Bela Kemenperin, Anggota DPR Ini Sebut Kritik Said Iqbal soal Industri Otomotif Tidak Tepat
Yoyok Riyo Sudibyo (DPR) membantah kritik Said Iqbal yang menuding Kemenperin tak pedulikan industri otomotif nasional.
(Kompas.com) 29/06/26 21:31 263129
JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi VII DPR RI Yoyok Riyo Sudibyo, menyebut kritik Said Iqbal yang menuding Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tidak memperhatikan industri otomotif nasional keliru.
Adapun Said merupakan Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh.
Yoyok mengatakan, kritik harus berdasar data dan fakta sehingga tidak membuat masyarakat umum maupun pelaku industri salah paham.
“Tidak tepat apabila seluruh persoalan yang dihadapi industri otomotif hari ini kemudian diarahkan seolah-olah sebagai bentuk ketidakpedulian Kementerian Perindustrian,” kata Yoyok dalam keterangan tertulisnya, Senin (29/6/2026).
Menurut Yoyok, selama ini kebijakan Kemenperin konsisten menjaga keberlanjutan industri otomotif tanah air.
Melalui kebijakan User Specific Duty Free Scheme (USDFS) yang diluncurkan 2008, skema itu berhasil merealisasikan impor 8,25 juta ton bahan baku dan komponen senilai 800 miliar dollar Amerika Serikat (AS).
Bahan baku itu diterima 57 dari total 74 industri otomotif.
Data tersebut, kata dia, menunjukkan Kemenperin terus hadir mendukung industri otomotif agar tetap kompetitif dan bertahan menghadapi tekanan global.
“Fakta ini menunjukkan bahwa dukungan pemerintah bukanlah kebijakan yang muncul sesaat ketika ada persoalan,” tutur Yoyok.
Yoyok juga mengaku tidak sepakat dengan pandangan bahwa pemerintah lambat merespons kabar relokasi atau pemindahan sejumlah industri otomotif.
Isu dua perusahaan Jepang, PT SAI dan PT JAI bakal memindahkan sebagian pabriknya ke Vietnam misalnya, tidak sesuai kenyataan.
Setelah pemerintah, manajemen, prinsipal Jepang, serikat dan pekerja melakukan dialog, pemindahan kedua perusahaan itu urung dilakukan.
“Fungsi pemerintah memang hadir ketika muncul ancaman terhadap dunia usaha maupun tenaga kerja,” ujar Yoyok.
Menurutnya, saat ini kondisi industri otomotif justru dalam kondisi baik.
Industri mobil misalnya, dilaporkan tumbuh hingga 14 persen secara tahunan (year to year) pada kuartal pertama 2026.
Kemudian, sepanjang 2025 industri komponen otomotif lokal juga mengekspor ke lebih dari 100 negara dengan nilai ekspor 7 miliar dollar AS lebih.
“Data tersebut tidak mungkin lahir apabila ekosistem industrinya buruk. Pertumbuhan produksi, ekspor, dan investasi merupakan indikator bahwa kebijakan industrialisasi yang dibangun pemerintah selama ini memberikan hasil nyata,” kata dia.
Sebelumnya, Said Iqbal mengeklaim prinsipal perusahaan otomotif di Jepang berterima kasih kepada dirinya karena telah menyuarakan isu pemindahan PT SAI dan PT JAI ke Vietnam.
Menurutnya, sebelum wacana itu menjadi isu mereka kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah.
Di sisi lain, Said mengaku menyuarakan isu itu untuk mencegah kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor industri manufaktur.
“Selama ini ini, kata manajemen, mereka merasa pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian tidak ada kepedulian terhadap persoalan-persoalan yang mereka hadapi terutama sebagai investor Jepang yang sudah lama ada di Indonesia,” kata Said dalam konferensi pers, Minggu (28/6/2026).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#yoyok-riyo-sudibyo #said-iqbal #industri-otomotif #kemenperin