Perbankan Pasang Kuda-Kuda Hadapi Era Bunga Tinggi
Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan ke 5,75% untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global. Bank-bank menyesuaikan strategi menghadapi biaya dana yang meningkat.
(Bisnis.Com) 19/06/26 11:15 254323
Bisnis.com, JAKARTA — Manuver Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan BI Rate ke level 5,75% memaksa industri perbankan memutar otak menyiasati ancaman bengkaknya biaya dana dan kredit.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 17–18 Juni 2026 resmi menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin. Langkah ini menebalkan sinyal pengetatan moneter.
Gubernur BI Perry Warjiyo beralasan, keputusan tersebut diambil demi meredam gejolak nilai tukar rupiah di tengah kepungan ketidakpastian global, sekaligus mengawal target inflasi 2,5±1% pada 2026 hingga 2027.
Kebijakan ini memperpanjang tren rezim suku bunga tinggi. Padahal, bank sentral sempat melonggarkan sabuk moneter dengan memangkas suku bunga acuan dari 6,25% menjadi 4,75% pada penghujung 2025.
Namun, cuaca buruk di pasar eksternal memaksa otoritas moneter putar haluan. Sepanjang tahun ini, BI Rate melesat 100 basis poin secara kumulatif.
Dampaknya, biaya dana (cost of fund) perbankan terancam bengkak, memicu perang sengit memperebutkan dana pihak ketiga.
Seiring dengan hal ini, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Riduan mengaku masih menakar efek dari keputusan bank sentral sebelum mengutak-atik suku bunga kredit.
Kebijakan bank berlogo pita emas ini nantinya akan sangat bertumpu pada laju aliran dana masyarakat ke brankas perusahaan.
“Yang namanya menaikkan suku bunga atau tidak, tergantung dengan cara kita mendapatkan funding di masyarakat,” ujarnya saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Meski patuh pada ritme yang didiktekan otoritas, Bank Mandiri enggan buru-buru membebani nasabah dengan bunga pinjaman yang lebih tinggi.
“Nanti lah kita lihat situasi. Ini baru sebulan, impact-nya baru terasa berikutnya,” katanya.
Di tengah pasang-surut kebijakan moneter, Riduan mengklaim laju bisnis Mandiri hingga pertengahan 2026 belum melenceng dari Rencana Bisnis Bank (RBB).
“Kami masih on track untuk RBB yang kita jalankan. Nanti ada beberapa koreksi sejalan dengan situasi market,” ujarnya.
Pertahanan aset pun diklaim kokoh. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) masih tertekan di bawah level satu persen.
“Mandiri rendah kan NPL-nya, 0,97%. Jadi sampai hari ini tren vintage, kualitasnya masih bagus,” katanya.
Sementara itu, PT Bank Oke Indonesia Tbk. Direktur Kepatuhan Bank Oke, Efdinal Alamsyah, menilai kenaikan 25 basis poin ini tak lagi mengejutkan karena sudah terbaca oleh radar pasar.
Dia pun tak menampik bahwa ruang likuiditas yang menyempit akan memanaskan kompor kompetisi penghimpunan dana.
"Namun, suku bunga yang lebih tinggi tetap berpotensi meningkatkan biaya dana dan memperketat persaingan penghimpunan dana pihak ketiga," katanya kepada Bisnis, Kamis (18/6/2026).
Mengakali situasi ini, Bank Oke memilih jalan aman yakni menyalurkan kredit secara selektif dengan profil risiko terukur, meracik produk simpanan yang kompetitif, serta menjaga benteng likuiditas.
Di sisi lain, EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menilai keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan ke level 5,75% merupakan langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
BCA menyebut akan terus memantau perkembangan suku bunga acuan bersama berbagai indikator lain seperti kondisi makroekonomi, risiko, persaingan industri, likuiditas perbankan, dan permintaan kredit.
Berbagai faktor tersebut dinilai akan menjadi pertimbangan dalam menentukan arah suku bunga, baik untuk produk kredit maupun pendanaan.
"Faktor-faktor tersebut akan memengaruhi pergerakan suku bunga baik di sisi kredit maupun di sisi pendanaan," tuturnya.
Di mata analis, langkah agresif BI adalah sebuah keniscayaan. Ekonom Senior sekaligus Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto menyebut manuver hawkish ini sebagai taktik pre-emptive dan ahead the curve.
Bank sentral harus melangkah antisipatif menjinakkan tekanan eksternal, meski di seberang sana The Federal Reserve Amerika Serikat masih menahan suku bunga di kisaran 3,5–3,75%.
Dia meminta pelaku industri dan pasar modal tidak reaktif menyikapi pil pahit moneter ini.
“Yang diperlukan adalah sikap tenang dan terkendali dari semua unsur pemangku kepentingan karena situasi dan kondisi saat ini secara rasional objektif membutuhkan langkah extraordinary yang sifatnya temporer dari BI sebagai otoritas moneter,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (18/6/2026).
Ryan memproyeksikan tensi suku bunga baru bisa melandai ke level 4,5% sampai dengan 5,0% jika kabut sentimen negatif global, termasuk konflik di Iran, mulai menipis dan harga minyak dunia kembali jinak di kisaran US$70–US$72 per barel.
Sembari menunggu badai reda, dia ingin pemerintah meracik kebijakan fiskal yang lebih akomodatif lewat realokasi anggaran yang tepat sasaran.
Sinkronisasi mesin moneter dan fiskal, menurutnya, menjadi kunci utama untuk menjaga urat nadi ekonomi tetap berdenyut sehat.
#bank-indonesia #suku-bunga #bi-rate #industri-perbankan #biaya-dana #kredit-perbankan #pengetatan-moneter #nilai-tukar-rupiah #inflasi-2026 #tren-suku-bunga-tinggi #biaya-dana-perbankan #dana-pihak-ke