Peran BBCA di Konglomerasi Djarum Tandingi Dominasi Prajogo-Hapsoro
BBCA, bagian dari Grup Djarum, mencatat laba bersih Rp43,4 triliun di Q3 2025, tumbuh 5,7% YoY. Meski sahamnya turun 1,72% hari ini, prospek BBCA tetap menarik.
(Bisnis.Com) 07/11/25 05:15 30494
Bisnis.com, JAKARTA – Rilis kinerja emiten dalam kuartal III/2025 menjadi katalis positif tersendiri bagi gerak saham-saham terafiliasi konglomerasi. Bila Happy Hapsoro punya RAJA dan RATU, atau Prajogo Pangestu dengan Barito, Djarum punya emiten bank BBCA.
Walau demikian, BBCA saja tidak cukup untuk membawa Budi Hartono bertengger di jajaran teratas konglomerasi, setidaknya tecermin dalam penutupan pasar hari ini, Kamis (6/11/2025).
Berdasarkan data Ajaib Sekuritas, saham konglomerasi yang melesat paling tinggi hari ini dipimpin Happy Hapsoro, dengan lesatan 6,42% atau 1.222 poin. Kelima saham emiten konglomerasi terpantau kompak menguat, di antaranya saham PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) naik 5,38% ke Rp4.310 dan PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) ditutup naik 5,85% ke Rp8.600.
Kemudian di urutan kedua ada konglomerasi Boy Thohir dengan kenaikan 3,58% atau 593 poin. Hari ini, 7 dari 10 saham afiliasi ditutup menguat. Antara lain adalah saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) yang naik 5,47% ke Rp8.675, saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) juga naik 2,19% ke Rp1.400, hingga saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) yang menguat 1,59% ke Rp1.920.
Berikutnya, posisi ketiga ada konglomerasi milik Prajogo Pangestu yang ditutup naik 1,8% atau 600 poin. Ketujuh saham emiten afiliasi kompak meningkat. Misalnya, saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) menguat 1,79% ke Rp9.925, saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) naik 0,28% ke Rp3.750, hingga saham PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) ditutup naik 1,4% ke Rp1.815.
Di bawah ketiga nama tersebut, berturut-turut disusul konglomerasi pengusaha media Hary Tanoe dengan kenaikan 1,54% dan konglomerasi Aguan yang meningkat 0,08%.
Sebaliknya, tiga nama terbawah diisi konglomerasi yang menorehkan koreksi. Di posisi keenam ada konglomerasi saham-saham afiliasi Anthoni Salim yang ditutup turun 0,07%, posisi ketujuh ada Djarum Grup milik Budi Hartono yang ditutup turun 0,32%, dan saham-saham afiliasi Grup Bakrie menjadi penghuni dasar dengan koreksi 1,18%.
Equity Research Kiwoom Sekuritas, Miftahul Khaer melihat Grup Djarum tetap menjadi salah satu konglomerasi besar di Indonesia yang memiliki daya tarik tersendiri.
Dia menilai, meskipun kondisi pasar mungkin berubah tetapi potensi kenaikan saham saham dari grup konglomerasi masih cukup tinggi terutama dengan saham yang punya fundamental kuat. Di Grup Djarum sendiri, dia melihat BBCA punya kontribusi besar.
"PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat laba bersih yang lebih baik di kuartal ketiga 2025, menunjukkan bahwa inti bisnis dari Grup Djarum masih tergolong sehat," ujarnya, Kamis (6/11/2025).
Adapun, Bank BCA membukukan laba bersih sebesar Rp43,4 triliun dalam medio Januari-September 2025. Angka ini tumbuh 5,7% secara year on year (YoY) dibanding laba bersih Januari-September 2024 senilai Rp41,1 triliun.
Dari sisi top line, Bank BCA meraup pendapatan bunga dan syariah bersih senilai Rp63,95 triliun, meningkat dibanding Rp60,93 triliun dalam periode yang sama 2024.
Miftahul menilai, ke depan prospek bisnis perbankan cukup menjanjikan dan memiliki punya ruang pertumbuhan yang lebih baik seiring dengan tren penurunan suku bunga dan perbaikan konsumsi kredit domestik.
"Terlebih lagi sebagai core stock BBCA di current valuation tergolong cukup menarik. Untuk BBCA dalam 12 bulan ke depan target harga kami di Rp10.500," tandasnya.
Di lantai bursa saham BBCA mengalami tekanan di tahun ini. Pada penutupan hari ini, BBCA mengalami koreksi 1,72% atau 150 poin ke Rp8.550. Level harga ini mencerminkan koreksi 11,63% secara year to date (YtD).
Sementara itu, Community and Retail Equity Analyst Lead PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Angga Septianus juga melihat Grup Djarum tetap menarik seiring dengan prospek diversifikasi sektor usaha yang dilakukan.
"Seperti provider internet dan big data di saham DATA, selain itu juga efisiensi yang dilakukan seperti di emiten BELI untuk optimalisasi kinerja menjadi motor fundamental ke depannya," ungkap Angga.
Menurutnya, alasan prospek Grup Djarum ke depan menarik juga terutama karena saham bank BBCA saat ini memiliki valuasi yang cukup atraktif.
"Prospek Grup Djarum masih menarik terutama saham BBCA yang memiliki valuasi menarik dan arus dana asing yang konsisten masuk. Selain itu DATA yang berpotensi menjadi growth stock dengan prospek pertumbuhan masif menjadi patut dicermati," tandasnya.
____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#bbca #djarum-group #saham-bbca #kinerja-bbca #konglomerasi-djarum #saham-djarum #budi-hartono #saham-konglomerasi #saham-bank #saham-emiten #saham-indonesia #saham-prajogo #saham-hapsoro #saham-raja #n-a