Bitcoin (BTC) Rebound ke 60.000 Dollar AS, Usai Pernyataan Ketua The Fed soal Inflasi
Bitcoin kembali tembus $60.000 pasca pernyataan Kevin Warsh (The Fed) yang tegaskan komitmen inflasi 2% dan bahas potensi AI mengubah ekonomi AS.
(Kompas.com) 02/07/26 06:02 265769
NEW YORK, KOMPAS.com- Harga Bitcoin kembali menembus level 60.000 dollar AS pada Rabu (2/7/2026) waktu setempat, setelah Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh menyatakan risiko inflasi telah mereda, sembari menegaskan komitmen bank sentral Amerika Serikat (AS) untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen.
Dalam diskusi panel pada forum tahunan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) di Sintra, Portugal, Warsh menolak memberikan petunjuk mengenai keputusan suku bunga The Fed berikutnya.
Menurutnya, para pembuat kebijakan masih akan membahas berbagai data ekonomi yang masuk pada pertemuan The Fed empat pekan mendatang.
Sebaliknya, Warsh menekankan bahwa fokus utama bank sentral AS tetap menjaga stabilitas harga.
“Risiko inflasi telah menurun. Jika ada rumah tangga, pelaku usaha, maupun pelaku pasar keuangan yang mengira bank sentral akan merasa nyaman dengan target inflasi di atas 2 persen, maka mereka akan kecewa. Kami akan mewujudkan stabilitas harga di Amerika Serikat,” ujar Warsh dikutip dari CoinDesk, Kamis (2/7/2026).
Pernyataan tersebut mendorong Bitcoin memangkas pelemahan yang sempat terjadi sebelumnya dan kembali diperdagangkan di atas level 60.000 dollar AS.
Berdasarkan data CoinDesk, harga aset kripto tersebut menguat lebih dari 2 persen dalam 24 jam terakhir.
Warsh juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai faktor yang berpotensi mengubah struktur perekonomian Amerika Serikat.
Ia memandang, ledakan investasi pada sektor AI saat ini mendorong peningkatan belanja modal (capital expenditure/capex) yang masih tecermin dari sisi permintaan, namun pada akhirnya diperkirakan akan memperbesar kapasitas sisi penawaran ekonomi.
Berbeda dengan periode sebelumnya ketika banyak perusahaan lebih mengandalkan rekayasa keuangan, seperti pembelian kembali saham (share buyback), kini perusahaan mulai meningkatkan investasi karena meyakini AI mampu meningkatkan kapasitas produksi.
Apabila investasi tersebut benar-benar memperluas sisi penawaran ekonomi, hal itu akan membawa implikasi yang sangat besar terhadap kebijakan moneter, meski menurut Warsh masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan tersebut.
Forum tersebut juga dihadiri Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde, Gubernur Bank Sentral Inggris (Bank of England/BoE) Andrew Bailey, dan Gubernur Bank Sentral Kanada (Bank of Canada/BoC) Tiff Macklem.
Secara umum, para pejabat bank sentral sepakat bahwa sudah saatnya bank sentral mengurangi penggunaan panduan kebijakan (forward guidance) yang terlalu eksplisit.
Lagarde mengatakan dirinya menyesali pernah merasa “terikat dan terdorong” oleh pendekatan forward guidance. Ia kini lebih memilih konsep yang disebutnya sebagai “framework guidance”, yaitu pendekatan di mana ECB menjelaskan kerangka dan pertimbangan dalam mengambil keputusan kebijakan tanpa memberikan sinyal mengenai arah suku bunga yang telah ditentukan sebelumnya.
Warsh menyampaikan pandangan serupa.
Menurut dia, prioritas utama Federal Reserve adalah menghasilkan kebijakan yang tepat.
Karena itu, apabila suatu instrumen komunikasi justru menghambat proses pengambilan keputusan terbaik, maka instrumen tersebut sebaiknya ditinggalkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang