Anak Usaha Amman (AMNT) Siap Pasok Konsentrat Tembaga ke Freeport
PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) siap pasok konsentrat tembaga ke Freeport yang alami krisis pasokan akibat gangguan produksi tambang Grasberg.
(Bisnis.Com) 04/11/25 14:43 27008
Bisnis.com, JAKARTA — PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), anak usaha PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) terbuka untuk menjual konsentrat tembaga ke PT Freeport Indonesia (PTFI) yang dikabarkan mengalami krisis pasokan.
Presiden Direktur AMNT Rachmat Makkasau mengatakan setelah mendapatkan izin perpanjangan ekspor, perusahaan tetap membuka potensi penjualan ke dalam negeri.
Menurut Rachmat, harga tembaga pada dasarnya sudah memiliki standar yang berlaku luas, sehingga tidak ada perbedaan harga antar pihak yang terlibat dalam perdagangan komoditas tersebut.
"Jadi kita terbuka untuk melakukan penjualan ke siapa saja yang tentunya memberikan benefit untuk kedua belah pihak," kata Rachmat saat ditemui di Hutan Kota by Plataran Jakarta, Selasa (4/11/2025).
Sebagaimana diketahui, AMNT telah mendapatkan rekomendasi ekspor konsentrat tembaga sebesar 480.000 metrik ton kering (dmt). Rachmat menyebut ekspor dapat mulai dilakukan pekan ini.
Perusahaan tersebut mendapatkan rekomendasi ekspor dari Kementerian ESDM itu berlaku selama 6 bulan hingga April 2026. Adapun, penjualan ekspor konsentrat tembaga AMNT telah terhenti sejak awal 2025.
Hal ini terjadi lantaran ada perbaikan di unit Flash Converting Furnace dan Sulfuric Acid Plant. Kerusakan ini terjadi murni di luar kemampuan perseroan, tidak disengaja, dan tidak dapat dihindarkan.
Pihaknya pun tengah mempercepat penanganan perbaikan unit produksi tersebut sehingga dapat mencapai kapasitas maksimal pada 2026.
"Jadi secepatnya juga kita ingin dapatkan kapasitas produksi yang maksimal untuk smelter," tuturnya.
Di samping itu, Rachmat mengakui dari sisi keekonomian penjualan untuk smelter dalam negeri lebih menguntungkan dibandingkan penjualan ekspor. Sebab, untuk menjual konsentrat tembaga ekspor dikenakan pajak keluar.
"Kalau smelter kan, kita tidak bayar pajak ekspor. Jadi dari sisi ekonomi sebenarnya menguntungkan juga untuk tetap pakai smelter," jelasnya.
Di sisi lain, PT Freeport Indonesia disebut tengah mengalami gangguan produksi di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) di Papua Tengah.
Freeport-McMoRan Inc (FCX), induk PT Freeport Indonesia (PTFI) melaporkan bahwa insiden luncuran material basah dari bekas tambang terbuka Grasberg ke GBC pada 8 September 2025 membuat operasi penambangan dihentikan sementara.
Imbas dari kondisi tersebut, operasi peleburan PTFI berjalan dengan kapasitas terbatas karena kurangnya pasokan konsentrat tembaga.
"Kedua smelter di Indonesia saat ini berada dalam status siaga sambil menunggu ketersediaan konsentrat tembaga," ujar Presiden dan Chief Executive Officer FCX Kathleen Quirk melalui keterangan tertulis, dikutip Jumat (24/10/2025).
FCX dan PTFI, bersama para ahli eksternal, sedang menyelesaikan penyelidikan terhadap penyebab utama insiden luncuran lumpur di GBC serta mengidentifikasi langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Secara paralel, bekerja sama dengan otoritas pemerintah Indonesia, rencana produksi ke depan sedang dievaluasi dan penilaian kerusakan sedang diselesaikan.
Setelah penilaian kerusakan rampung, PTFI akan melakukan evaluasi terhadap nilai buku sejumlah aset yang terdampak untuk menentukan kemungkinan penghapusan nilainya (write-off).
Adapun, cebakan bijih GBC mewakili 50% dari estimasi cadangan terbukti dan terkira PTFI per 31 Desember 2024, serta sekitar 70% dari proyeksi produksi tembaga dan emas PTFI hingga 2029.
Freeport memperkirakan bahwa tambang Big Gossan dan Deep Mill Level Zone (DMLZ) yang tidak terdampak dapat memulai kembali operasinya pada kuartal IV/2025. Diikuti oleh pemulihan dan peningkatan produksi bertahap tambang bawah tanah GBC sepanjang 2026.
#amnt-tembaga #amman-mineral #freeport-indonesia #konsentrat-tembaga #izin-ekspor #harga-tembaga #smelter-dalam-negeri #pajak-ekspor #tambang-grasberg #produksi-tembaga #kapasitas-produksi #gangguan-pr