Alasan MSCI Pertahankan Indonesia di Emerging Market? Ini Penjelasannya
Dengan demikian, pasar modal Indonesia tidak mengalami penurunan status menjadi Frontier Market.
(Kompas.com) 19/06/26 06:44 254043
JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga provider global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), tetap mempertahankan Indonesia dalam kelompok Emerging Market berdasarkan hasil tinjauan Global Market Accessibility Review 2026 yang dirilis Jumat dini hari (19/6/2026) WIB.
Dengan demikian, pasar modal Indonesia tidak mengalami penurunan status menjadi Frontier Market.
Co-Founder PasarDana sekaligus praktisi pasar modal, Hans Kwee, menilai keputusan MSCI sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi dan bursa yang masih relatif kuat saat ini. Ia mencatat, MSCI memiliki metodologi tersendiri dalam menentukan bobot suatu negara maupun saham dalam indeksnya.
Oleh karena itu, perubahan posisi suatu negara dalam indeks tidak selalu mencerminkan perubahan fundamental ekonomi.
MSCI sendiri merupakan penyedia indeks global yang menjadi acuan bagi banyak dana investasi pasif (passive fund) di dunia.
Dana-dana tersebut menempatkan investasi berdasarkan komposisi indeks yang disusun MSCI, bukan semata-mata berdasarkan analisis fundamental masing-masing negara.
“Ya ini kan gini, MSCI itu adalah indeks provider, nah mereka menjadi acuan banyak passive fund, passive fund itu mereka masuk ke satu negara mengikuti indeks, jadi mereka tidak dalam aspek fundamental yang mereka lihat 100 persen, tapi mereka percayakan pada Indeks provider tadi,” ujar Hans saat dihubungi Kompas.com.
Sebagai penyedia indeks global, MSCI memiliki metodologi tersendiri dalam menentukan bobot masing-masing negara dan saham di dalam indeksnya. Metodologi tersebut digunakan untuk menghitung seberapa besar porsi suatu negara maupun emiten dalam indeks yang menjadi acuan investor global.
Apabila posisi Indonesia dalam indeks mengalami penurunan, dampaknya lebih kepada berkurangnya bobot Indonesia dalam indeks tersebut sehingga berpotensi mempengaruhi alokasi dana investor yang mengikuti indeks MSCI. Namun, kondisi itu tidak berarti fundamental ekonomi maupun kinerja perusahaan-perusahaan Indonesia memburuk.
Perubahan tersebut lebih merupakan konsekuensi dari perhitungan teknis dalam metodologi indeks yang digunakan MSCI. Artinya, perubahan bobot suatu negara dalam indeks tidak selalu mencerminkan perubahan kondisi fundamental, melainkan bisa terjadi karena penyesuaian teknis berdasarkan kriteria dan formula yang ditetapkan MSCI.
“Nah kalau seandainya kita tertekan turun, ya itu berarti ada potensi bobot kita berkurang, nah sebagai catatan bahwa fundamental kita nggak berubah, cuma ini adalah teknis perhitungan metodologi indeks saja yang menyebabkan hal itu terjadi,” paparnya.
Meski demikian, Hans sejak awal meyakini Indonesia tidak akan turun ke kategori Frontier Market.
Alasan pertama adalah ukuran ekonomi dan pasar modal Indonesia yang masih jauh lebih besar dibandingkan banyak negara berkembang lainnya.
“Kenapa saya bilang kita tidak akan turun ke Frontier Market? Pertama karena size ekonomi dan size pasar kita. Semua kondisi yang ada menunjukkan Indonesia akan tetap berada di Emerging Market,” pungkas dia.
Baginya, kontraksi pasar modal yang terjadi sebelumnya tidak sepenuhnya rasional karena lebih dipengaruhi sentimen eksternal daripada perubahan fundamental ekonomi maupun kinerja emiten.
Menurutnya, tekanan pasar saat itu terutama dipicu konflik di Timur Tengah yang memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak dan penguatan dollar Amerika Serikat (AS) sebagai aset safe haven, sehingga memicu aksi jual di berbagai pasar keuangan, termasuk Indonesia.
“Saya menyampaikan penurunan pasar tidak rasional, kenapa tidak rasional? Penurunan pasar driven (digerakkan) oleh konflik di Timur Tengah yang berimbas pada kelangkaan pasokan minyak, kenaikan harga minyak, dan penguatan dolar sebagai safe haven,” ucap Hans.
Namun, sentimen negatif tersebut mulai mereda setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU).
Selain itu, potensi kembali normalnya jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz turut mendorong penurunan harga minyak dunia. Perkembangan tersebut memberikan sentimen positif bagi pasar karena berkurangnya risiko gangguan pasokan energi global.
Sentimen negatif lain yang juga membayangi pasar keuangan domestik adalah prospek suku bunga yang lebih tinggi dalam beberapa waktu ke depan. Sejumlah bank sentral utama dunia telah memulai atau melanjutkan siklus pengetatan kebijakan moneter untuk meredam inflasi yang masih tinggi.
Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of Japan (BOJ) telah menaikkan suku bunga, sementara Federal Reserve (The Fed) diperkirakan baru akan mengambil langkah serupa pada akhir tahun, kemungkinan pada Desember 2026.
Dari dalam negeri, Hans menilai kekhawatiran investor sempat muncul akibat menyusutnya surplus perdagangan Indonesia. Namun, kondisi tersebut terutama dipicu tingginya impor bahan bakar minyak (BBM). Dengan tren harga minyak dunia yang mulai menurun, ia memperkirakan impor energi akan berkurang sehingga neraca perdagangan berpotensi membaik.
Selain itu, pasar juga sempat dibayangi isu terkait ekspor satu pintu lewat Danantara, yang menurut Hans telah dijelaskan pemerintah sebagai persoalan administratif sehingga kekhawatiran investor mulai mereda.
Isu lain yang sempat berkembang adalah kemungkinan Indonesia diturunkan MSCI ke kategori Frontier Market.
“Kalau soal downgrade MSCI ke Frontier Market, saya rasa memang tidak akan terjadi,” lanjut dia.
Hans juga menyinggung kekhawatiran pasar terhadap potensi penurunan peringkat utang Indonesia oleh Standard & Poor’s (S&P), baik melalui revisi outlook maupun penurunan peringkat hingga keluar dari kategori investment grade.
Namun, berdasarkan informasi yang diperoleh, S&P justru masih memandang positif prospek Indonesia sehingga tidak terjadi perubahan peringkat.
Sementara terkait tata kelola BUMN dan Danantara, Hans menilai pemerintah perlu menjaga independensi pengelolaan perusahaan serta menjelaskan strategi bisnis ke depan secara lebih terbuka kepada investor.
Di sisi fiskal, pasar sebelumnya mengkhawatirkan potensi pelebaran defisit anggaran. Namun pemerintah berencana mengevaluasi berbagai program, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes).
“Dengan perkembangan itu, sentimen pasar menjadi relatif lebih positif. Jadi kalau kita lihat pelemahan pasar saat ini sebenarnya normal karena pasar global juga sedang melemah. Tidak seperti sebelumnya ketika pasar global naik tetapi Indonesia justru turun sendiri,” katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#pengumuman-msci #hasil-msci-hari-ini #pengumuman-msci-ihsg #berita-msci #pengumuman-msci-hari-ini