Melihat Riset Solar PV Canggih CSEM Swiss: Ultra Ringan, Bisa Dipasang di Mobil hingga Dinding Bangunan
Delegasi KG Group melihat langsung riset solar PV CSEM Swiss yang dikembangkan untuk kendaraan hingga fasad bangunan.
(Kompas.com) 27/06/26 13:01 261503
NEUCHÂTEL, KOMPAS.com — Pada Jumat (26/6/2026), kawasan Eropa masih dilanda gelombang panas atau heatwave, tak terkecuali Swiss yang siang itu mencatat suhu di atas 35 derajat celsius. Di tengah cuaca panas ekstrem tersebut, delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG) Group, didampingi Minister Counsellor/Kepala Kanselerai Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Bern Dahlia Kusuma Dewi, berkesempatan mengunjungi CSEM (Pusat Elektronika dan Mikroteknologi Nasional Swiss), di Neuchâtel.
Nama panjang lembaga ini, Centre Suisse d\'Électronique et de Microtechnique. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi Swiss Center for Electronics and Microtechnology
Di laboratorium yang menjadi jembatan antara riset dan industri itu, delegasi diterima Vice President Marketing & Business Development CSEM Bahaa Roustom.
Satu per satu inovasi solar photovoltaic (PV) diperlihatkan, mulai dari panel surya ultra ringan untuk kendaraan, modul surya transparan yang dapat dipasang pada mobil, hingga panel surya yang menyatu dengan fasad bangunan sehingga dinding gedung dapat sekaligus menghasilkan listrik.
KOMPAS.com/Aprillia Ika Prototipe panel surya ultra ringan hasil pengembangan CSEM dipamerkan di laboratorium Neuchâtel, Swiss, Jumat (26/6/2026). Material yang lebih ringan memungkinkan modul diintegrasikan ke berbagai produk.
KOMPAS.com/Aprillia Ika Prototipe panel surya ultra ringan hasil pengembangan CSEM dipamerkan di laboratorium Neuchâtel, Swiss, Jumat (26/6/2026). Material yang lebih ringan memungkinkan modul diintegrasikan ke berbagai produk.Yang menarik, panel surya tersebut tidak lagi identik dengan modul kaca tebal yang hanya dipasang di atap. CSEM mengembangkan berbagai bentuk solar PV yang lebih ringan dan fleksibel sehingga dapat diintegrasikan ke berbagai produk sesuai kebutuhan industri.
Di sela kunjungan, Bahaa mengatakan teknologi energi berkelanjutan menjadi salah satu bidang yang dinilai paling berpeluang untuk dikembangkan bersama Indonesia.
"Saya melihat peluangnya ada di bidang energi dan keberlanjutan, kemudian mikroelektronika, panel surya, serta baterai," kata Bahaa.
"Saya juga akan mengatakan embedded AI, bukan AI secara umum. Yang kami maksud adalah semua teknologi AI yang tertanam di dalam chip, yang kembali berkaitan dengan mikroelektronika," lanjut pria asal Lebanon tersebut.
Menurut Bahaa, bidang-bidang tersebut memiliki nilai tambah tinggi sehingga layak dikembangkan melalui transfer teknologi.
"Teknologi seperti ini memiliki nilai yang membuat transfer teknologi layak dilakukan, meski biaya pengembangannya di Swiss relatif tinggi."
Satu Teknologi, Banyak Aplikasi
KOMPAS.com/Aprillia Ika Fasad bangunan di kompleks CSEM menggunakan teknologi building-integrated photovoltaic (BIPV) yang memanfaatkan permukaan bangunan untuk menghasilkan energi listrik dari sinar matahari.Bagi CSEM, teknologi solar PV bukan hanya ditujukan untuk menghasilkan listrik dari atap bangunan. Teknologi yang sama dapat dikembangkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kendaraan, bangunan, hingga perangkat elektronik.
Bahaa menjelaskan, selama bertahun-tahun CSEM mengembangkan satu teknologi dasar photovoltaic yang kemudian disesuaikan dengan berbagai aplikasi industri.
"Kami sudah mengembangkan photovoltaic untuk fasad bangunan, atap, hingga berbagai bentuk integrasi lainnya. Kami memahami teknologinya, lalu menyesuaikannya untuk aplikasi yang berbeda," ujarnya.
Pendekatan tersebut juga diterapkan ketika CSEM bekerja sama dengan produsen jam tangan Swiss, Tissot. Berbekal pengalaman mengembangkan teknologi photovoltaic selama bertahun-tahun, CSEM mengintegrasikan sel surya mikro ke dalam dial jam tangan sehingga mampu menghasilkan listrik untuk memasok daya perangkat. Setelah teknologinya matang, proses produksi kemudian dialihkan kepada industri.
Menurut Bahaa, kekuatan model tersebut terletak pada kemampuan memanfaatkan satu teknologi untuk melahirkan banyak produk.
"Inilah kekuatan model bisnis CSEM. Kami memiliki satu teknologi yang bisa diterapkan pada banyak aplikasi," katanya.
Fokus pada Prototipe, Bukan Produksi
KOMPAS.com/Aprillia Ika Pusat uji solar PV CSEM. Lembaga ini mengembangkan modul solar photovoltaic (PV) ultra ringan yang dirancang untuk berbagai aplikasi, termasuk kendaraan. Teknologi tersebut menjadi salah satu fokus riset energi berkelanjutan di pusat riset Swiss tersebut.Bahaa menegaskan CSEM tidak memproduksi panel surya dalam skala industri. Lembaga tersebut berperan mengembangkan teknologi hingga tahap prototipe sebelum diadopsi perusahaan untuk diproduksi secara massal.
"Kami tidak melakukan produksi dalam skala industri. Kami bahkan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan China untuk meningkatkan produk mereka."
Ia mengatakan CSEM memusatkan pengembangan pada berbagai aplikasi khusus, seperti panel surya ultra ringan, teknologi agrivoltaic atau panel surya untuk sektor pertanian, hingga panel surya yang terintegrasi dengan fasad bangunan.
"Kami fokus pada aplikasi yang sangat spesifik, seperti panel surya ultra ringan. Kami juga fokus pada bidang agrivoltaic dan membuat prototipe pertama berbagai teknologi tersebut."
Menurut dia, setelah tahap pengembangan awal selesai, proses produksi dilakukan oleh perusahaan mitra.
"Bukan tugas kami melakukan produksi. Tugas kami adalah membuat prototipe pertama."
Selain mengembangkan teknologi, CSEM juga mendampingi perusahaan rintisan hingga mampu membangun fasilitas clean room sendiri setelah sebelumnya menggunakan fasilitas milik CSEM selama lebih dari satu dekade.
Bahaa menjelaskan, perusahaan datang ke CSEM bukan karena tidak memiliki kemampuan riset, melainkan karena membutuhkan infrastruktur, pengalaman, dan teknologi yang belum mereka miliki.
"Mereka datang karena membutuhkan infrastruktur. Mereka membutuhkan teknologi yang belum mereka miliki di dalam perusahaan," ujarnya.
Kejar Efisiensi dan Umur Pakai
KOMPAS.com/Aprillia Ika CSEM mengembangkan teknologi solar photovoltaic (PV) untuk berbagai kebutuhan, mulai dari atap kendaraan, fasad bangunan, hingga aplikasi khusus lainnya. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari model transfer teknologi lembaga riset tersebut."Saat ini proses industrinya sudah ada. Tantangannya adalah bagaimana memperoleh tambahan satu, dua, atau tiga persen efisiensi."
Tantangan lainnya adalah menjaga kualitas panel surya tetap bertahan setelah bertahun-tahun terpapar sinar matahari, khususnya untuk panel yang dipasang pada fasad bangunan.
"Untuk panel surya pada fasad bangunan, tantangannya adalah mempertahankan kualitas yang sama setelah lima, enam, atau tujuh tahun terpapar sinar matahari," lanjutnya.
Karena itu, CSEM memiliki fasilitas aging test yang mampu mensimulasikan umur pakai panel surya. Melalui pengujian tersebut, peneliti tidak hanya mengetahui berapa lama modul dapat bertahan, tetapi juga memberikan rekomendasi teknis agar umur pakainya lebih panjang.
"Kami dapat mensimulasikan berapa lama modul dapat bertahan. Yang lebih penting, kami juga bisa memberi tahu apa yang harus dilakukan agar umur pakainya menjadi lebih panjang," kata Bahaa.
Kemampuan tersebut juga dimanfaatkan berbagai pemerintah daerah di Swiss ketika akan memasang instalasi panel surya baru.
"Kami bukan lembaga sertifikasi, tetapi kami bisa melakukan pengujian dan memberi tahu pemasok apa yang harus mereka lakukan untuk meningkatkan kualitas produknya."
Investasi Solar PV Terus Meningkat
KOMPAS.com/Aprillia Ika Delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG) Group saat mengunjungi CSEM di Neuchâtel, Swiss, Jumat (26/6/2026).Badan Energi Internasional (IEA), sebagaimana dikutip Kompas.com, memperkirakan investasi global di sektor panel surya mencapai sekitar 365 miliar dollar AS atau sekitar Rp 6.514 triliun pada 2026. Nilai tersebut menjadikan panel surya sebagai sektor dengan investasi terbesar di industri energi.
Selain pembangkit listrik skala besar, penggunaan panel surya rumah tangga dan sistem penyimpanan energi juga terus meningkat seiring kebutuhan masyarakat terhadap sumber listrik yang lebih stabil dan efisien.
IEA juga mencatat China mendominasi rantai pasok industri surya global dengan menguasai sekitar 95 persen kapasitas produksi wafer panel surya dunia serta sekitar 80 persen rantai pasok baterai lithium-ion global.
Skala produksi yang besar membuat biaya teknologi panel surya terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut IEA, pergeseran investasi tersebut menunjukkan sistem energi global bergerak menuju era elektrifikasi yang semakin kuat.
"Pengeluaran terkait listrik kini sudah mencakup hampir 60 persen dari seluruh investasi energi global," tulis IEA.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang