Indramayu Terlalu Dominan, Pasokan Beras Jabar Jadi Rentan
Ketergantungan Jawa Barat pada produksi beras Indramayu yang mencapai 914.305 ton pada 2025 menimbulkan risiko ketahanan pangan akibat potensi gangguan iklim.
(Bisnis.Com) 24/06/26 17:30 258753
Bisnis.com, INDRAMAYU- Ketahanan pangan Jawa Barat semakin bertumpu pada Kabupaten Indramayu. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menunjukkan produksi beras Indramayu pada 2025 mencapai 914.305 ton, tertinggi di provinsi tersebut dan jauh melampaui daerah lain.
Angka itu setara hampir tiga kali lipat produksi Kabupaten Cirebon yang berada di posisi keenam dengan 328.326 ton.
Dominasi Indramayu juga terlihat di kawasan Ciayumajakuning yang meliputi Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan. Dari total produksi beras empat daerah tersebut yang mencapai sekitar 1,67 juta ton pada 2025, lebih dari separuh atau sekitar 54% berasal dari Indramayu.
Kondisi itu menempatkan Indramayu sebagai penyangga utama pasokan beras Jawa Barat. Namun di sisi lain, tingginya ketergantungan terhadap satu daerah memunculkan risiko baru bagi ketahanan pangan regional.
Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menegaskan data statistik menjadi instrumen penting untuk membaca struktur ekonomi dan sektor strategis daerah, termasuk sektor pertanian yang menopang kebutuhan pangan masyarakat Jawa Barat.
Berdasarkan data BPS Jawa Barat, produksi beras Indramayu mencapai 914.305 ton pada 2025. Jumlah tersebut mengungguli Karawang yang memproduksi 689.925 ton dan Subang sebanyak 632.216 ton.
“Di wilayah Ciayumajakuning, jarak produksi Indramayu dengan daerah lain bahkan sangat lebar. Majalengka menghasilkan 286.576 ton, Cirebon 328.326 ton, sedangkan Kuningan hanya 144.189 ton.” kata Margaretha, Rabu (24/6/2026).
Selain produksi, kata Margaretha, Indramayu juga menjadi kabupaten dengan luas panen terbesar di Jawa Barat. Pada 2025, luas panen padi di daerah itu mencapai 239.498 hektare. Angka tersebut lebih tinggi dibanding Karawang 202.293 hektare dan Subang 184.319 hektare.
Menurutnya, ketika produksi beras Jawa Barat sangat bergantung pada Indramayu, gangguan iklim seperti kekeringan panjang, banjir besar, serangan organisme pengganggu tanaman, maupun kerusakan infrastruktur irigasi berpotensi langsung memengaruhi pasokan beras regional.
Dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga dapat menjalar ke rantai distribusi, stabilitas harga pangan, hingga tingkat inflasi daerah.
“Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena cuaca ekstrem semakin sering terjadi. Karena itu, ketergantungan berlebihan terhadap satu sentra produksi menjadi tantangan tersendiri bagi upaya menjaga ketahanan pangan jangka panjang,” tuturnya.
Selain itu, Data BPS menunjukkan sejumlah daerah lain mulai mengalami peningkatan produksi beras pada 2025. Cianjur mencatat produksi 462.410 ton, Sukabumi 381.200 ton, dan Cirebon 328.326 ton.
Peningkatan produksi di daerah-daerah tersebut dapat menjadi modal untuk memperkuat struktur pangan Jawa Barat agar tidak terlalu terkonsentrasi pada satu wilayah.
Penguatan jaringan irigasi, perlindungan lahan sawah produktif, peningkatan indeks pertanaman, serta pemanfaatan teknologi pertanian menjadi faktor penting untuk mendorong pemerataan produksi.
“Meski demikian, hingga saat ini Indramayu masih menjadi tulang punggung utama pangan Jawa Barat. Dengan kontribusi lebih dari separuh produksi beras Ciayumajakuning dan produksi yang menembus 914 ribu ton per tahun, setiap perubahan kondisi pertanian di daerah tersebut berpotensi memberi dampak langsung terhadap ketersediaan beras di Jawa Barat,” katanya.
#beras-indramayu #ketahanan-pangan #produksi-beras #pasokan-beras #jawa-barat #dominasi-indramayu #ciayumajakuning #statistik-bps #luas-panen #gangguan-iklim #distribusi-beras #harga-pangan #inflasi-da