AI Jadi Game Changer Industri Fintech, Ini 3 Kunci Suksesnya

AI Jadi Game Changer Industri Fintech, Ini 3 Kunci Suksesnya

AI menjadi fondasi utama di fintech, meningkatkan efisiensi dan keamanan. Kunci suksesnya: infrastruktur mandiri, talenta AI, dan tata kelola yang kuat.

(Bisnis.Com) 19/06/26 14:57 254526

Bisnis.com, JAKARTA - Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi sarana penting bagi perusahan teknologi finansial untuk memacu pertumbuhan. Adopsi AI dinilai mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat sistem deteksi fraud dan penilaian risiko. Tren ini menempatkan AI bukan lagi sebagai teknologi pendukung, melainkan fondasi utama dalam menjaga daya saing di tengah pertumbuhan transaksi pembayaran digital yang kian masif.

Wulung Anggara Hanandita selaku VP of Data Platform and Data Science DANA mengungkapkan bahwa untuk memaksimalkan AI dalam perusahaan teknologi finansial, terdapat tiga pilar yang menjadi prinsip pada perusahaan tempat ia bekerja.

“Pertama kita harus punya infrastruktur dan teknologi yang harus berdiri sendiri. Kedua kita harus punya talentanya, dan yang terakhir harus ada yang mengaturnya agar penggunaannya tepat sasar,” ujarnya dalam panel diskusi pada seminar Indonesia Ethical AI Summit: Navigating AI Development: Innovation, Humanity, and Governance, Rabu (17/6/2026).

Dia menguraikan, harus ada hubungan teknologi ataupun infrastruktur yang mumpuni untuk menjalankan AI yang baik, aman, dan sesuai. Di DANA, lanjutnya, semua karyawan yang menggunakan AI akan terhubung dengan AI gateway sehingga semua karyawan pengguna AI di perusahaan harus melewati gerbang tersebut. Tujuannya untuk mempercepat inovasi, meningkatkan operasional, sambil tetap memastikan kualitas layanan tetap terjaga di tengah pertumbuhan kebutuhan pengguna yang dinamis.

Selain itu, DANA juga mengembangkan AI yang berjalan di atas GPU (Graphics Processing Unit) milik sendiri. Hal ini penting karena penggunaan GPU milik sendiri menunjukkan kedaulatan atas penyimpanan dan pemrosesan data kita sendiri.

“Kedaulatan AI bergantung pada kepemilikan GPU, terutama di industri finansial yang mengelola data dengan privasi tinggi. Tidak akan mungkin kita bisa berdaulat kalau kita harus selalu mengirimkan infrensi kita ke luar negeri,” tambahnya.

Selain teknologi, juga dibutuhkan talenta yang memahami tentang kecerdasan buatan. DANA, ucapnya, memiliki talenta-talenta yang mumpuni dan sangat memahami seluk beluk AI. Sebagai contoh, dalam pekerjaan coding, pihaknya menggunakan AI, namun ada proses supervisi lanjutan yang dilakukan oleh talenta-talenta yang dimiliki DANA.

Sementara pilar ketiga yakni tata kelola atau governance, baik dalam tata kelola data maupun yang baru saja dibuat, tata kelola AI. Penataan ini tuturnya bertujuan untuk melakukan edukasi termasuk penerapan etika penggunaan AI.

Pada kesempatan itu, dia juga mengatakan bahwa DANA, memperketat tata kelola input serta proses data guna memastikan implementasi teknologi kecerdasan buatan berjalan optimal dan menghasilkan keputusan finansial yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat.

Bias Algoritma

DANA berupaya keras memitigasi risiko bias algoritma yang berpotensi merugikan konsumen dalam ekosistem keuangan digital. Menurutnya, pengendalian algoritma dalam pengembangan teknologi masa kini memegang peranan krusial. Analogi dampak teknologi ini bahkan disetarakan dengan kekuatan besar pada era sebelumnya yang mampu mengarahkan peradaban manusia ke arah positif maupun negatif.

“Jadi perlu dipahami bagaimana dampaknya, termasuk pada kredit scoring,” kata Wulung.

Menurutnya, ekosistem teknologi memerlukan talenta dan kepemimpinan kuat untuk menempatkan personel yang tepat di waktu yang tepat demi mengeliminasi bias.

Selain kapabilitas sumber daya manusia, perusahaan menerapkan teknik fungsional tertentu untuk mengikis kesalahan keputusan sistem digital. Landasan paling mendasar dari seluruh rangkaian proses ini bertumpu pada tata kelola data yang kokoh.

Kecerdasan sistem kecerdasan buatan sangat bergantung pada kualitas informasi yang diterima oleh model tersebut. Jika sebuah entitas perusahaan memasukkan data mentah seperti nama kabupaten atau jenis profesi secara naif tanpa penyelarasan matang ke dalam sistem penilaian kredit (credit scoring), terdapat risiko kelompok masyarakat tertentu akan tersingkir secara otomatis dari pantauan teknologi. Di sisi lain, perkembangan teknologi global memunculkan berbagai karakteristik unik dari tiap kawasan. Wulung merujuk pada sebuah ungkapan mengenai dinamika inovasi global di mana Amerika Serikat dikenal dengan kemampuan inovasinya, Tiongkok unggul dalam melakukan replikasi, sedangkan Eropa memimpin dalam perumusan regulasi.

Dalam menggarap Agentic AI, DANA mengadopsi dan menyatukan ketiga aspek ekosistem global tersebut untuk diterapkan di Indonesia. Para pelaku industri domestik dinilai tidak dapat melahirkan inovasi yang berkelanjutan tanpa memperhatikan ketiga pilar ini secara seimbang.

Perusahaan menyampaikan harapan besar mengenai pengelolaan AI ke depan agar pelaku industri lokal mampu menggabungkan aspek inovasi dan replikasi demi menghasilkan efisiensi ekonomi yang jauh lebih baik. Kombinasi tersebut dinilai belum cukup tanpa kehadiran payung hukum yang memadai dari regulator. Sektor finansial menjadi salah satu industri yang wajib diatur secara ketat mengingat perputaran modal dan risiko konsumen di dalamnya sangat tinggi. DANA berharap regulasi yang ideal ke depan harus berada di titik keseimbangan agar tidak menghambat ruang gerak industri.

#ai-fintech #teknologi-ai #kecerdasan-buatan #ai-dalam-fintech #ai-dan-efisiensi #deteksi-fraud-ai #penilaian-risiko-ai #ai-gateway #gpu-ai #kedaulatan-ai #talenta-ai #tata-kelola-ai #bias-algoritma #k

https://teknologi.bisnis.com/read/20260619/84/1981895/ai-jadi-game-changer-industri-fintech-ini-3-kunci-suksesnya