Jamkrida Jakarta Bidik Pertumbuhan Bisnis Lewat Lima Strategi

Jamkrida Jakarta Bidik Pertumbuhan Bisnis Lewat Lima Strategi

Jamkrida Jakarta menargetkan pertumbuhan bisnis penjaminan 2025 dengan lima strategi.

(Bisnis.Com) 08/11/25 09:43 31966

Bisnis.com, JAKARTA — PT Jamkrida Jakarta (Perseroda) memperkirakan bisnis penjaminan pada 2025 memiliki peluang yang baik karena didorong oleh peningkatan aktivitas ekonomi sebelum tahun anggaran baru dimulai.

Direktur Utama Jamkrida Jakarta Agus Supriadi memaparkan perseroan menyiapkan lima langkah utama untuk menjaga nilai imbal jasa penjaminan (IJP) tetap stabil di tengah kondisi pasar yang menantang.

Langkah awal yakni diversifikasi produk penjaminan menuju sektor-sektor produktif sehingga tidak hanya bertumpu pada penjaminan konsumtif. “Selanjutnya, Jamkrida Jakarta fokus pada produk penjaminan dengan tenor jangka pendek [di bawah satu tahun], terutama penjaminan Surety Bond, Bank Garansi, dan Custom Bond,” tuturnya kepada Bisnis, belum lama ini (6/11/2025).

Agus melanjutkan, Jamkrida Jakarta juga memperketat proses analisis dan mitigasi risiko agar underwriting dapat dijalankan secara lebih objektif dan berhati-hati. Perseroan turut meningkatkan sinergi dengan perusahaan swasta, instansi pemerintah, BUMN, serta BUMD. Digitalisasi layanan terus didorong untuk meningkatkan efisiensi dan memperluas akses penjaminan.

Menurut Agus, hingga September 2025 terjadi peningkatan rate penjaminan untuk sejumlah mitra strategis BUMD milik Pemprov DKI Jakarta, seiring pertumbuhan signifikan volume produksi penjaminan dari mitra existing. “Di sisi lain, perseroan juga menerima penambahan beberapa mitra baru, yang turut berkontribusi dalam memperluas portofolio penjaminan dan memperkuat jejaring bisnis perusahaan,” ujarnya.

Ia menambahkan, segmen UMKM masih menjadi penopang utama portofolio penjaminan. Nilai imbal jasa penjaminan yang berasal dari UMKM mencapai 86 persen dari total IJP perusahaan.

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai IJP pada Agustus 2025 terkontraksi 11,91% year on year menjadi Rp5,12 triliun. Padahal pada Agustus 2024, nilai tersebut masih tumbuh 12,66 persen year on year menjadi Rp5,82 triliun. Pada bulan yang sama, nilai klaim penjaminan turun 20,33 persen menjadi Rp4,68 triliun. Sementara itu, total aset industri penjaminan mencapai Rp48,83 triliun, tumbuh 1,94 persen.

Pengamat ekonomi Universitas Indonesia Toto Pranoto menilai kontraksi 11,91% pada nilai IJP berkaitan dengan melemahnya penyaluran kredit perbankan. “Akibatnya bisnis penjaminan juga terpengaruh cukup dalam atau bisa juga persaingan industri makin dalam, termasuk dengan bisnis asuransi, sehingga misal terjadi perang tarif, menyebabkan perolehan total IJP bisa menurun,” katanya kepada Bisnis.

Toto menilai program prioritas pemerintah dapat menjadi peluang bagi perusahaan penjaminan untuk mengejar target IJP tahun 2025. “Contohnya adalah pembangunan infrastruktur, proyek MBG, proyek green energy, ini adalah potensi besar yang masih bisa dikejar untuk realisasi target IJP 2025,” ujarnya.

#jamkrida-jakarta #bisnis-penjaminan #strategi-pertumbuhan #diversifikasi-produk #penjaminan-produktif #surety-bond #bank-garansi #custom-bond #mitigasi-risiko #sinergi-perusahaan #digitalisasi-layanan

https://finansial.bisnis.com/read/20251108/215/1927160/jamkrida-jakarta-bidik-pertumbuhan-bisnis-lewat-lima-strategi