Pertumbuhan Uang Primer Oktober 2025 Melambat, Likuiditas Masih Aman?

Pertumbuhan Uang Primer Oktober 2025 Melambat, Likuiditas Masih Aman?

Pertumbuhan uang primer melambat di Oktober 2025, namun likuiditas tetap melimpah berkat ekses likuiditas korporasi dan belanja pemerintah. BI menjaga keseimbangan likuiditas dan stabilitas nilai tuka

(Bisnis.Com) 09/11/25 15:45 32799

Bisnis.com, JAKARTA — Ekonom memperkirakan likuiditas tetap melimpah (ample) di akhir tahun kendati pertumbuhan uang primer (M0) adjusted sebagaimana laporan Bank Indonesia (BI) tumbuh melambat pada Oktober 2025 sebesar 14,44% secara tahunan atau year-on-year (yoy).

Sekadar catatan, pertumbuhan tersebut menyebabkan uang primer tercatat mencapai Rp2.117,6 triliun pada Oktober 2025. Pertumbuhannya melambat dari posisi September 2025 yakni 18,6% (yoy) sehingga posisi uang primer mencapai Rp2.152,4 triliun.

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) Andry Asmoro berpandangan likuiditas akan tetap ample sampai akhir tahun kendati pertumbuhan uang primer mulai melandai.

"Hal tersebut didukung oleh ekses likuiditas dari korporasi serta belanja Pemerintah," ujarnya melalui keterangan tertulis, dikutip Minggu (9/11/2025).

Di sisi lain, BI diperkirakan bakal menjaga keseimbangan antara pelonggaran likuiditas dan stabilitas nilai tukar, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Sejalan dengan hal tersebut, per 1 Desember 2025, BI juga akan memberlakukan insentif tambahan kebijakan likuiditas makroprudensial alias KLM maksimal 0,5% bagi bank yang menurunkan suku bunga kredit. Langkah itu berpotensi memengaruhi posisi giro wajib minimum ke depan.

Di sisi lain, bank sentral diperkirakan masih terbuka untuk memangkas lagi kebijakan suku bunga acuan seebesar 25 basis poin (bps) pada akhir 2025. Namun, ruang pelonggaran itu terbatas dengan memperhitungkan laju penurunan suku bunga The Fed dan stabilitas rupiah.

Andry menilai kondisi likuiditas yang longgar ke depan berpotensi menurunkan cost of fund perbankan dan memperkuat akselerasi penyaluran kredit pada akhir tahun.

Akan tetapi, timpalnnya, risiko eksternal tetap perlu diantisipasi, terutama terkait dengan kondisi penutupan operasional pemerintah AS yang berkepanjangan dan perlambatan ekonomi China yang dapat memengaruhi arus modal dan kinerja ekspor.

"BI diperkirakan akan mempertahankan strategi likuiditas adaptif untuk menjaga stabilitas moneter sekaligus mendukung pemulihan ekonomi domestik," jelasnya.

Penyebab Pelambatan

Adapun perkembangan uang primer (adjusted) pada Oktober 2025 yang melambat, papar Andry, dipengaruhi oleh normalisasi Giro Bank Umum di BI yang pertumbuhannya turun menjadi 10,49% (yoy), dari laju pada September 2025 sebesar 28% (yoy).

Hal itu juga seiring dengan penyesuaian atas insentif penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas dalam skema KLM yang telah digulirkan BI dengan total mencapai Rp393 triliun.

Aktiva Luar Negeri Bersih (NFA) juga dinilai memengaruhi pertumbuhan M0 Adjusted, yang mana tumbuh 8,91% (yoy) pada Oktober 2025 atau melambat dari 13,35% (yoy) pada September 2025. Ini sejalan dengan moderasi aliran masuk devisa dan penyesuaian cadangan devisa akibat volatilitas global.

Posisi cadangan devisa Oktober 2025 tercatat sebesar US$149,9 miliar atau naik dari bulan sebelumnya yakni US$148,7 miliar. Namun, posisinya masih lebih rendah dibandingkan dengan Oktober 2024 sebesar US$151,2 miliar dan US$155,7 miliar pada akhir 2024.

"Sementara itu, Pengendalian Moneter Adjusted meningkat signifikan sebesar 17,65% yoy, mencerminkan operasi likuiditas yang ekspansif oleh BI untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah dinamika global," pungkas Andry.

#uang-primer #likuiditas-melimpah #pertumbuhan-uang-primer #bank-indonesia #likuiditas-bank #suku-bunga-kredit #stabilitas-nilai-tukar #kebijakan-likuiditas #giro-wajib-minimum #suku-bunga-acuan #cost

https://finansial.bisnis.com/read/20251109/11/1927347/pertumbuhan-uang-primer-oktober-2025-melambat-likuiditas-masih-aman