Harga Minyak Global Anjlok Tertekan Prospek Surplus Pasokan
Harga minyak global turun 1,5% akibat prospek surplus pasokan dan ketegangan dagang AS-China. IEA perkirakan surplus 4 juta barel per hari tahun depan.
(Bisnis.Com) 15/10/25 05:21 3514
Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak dunia turun hingga 1,5% seiring dengan peringatan dari Badan Energi Internasional (IEA) soal potensi surplus pasokan besar tahun depan dan berlanjutnya ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China.
Melansir Reuters pada Rabu (15/10/2025), harga minyak mentah jenis Brent turun 93 sen atau 1,5% menjadi US$62,39 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) melemah 79 sen atau 1,3% ke posisi US$58,70 per barel. Keduanya kini berada di level terendah dalam lima bulan terakhir.
Pada sesi sebelumnya, harga Brent ditutup menguat 0,9% dan WTI naik 1%.
IEA memperkirakan pasar minyak global akan menghadapi surplus yang lebih besar pada tahun depan, mencapai sekitar 4 juta barel per hari. Kelebihan pasokan tersebut dipicu oleh peningkatan produksi dari negara-negara anggota OPEC+ dan produsen lain, sementara permintaan global masih lesu.
Laporan bulanan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia yang dirilis pada Senin (13/10/2025) menunjukkan pandangan yang lebih optimistis. OPEC menyebut defisit pasokan minyak akan berkurang pada 2026 seiring rencana peningkatan produksi yang tetap berjalan sesuai jadwal.
Meski demikian, sejumlah eksekutif di perusahaan minyak besar dan rumah dagang utama memperkirakan pasar minyak global akan kembali mengetat dalam jangka menengah hingga panjang, setelah melewati periode pelemahan sementara.
“Ketegangan terbaru antara AS dan China juga menjadi faktor penekan harga minyak karena berpotensi membebani perekonomian China jika situasi terus memanas,” ujar Dennis Kissler, Wakil Presiden Senior Bidang Perdagangan di BOK Financial.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menambahkan bahwa sentimen pasar sedang berada dalam mode risk-off akibat ketegangan dagang yang berlarut dan laporan IEA yang bersifat negatif terhadap prospek harga minyak.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pada Senin (13/10/2025) bahwa Presiden AS Donald Trump tetap berkomitmen untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan bulan ini. Pertemuan tersebut diharapkan dapat meredakan ketegangan terkait ancaman tarif dan pengendalian ekspor.
Namun, pada pekan lalu, China memperluas kebijakan pengendalian ekspor mineral tanah jarang, sementara Trump mengancam akan memberlakukan tarif 100% dan pembatasan ekspor perangkat lunak mulai 1 November.
Selain itu, Beijing juga mengumumkan sanksi terhadap lima anak usaha pembuat kapal asal Korea Selatan, Hanwha Ocean, yang memiliki hubungan bisnis dengan AS. Di sisi lain, Washington dan Beijing akan mulai mengenakan biaya pelabuhan tambahan bagi perusahaan pelayaran internasional.
Di pasar berjangka, selisih harga kontrak minyak Brent untuk pengiriman enam bulan ke depan mencatat premi terkecil sejak awal Mei, sementara selisih kontrak WTI mencapai titik terendah sejak Januari 2024.
Penyusutan backwardation—kondisi ketika harga minyak untuk pengiriman segera lebih tinggi dari kontrak jangka panjang—menandakan pelaku pasar semakin sedikit memperoleh keuntungan dari penjualan di pasar spot karena pasokan jangka pendek dianggap melimpah.
#harga-minyak #minyak-dunia #harga-minyak-mentah #minyak-brent #minyak-wti #surplus-pasokan #ketegangan-dagang #amerika-china #produksi-opec #permintaan-global #pasar-minyak #harga-minyak-turun #minyak