Kemenko Pangan: Petani aktor transformasi pertanian rendah emisi
Kementerian Koordinator Bidang Pangan menegaskan petani harus menjadi aktor utama dalam transformasi sektor pertanian menuju sistem produksi pangan yang ...
(Antara) 24/06/26 11:26 258263
Denpasar (ANTARA) - Kementerian Koordinator Bidang Pangan menegaskan petani harus menjadi aktor utama dalam transformasi sektor pertanian menuju sistem produksi pangan yang rendah emisi dan berkelanjutan.
Direktur Bidang Produksi Pangan dan Perubahan Iklim Kementerian Koordinator Bidang Pangan Fajar Nuradi di Denpasar, Rabu, mengatakan keberhasilan pengurangan emisi di sektor pertanian tidak hanya bergantung pada teknologi dan kebijakan, tetapi juga pada kemampuan petani sebagai pelaku utama di lapangan.
"Petani bukan hanya objek kebijakan, tetapi aktor utama dalam transformasi ini. Karena itu pembangunan kapasitas petani menjadi sangat penting," ujar Fajar dalam forum internasional pertukaran Pengetahuan tentang Teknologi Mutakhir untuk Sistem Padi dan Peternakan Rendah Emisi FSIP-FOLUR Dialog Global Kedua tentang Transformasi Beras Berkelanjutan di Sanur, Denpasar, Bali.
Penguatan kapasitas petani, dukungan teknologi, dan akses pembiayaan iklim dinilai menjadi kunci dalam mewujudkan sistem pangan yang produktif sekaligus ramah lingkungan.
Menurutnya, petani perlu didukung dengan kemampuan mengoperasikan teknologi modern sekaligus memahami pemanfaatan data untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
Pemerintah saat ini terus mendorong penggunaan berbagai inovasi seperti drone, sensor jarak jauh, serta sistem pemantauan digital untuk mendukung pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Fajar menjelaskan, Indonesia memiliki kepentingan besar dalam pengembangan pertanian rendah emisi mengingat beras merupakan fondasi ketahanan pangan nasional.
Di sisi lain, budidaya padi juga menjadi salah satu penyumbang emisi metana terbesar di sektor pertanian.
Karena itu, penerapan teknologi rendah emisi dinilai mampu memberikan manfaat ganda, yakni menekan emisi gas rumah kaca sekaligus meningkatkan produktivitas, efisiensi penggunaan air, dan ketahanan sektor pertanian terhadap dampak perubahan iklim.
Selain penguatan kapasitas petani, pemerintah juga mendorong peningkatan akses pembiayaan iklim.
Menurut Fajar, hingga saat ini porsi pembiayaan iklim global yang mengalir ke petani kecil dan sektor pertanian masih sangat terbatas.
Untuk memperluas akses pendanaan, Indonesia mengembangkan G20 Bali Global Blended Finance Alliance (GBFA) yang bertujuan menghimpun sumber pembiayaan dari pemerintah, sektor swasta, filantropi, hingga lembaga internasional guna mendukung berbagai program aksi iklim.
"Kita membutuhkan dukungan pembiayaan yang lebih besar agar inovasi dan teknologi dapat benar-benar diterapkan oleh petani di lapangan," katanya.
Ia menambahkan, transformasi pertanian masa depan juga membutuhkan sistem pemantauan emisi yang lebih akurat melalui teknologi digital, termasuk pemanfaatan blockchain untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas program.
Fajar menegaskan upaya membangun sistem pangan berkelanjutan harus dilakukan secara kolaboratif dengan menempatkan petani sebagai pusat perubahan.
"Transformasi ini bukan hanya soal teknologi dan keuangan, tetapi bagaimana membangun kepercayaan dan kerja sama untuk menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan," ujarnya.
Pewarta: Rolandus Nampu
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
#kemenko-pangan #teknologi-pertanian #pertanian-rendah-emisi #transformasi-pertanian #pertanian-bali