Harga Gas Melonjak, Industri Keramik Peringatkan Ancaman PHK 55.000 Pekerja

Harga Gas Melonjak, Industri Keramik Peringatkan Ancaman PHK 55.000 Pekerja

Industri keramik mengeluhkan pasokan gas yang terus menyusut. Pelaku usaha memperingatkan risiko PHK hingga 55.000 pekerja.

(Kompas.com) 23/06/26 20:14 257769

JAKARTA, KOMPAS.com - Industri keramik nasional menghadapi tekanan akibat menurunnya pasokan gas industri. Pelaku usaha menilai kondisi ini menggerus daya saing dan mengancam keberlangsungan operasional pabrik.

Ketua Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto mengatakan, pasokan gas dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) terus menurun sepanjang Januari hingga Mei 2026.

Realisasi Alokasi Gas Industri Tertentu (AGIT) hanya mencapai 47,5 persen. Kekurangan pasokan harus ditutupi melalui regasifikasi LNG dengan harga yang jauh lebih mahal.

Harga LNG regasifikasi saat ini mencapai sekitar 20,5 dollar AS per MMBTU. Kondisi itu membuat industri keramik menanggung biaya gas rata rata 15 dollar AS hingga 16 dollar AS per MMBTU.

Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan harga gas bumi tertentu (HGBT) sebesar 7 dollar AS per MMBTU.

“Daya saing industri akan terus tergerus dan utilisasi kapasitas produksi akan menurun,” ujar Edy dalam keterangan tertulis, Selasa (23/6/2026).

Menurut Edy, informasi terbaru dari PGN menunjukkan realisasi AGIT pada Juni 2026 berpotensi turun hingga di bawah 30 persen.

ASAKI menegaskan persoalan yang dihadapi bukan hanya terkait harga gas, melainkan keberlangsungan industri keramik nasional secara keseluruhan.

Industri keramik yang tergabung dalam ASAKI disebut menyerap sekitar 150.000 tenaga kerja dan menopang investasi bernilai besar.

“Kami tidak meminta keistimewaan. Yang dibutuhkan adalah kepastian ketersediaan pasokan gas dengan harga kompetitif agar industri dapat tumbuh, menyerap tenaga kerja, dan terus berkontribusi terhadap perekonomian nasional,” paparnya.

ASAKI menilai industri masih mampu bertahan jika harga gas rata rata berada di kisaran 7 dollar AS hingga 9 dollar AS per MMBTU. Kisaran tersebut setara dengan harga gas industri di Malaysia dan Thailand.

Target itu dinilai bisa tercapai jika realisasi AGIT minimal mencapai 80 persen, sementara sisanya dipenuhi melalui LNG.

Keluhan serupa disampaikan Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) Yustinus Gunawan.

Menurut dia, ketidakpastian pasokan gas membuat pelaku industri berada dalam situasi sulit dan mengganggu aktivitas produksi.

“Satu-satunya cara adalah realisasi pasokan gas bumi minimal 80 persen dari volume yang ditetapkan dalam Kepmen ESDM Nomor 76.K/2025,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang diterima FIPGB, realisasi AGIT saat ini hanya sekitar 27,5 persen dari alokasi yang ditetapkan dalam keputusan tersebut.

Sementara itu, penggunaan gas di luar AGIT dikenakan tarif sekitar 20 dollar AS per MMBTU mulai Juni 2026.

Persoalan tersebut turut mendapat perhatian Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad.

Saat menghadiri Rapat Kerja Nasional Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia di Jakarta, Dasco langsung menghubungi Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri di hadapan peserta rapat.

Dalam percakapan itu, Dasco menyampaikan persoalan gas industri telah menjadi isu serius yang memengaruhi berbagai sektor usaha.

“Saya tadi ditanyakan mengenai masalah gas industri. Persoalan ini sudah menjadi perhatian,” kata Dasco.

Menanggapi hal tersebut, Simon menyatakan Pertamina akan segera berkoordinasi dengan PGN untuk mencari jalan keluar.

“Kami akan segera berkoordinasi dengan PGN dan berkomitmen melakukan penyesuaian agar persoalan ini dapat diselesaikan,” ungkap Simon.

Dasco juga mengungkapkan ancaman terhadap sektor ketenagakerjaan akibat tingginya biaya gas.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) mencapai sekitar 55.000 pekerja di sejumlah pabrik keramik di Bekasi.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea mengatakan, harga gas industri melonjak signifikan dari sekitar 6 dollar AS menjadi 23 dollar AS per MMBTU.

Menurut dia, dampaknya mulai dirasakan industri keramik dan sejumlah perusahaan menghadapi tekanan berat.

“Dua pabrik besar anggota kami di Bekasi sudah tutup. Granito, Milan Keramik, dan Mulia Keramik juga terancam akibat persoalan gas industri. Ini sangat berbahaya,” kata Andi.

Ia menambahkan, koordinasi telah dilakukan dengan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan berharap solusi segera ditemukan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#keramik #industri-keramik #harga-gas-melonjak #harga-gas-naik

https://money.kompas.com/read/2026/06/23/201417526/harga-gas-melonjak-industri-keramik-peringatkan-ancaman-phk-55000-pekerja