah-langkah agar konsumsi rumah tangga hingga investasi kembali tumbuh lebih tinggi pada tiga bulan terakhir tahun ini alias kuartal IV/2025.

"Upaya perlu kita lakukan di kuartal IV/2025, kita harus tingkatkan lagi ekonomi supaya angka rata-rata 5,2% bisa tercapai," ungkap Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (5/11/2025).

Untuk meningkatkan daya beli, dia mengungkapkan pemerintah menggelontorkan bantuan langsung tunai sementara sebesar Rp900 ribu selama tiga bulan dengan alokasi dana Rp31,5 triliun dan target 35,05 juta keluarga penerima manfaat (desil 1—4). Kemudian, sambungnya, Kredit Usaha Rakyat (KUR) masih ada Rp50 triliun yang bisa disalurkan hingga akhir tahun.

Sementara untuk dorong investasi, pemerintah mendorong KUR perumahan. Menurut Airlangga, pemerintah menggelontorkan KUR Perumahan senilai Rp130 triliun, dengan Rp117 triliun di antaranya untuk pengembang hingga kontraktor.

"Dan yang dari Rp117 triliun itu kan plafonnya [batas tertinggi pinjaman] bisa sampai Rp20 miliar. Nah, dorongan dari sektor perumahan itu akan mendorong PMTB [pertumbuhan investasi]," ungkapnya.

#keyakinan-konsumen #penjualan-retail #ekonomi-akhir-tahun #survei-bank-indonesia #indeks-keyakinan-konsumen #pertumbuhan-ekonomi #persepsi-penghasilan #minat-membeli-barang #ketersediaan-kerja #perila

https://ekonomi.bisnis.com/read/20251111/9/1927917/keyakinan-konsumen-penjualan-retail-positif-ekonomi-akhir-tahun-terakselerasi